Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Mencairkan Es Beku


__ADS_3

Siang ini Agung sengaja standby lebih awal sebelum Nuri menunggunya. Meski hanya diam di dalam mobil namun, mata Agung selalu tertuju pada gerbang kampus. Sudah satu jam ia menunggu disana. Hari ini jadwal ia ngajar hanya dua kelas saja.


Lamat lamat, terlihat Nuri tengah berjalan bersama seorang perempuan dan seorang laki laki. Agung berpikir sejenak, mengingat sosok lelaki yang tengah tertawa ria bersam Nuri.


Di seberang sana, Nuri meraih ponselnya yang bergetar. Ekor mata Nuri segera mencari cari dimana letak parkir mobil suaminya.


"Rian, Ara, aku duluan ya, udah di tunggu," ucap Nuri.


Jika Zahra hanya memgangguk saja, berbeda dengan Rian yang mengernyitkan dahi.


"Kamu dijemput?" tanya Rian seketika.


Nuri hanya mengngguk, melambaikan tangan lalu berjalan meninggalkan kedua temannya.


Rian dan Nuri, keduanya sudah banyak bercakap dalam jam kelas selanjutnya. Dosen kali ini terlihat sangat bersahabat, jadi Rian menggunakan waktunya sebaik mungkin. Ia malah menggeser meja dan kursinya kesisi samping Nuri dengan alasan ia mahasiswa baru yang belum terlalu paham terhadap materi.


"Udah lama nunggunya, Mas," tanya Nuri saat memasuki mobil.


"Lumayan, satu jam," ucap Agung datar.


Setelah mencium punggung tangan Agung, Nuri merasakan telah ada yang berbeda dengan suaminy.


Kenapa lagi-lah suami mesum ini? Perasaan gak ada ngelakuin salah apa apa, tiba tib dingin kayak es batu tanpa rasa rasa?


Nuri berpikir, salah apa yang telah ia perbuat, hingga membekukan suaminya.


"Mas udah makan," tanya Nuri dalam keraguan.


"Sudah," jawab Agung.


Nuri menghembuskan nafas kasarnya, memang harus penuh kesabaran menghadapi mod Mr A.


"Mas Agung kenapa sih?" Akhirnya Nuri merasa kesal, sepanjang perjalanan tak ada percakapan diantara keduanya.


"Mas sakit gigi? tanya Nuri lagi.

__ADS_1


"Atau Mas Agung lagi dapet?" celoteh Nuri.


Agung hanya melirik Nuri sekilas, dalam benaknya ia ingin tertawa dan menutup mulutnya agar tak berbicara seenak jidatnya, suaminya sendiri sedang dapet.


Nuri mendengus kesal, percuma tanya panjang lebar jika suaminya sedang membeku, lihat saja sampai di rumah ia akan segera menyiram dengan air panas agar segera mencair.


Jika sedang dalam mod membeku, Agung betah dalam kebisuan selama perjalanan.


.......


Setelah mengganti pakaiannya dengan sebuah daster rumahan yang panjang, Nuri segera menuju dapur untuk mengisi perutnya yang belum terisi lagi. Semangkok bakso tak akan bertahan lama dalam perut Nuri.


"Mas mau makan juga?" tanya Nuri.


"Boleh," sahutnya.


Nuri segera mengambil nasi untuk sang suami.


Mata Agung terbelalak saat melihat nasi yang berada di piringnya.


Nuri hanya tersenyum, ingin tertawa.


"Biar kenyang." Nuri menambahkan lagi sayur dan lauk hingga piring Agung penuh.


"Dosa kamu ngerjain suami," tegur Agung.


"Aku gak ngerjain, Mas kok," bantah Nuri.


"Ini apa mksudnya? Kamu ingin buat suamimu overdosis lalu mati kan?"


Nuri tertawa mendengar penurunan Agung.


Bekuan es itu harus segera dicairkan! Sebab aku gak akan pernah suka! Dan inilah caraku.


"Sepiring berdua." Nuri segera merapatkan duduknya disamping Agung.

__ADS_1


Sejak kapan makan sepiring berdua, pikir Agung.


Namun lelaki itu sama sekali tak menolaknya.


Agung mengambil sendoknya, suapan pertama bukan kearah mulutnya namun, kearah Nuri.


Mata Nuri menatap Agung, suaminya hanya memberi angukan kepala. Tanpa pikir panjang Nuri segera melahap suapan dari suaminya.


Begitu juga Nuri, ia mengambil sondoknya lalu menyuapkan pada sang suami.


Cair juga, tapi kalau kayk gini butuh satu jam ngbisin satu piring ini.


.......


Nuri memilih menatap laptopnya, mengerjakan tugas kuliah yang harus terkumpul besok pagi. Sebenarnya tugas itu sudah dari beberapa hari yang lalu namun, Nuri belum juga menyiapkan tugas tersebut.


"Kenapa?" Agung mendekati Nuri yang sedari tadi mengetuk ngetukan pena di meja di karpet.


"Bingung, Mas. Dari kemarin belum terpecahkan," jawab Nuri.


"Coba lihat?" Agung mengambil alih laptop kepangkunnya.


Jari jemari Agung dengan lincah mengetik keyword membuat Nuri mengagumi ciptaan Allah yang berada di depannya saat ini.


"Sudah." ucap Agung sambil menyerahkan laptop pada Nuri.


Nuri masih menatap dengan ketidak percayaan, bagaimana mungkin Agung mengerjakan tugas dengan secepat kilat.


"Kamu lupa, suamimu ini juga pernah kuliah? Gak ver dong kalau gak bisa ngerjain tugas kayak gini."


Agung seakan tahu apa yang Nuri pikiran.


Tersenyum penuh bahagia Nuri mengucapkan terimakasih pada Agung.


"Ini tidak gratis loh! harus ada bayaran yang setimpal," ucap Agung licik.

__ADS_1


__ADS_2