
Terlelap dalam buaian alam bawah sadar, kini keduanya bangun sebelum waktu subuh tiba. Meski sudah bangun tapi keduanya masih nyaman di bawah balutan selimut tebal.
Ombak bergulung menyapu daratan bisa dengan jelas Nuri lihat dari dalam kamar hotel.
Dengan posisi Hotel berada di bukit, pemandangan luar terlihat sangat jelas. Ingin sekali Nuri keluar menikmati suasana di luar sana namun sayang, tertahan dengan pakaian yang di pakaiannya.
"Mas, jam berapa kita pulang?" tanya Nuri saat Agung telah melipat sajadahnya.
"Kenapa?' tanya Agung datar.
"Bagaimana dengan pakaianku? Apakah baju kemarin aku pakai lagi?" Wajah kusut Nuri membuat Agung semakin gemas.
Lelaki itu dengan sigap naik keatas kasur, duduk disamping Nuri. Memeluk tubuh rampingnya lalu menenggelamkan dalam ceruk leher Nuri.
"Kamu tenang saja, aku bahkan sudah membeli semua keperluanmu, tanpa terkecuali," bisik Agung.
Nuri mengernyitkan dahinya. Tanpa terkecuali, berarti... lalu dimana Agung menyimpan semuanya.
"Tuh, lihat di paper bag!" Agung menunjukkan kearqh paper bag berjejer di lantai dekat jendela.
Sejak kapan barang itu ada disana?
"Mas yang beli," tanya Nuri heran, pasalnya sejak kemarin mereka selalu bersama sama tapi Agung tak ada sedikit pun membeli sesuatu. Seingatnya hanya membeli satu setel baju untuk Agung dan daster yang Nuri kenakan sekarang.
"Gak! tadi malam menyuruh pelayan holet untuk membelinya," ucap Agung santai.
"Apa?" Nuri terkejut. Membalikkan badan menatap Agung. "Tanpa terkecuali berarti..." Nuri menutup mulutnya tak percaya.
"Iya," jawab Agung terkekeh.
"Sudah sana mandi! kita akan keluar jalan jalan di pinggir pantai," titahnya kemudian.
Nuri pun berjalan meninggalkan Agung. Pikirannya masih belum bisa percaya atas kelakuannya sang suami tanpa sepengatahuannya.
ihh, dasar Mr A. Mau di letakan dimana mukaku nanti. Ibu aja gak pernah belikan dalaman, karena aku malu. Ah... Mas aku malu tahu.
__ADS_1
Sepanjang Nuri mengguyur badan, merutuki kecerobohan suaminya yang seenak jidat menyuruh orang tanpa sepengetahuannya.
Nuri keluar kamar mandi menggunakan pakaian yang telah dibelikan oleh pelayan suruhan Agung.
Semua sesuai dengan ukuran badan Nuri.
Bagaimana penutup gunungnya bisa begitu pas.
Ah, mungkin hanya sebuah kebetulan saja.
"Bagaimana? pas bukan ukuran yang ku pilihkan?"
Agung menatap lekat tubuh Nuri yang belum sempat berhijab.
"Maksud, Mas?" tanya Nuri bingung.
Agung berjalan mendekat, matanya tertuju kedepan dada Nuri. Meraih dagu Nuri, memiringkan wajahnya dan... cup. Awalnya hanya kecupan biasa namun, Agunge mengulanginya lagi. Kali itu bukan kecupan singkat namun, ******* lembut berdurasi lehih dari 19 detik.
Nuri tersadar dan mendorong pelan tubuh Agung.
Agung terkekeh lalu merapikan rambutnya.
"Baiklah, ayo jalan jalan sebelum kiga pulang!" ajak Agung.
Berjalan sepanjang pinggir pantai, keduanya saling menggenggam tangan. Agung dan Nuri terlihat begitu bahagia menikmati udara segar di tepian pantai dengan ombak yang menyapu kedua kaki mereka.
....
Terasa lelah, meski perjalanan tidak begitu jauh.
Sesampainya di rumah, Nuri segera merebahkan tubuhnya di ranjang king size di kamar Agung.
Hari ini ia ingin beristirahat tanpa ada yang mengganggu.
Sementara Agung, lelaki itu telah meninggalkan rumah, kala Nuri mengatakan ingin istirahat di kamar.
__ADS_1
Kini waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Setelah menyegarkan diri, Nuri turun ke bawah. Melihat keadaan sunyi, ia pun menghampiri mbak Mar yang berada di halaman belakang.
Dengan berdendang lagu campursari, mbak Mar menyirami tanaman milik majikan yang tumbuh subur di sebuah taman kecil belakang rumah.
"Mbak, lihat mas Agung?" tanya Nuri secepatnya.
Mbak Mar menoleh. "Tadi si Mas keluar, Mbak. Memang gak pamit sama mbak Nuri?" tanya mbak Mar. Dengan bibir manyun, Nuri menggeleng.
"Lah, memang kebangetan tuh si Mas," gerutu Mbak Mar.
Nuri berjalan kembali, masuk kedalam lalu merebahkan diri di sofa panjang. Berpikir, kemana perginya sang suami tanpa memberitahu dirinya.
Meraih ponsel, lalu mendial nama Agung namun sayang tak tersambung.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pergi tanpa pamitan sama istri, awas kena lalat, eh kena azab 😀😀😀
Tap Like, tinggalkan jejak.
Besok uthor ada kegiatan jadi kemungkinan Upnya hanya 1 Bab ya.
__ADS_1