Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Kecewa


__ADS_3

Nuri berdiri di samping halte, sudah hampir 10 menit dirinya bak tiang listrik. Menggerutu kesal, kalau tahu Agung molor, ia tak akan menolak saat Zahra menawarkan tumpangan untuknya.


Langkah kaki berhenti tepat diaampinga Nuri.


"Lagi nunggu jemputan ya?" Juna yang sedari tadi memperhatikan Nuri memberanikan diri mendekatinya.


Nuri tersenyum. "Iya, Kak," jawabnya.


Hampir satu lingkungan kampus mengenal sosok Juna, bahka para maba sudah banyak yang mengidolakan dirinya namun, tidak dengan Nuri yang biasa saja bahkn tak mengenali dirinya.


Rasa penasaran untuk mendekati Nuri kian mendalam. Diam diam ia memperhatikan Nuri dari jauh.


"Kalau masih lama, aku nganggur nih, mana tahu mau numpang," tawar Juni.


"Sebelumnya makasih, Kak. Tapi itu yang menjemput udah datang." Pucuk sicinta ulam tiba. Agung tiba tepat pada waktunya sehingga Nuri tak banyak beralasan banyak lagi kepada Juna.


"Da... Kak." Nuri melambaikan tangan, sebelum akhirnya dia naik kedalam mobil.


Juna mengamati hingga mobil yang menjemput Nuri tak terlihat lagi. Wajahnya layu, dirinya hanya bisa mengelus dada. Namun, gelak tawa dari arah belakang membuatnya lebih merasa kesal.


Nawan dan Yuda. Dua orang sabahat tengah mengejek kegagalannya untuk mendekati Nuri.


"Daa... Kak." Kedua lelaki itu menirukan gaya Nuri saat melambaikan tangannya sambil tertawa.


"Diem, lo!" sarkas Juna.


"Baru kali ini gue lihat Juna di kacangin sama cewek," beber Yuda.


"Bisa diem gak lo!" bentak Juna.


Kedua lelaki itu pun terdiam. Mengamati wajah Juna yang terlihat serius. Jika biasanya ia akan mengabaikan sosol yang datang memburunya, kali ini ia haru berjuang keras untuk bisa mendekati seorang gadis.


"Banyak cewek cantik lainya yang ngantri, bro!" Nawan menepuk pundak Juna yang masih termenung.

__ADS_1


"Tuh si Billa sama si Sasa ngantri nungguin elo. El ulunya malah cuek," timpal Yuda.


Juna termenung sejenak. Memang masih banyak gadis yang menuja dirinya namun, baginya Nuri lain dari pada yang lain.


"Lihat aja, gue pasti bisa menaklukkan dia," guman Juna.


......


Agung manatap Nuri lekat. "Siapa?"


"Itu senior aku, Mas," ucap Nuri.


Mendengar jawaban Nuri, Agung hanya ber-o ria.


Menepis jauh prasangka buruk terhadap istrinya.


Agung menepikan mobilnya kesebuah restoran, mengingat dirinya belum mengisi cacing yang sudah berdemo ria.


"Ayuk!" Agung melepas seatbelt miliknya lalu memajukan tubuhnya hingga jarak begitu dekat dengan Nuri.


Setitik rasa kecewa bertabur dalam benaknya.


Mungkin pikirannya yang terlalu jauh, nyatanya Agung hanya membantu Nuri untuk melepaskan seatbelt.


"Selesai," ucap Agung


Agung melirik Nuri namun, wajahnya masih berada tepat di hadapan sang istri, dirinya ingin tertawa saat melihat perubahan wajah Nuri. Sebelummya tadi ia memperhatikan wajah Nuri.


"Kepana? berharap lebih?" tanya Agung kembali.


Nuri hanya mampu menelan saliva, merutuki kebodohannya. Pikirkannya sudah terkontaminasi oleh kemesuman Agung.


Dengan segera, Agung mendaratkan sebuah kecupan biasa tanpa *******.

__ADS_1


"Sudah! lebihnya nanti malam."


Nuri masih terpaku, pipinya semu. Mendadak tubuhnya seperti mendapatkan sengatan arus listrik.


Tak ingin larut kedalam pemikiran mesumnya, Nuri segera mengekori sang suami masuk kedalam restoran.


.....


Setelah sampai di rumah, Agung dan Nuri bergantian membersihkan diri. Agung memilih menunggu sang istri memakai kamar mandi terlebih dahulu.


Merebahkan tubuh di atas sofa, Agung menghidupkan televisi yang berada di dalam kamarnya. Sudah hampir 20 menit, Nuri tak kunjung keluar juga.


"Dek, tidur atau lagi bersolo?" teriak Agung dari luar. Nuri yang mendengar dengam jelas segera membuka pintu kamar mandi lalu segera bertolak pinggang. "Mas bilang apa?" Nuri melototi Agung yang menyandar di dinding kamar.


"Ku kira kamu... ngapain lama di dalam?" Agung mengalihkan ucapan.


Melihat Nuri sudah dalam keadaan berpakaian namun, belum mengenakan jilbabnya.


"Mas pikir aku kayak Mas, kalau lama di kamar mandi lagi main solo ngeluarin kecebong?" tukas Nuri.


Agung mengerutkan dahinya, menatap tak percaya dengan ucapan sang istri. Entah sekedar ucapan mengejeknya atau memang dia tahu kebiasaannya selama ini. Yang diucap Nuri adalah benar adanya.


"Sudah sana mandi! bau acem." Nuri tertawa puas bisa mengerjai suaminya. Padahal dia hanya asal ucap saja namun reaksi Agung tak terduga. Kini wajah Agung memerah bak kepiting rebus.


.


.


.


.


Cuma berharap ada yang rela ngasih bunga.

__ADS_1


...hahaha, ngarep...


__ADS_2