Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Titik 0 KM


__ADS_3

Suasana rumah baru itu terasa sunyi saat orang tua Nuri telah pulang. Selama dua hari, Nuri merasa sangat bahagia sebab, saat ia pulang dari kuliah langsung disambut oleh ibunya.


Selama dua hari juga, Nuri bisa menikmati masakan ibunya. Namum, kini hanya tinggal dirinya sendiri, menanti kepulangan sang suami.


Setelah sampai dirumah Nuri memilih segera masuk ke kamarnya. Berada di dalam rumah besar yang sunyi membuatnya merasa sangat bosan.


Mengambil ponsel, Nuri memilih menyapa para tiga Srikandi yang telah berpencar mencari masa depan di kota lain.


Ratna dan Galih melanjutkan kuliahnya di luar kota, sementara Tika, gadis itu sangat beruntung bisa menuntut ilmu di Universitas Al Azhar, salah satu impian Nuri.


Nuri tersenyum tipis saat Tika mengirimkan sebuah foto tetang keindah jazirah arab tersebut.


Berbeda dengan Galih dan Ratna, meski keduanya juga terpisah kota namum, tetap saja foto kuliner menjadi salah satu foto iming iming kepada Nuri.


^^^^^^Ratna^^^^^^


^^^[ mana foto terbaikmu, Nuri ]^^^


^^^Galih^^^


^^^[ iya nih, mana ]^^^


Nuri membung nafas. Sudah lama ia tak mengabaikan momen terbaiknya semenjak masuk dalam dunia perkuliahan.


Tanpa ambil pusing Nuri mengirimkan sebuah foto ke dalam grup Srikandi.


Seketika kedua penghuni yang super kepo terbelalak tak percaya. Mungkinkah Nuri sedang bercanda?


Jelas foto ex guru mereka yang terlihat handsome menghiasi layar ponsel mereka.


^^^^^^Galih^^^^^^


^^^[ serius? gak salah kirim nih? ]^^^


^^^Ratna^^^


^^^[ jangan bercanda dong, Nur! ]^^^


^^^Tika^^^


^^^[ Kok aku bau bau apa gitu ya 😀 ]^^^


Grup yang hanya terdiri dari empat orang mendadak begitu ramai. Notifikasi tak hentinya berbunyi. Seakan ucapan Tika menggegerkan dua penghuni lainnya yang merasa kepo selangit.


Galih dan Ratna meminta penjelasan dari Nuri, tapi Nuri belum niat untuk membalasnya, membiarkan dua sahabatnya tidur tak nyenyak malam ini. Nui tersenyum penuh kebahagiaan, setelah berhasil membuat para grup Srikandi penuh penasaran.


Satu jam kemudian Ratna kembali hadir ke dalam grup.


^^^Ratna^^^

__ADS_1


^^^[ Jangan bilang kamu jatuh cinta sama MR A? ]^^^


^^^Galih^^^


^^^[ awas kena batunya ]^^^


^^^[ jangan sampai benci jadi cinta ]^^^


^^^Ratna^^^


^^^[ Benci dan cinta beda tipis ]^^^


^^^[ sekarang benci, besok cinta ]^^^


^^^[ hai, Nuri ]^^^


[ jangan bilang kamu diam diam suka sama Mr A ]


^^^Galih^^^


^^^[ Nuriiiiiii ]^^^


Nuri hanya terkekeh di depan laptopnya, tanpa ingin membalas pesan di grup.


Mengerjakan tugas sendirian membuat pikirannya buntu. Menunggu Agung yang tak kunjung pulang membuat Nuri sedikit frustasi.


Beberapa kali Nuri melirik jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul tiga sore, itu artinya sebentar lagi Agung pulang.


Benar saja setelah sholat Ashar, deru mesin mobil terdengar berhenti di halaman rumah. Dengan segera Nuri menuruni anak tangga, menyambut hangat kedatangan sang suami.


"Kenapa?" Agung merasa heran, setelah mencium telapak tangannya, Nuri malah memeluknya.


"Kangen aja." Hanya beberapa detik saja, Nuri telah melepaskan kembali.


Agung menggeleng lalu tersenyum melihat Nuri begitu semringah.


Ternyata berumah sendiri itu lebih enak. Ia dan Nuri bebas bermesraan di dalam rumah tanpa ada yang melihatnya.


"Udah makan?" tanya Agung selepas sholat Ashar.


Nuri mengngguk. "Mas udah makan sian?" tanya Nuri balik.


"Udah tadi bareng sama Adam dan Azam," jawab Agung.


....


Malam ini Agung mengajak Nuri untuk menikmati suasana malam kota pendidikan tersebut. Kali ini tujuannya ke titik Nol, yang menurutnya harus di kunjungi bersam pasangan demi menciptakan keromantisan.


"Kita makan di lesehan ya, Mas," pinta Nuri saat hendak berangkat. Mengingat mereka belum makan malam.

__ADS_1


"Yakin," ucap Agung.


"Kenapa? di lesehan itu lebih syahdu tau, di rumah makan mana bisa langsung pakai tangan dan satu lagi gak bisa nambah." Nuri tertawa


Agung hanya tersenyum, mendengar penuturan jujur dari Nuri. Jarang seorang wanita jika akan makan banyak tanpa sendok dan garpu. Dan, Nuri adalah salah satu wanita langka yang pernah Agung jumpai.


Mengarah ke jalan Malioboro, titik Nol kilometer ini terdapat Istana Republik Indonesia tempo dahulu saat masa penjajah Belanda dan juga terdapat benteng Vandebrug yang masih berdiri kokoh disana.


Terlihat juga 3 bangunan gedung yang nampak megah, gedung Bank Indonesia, gedung Kantor Pos dan juga gedung Bank Negara Indonesia peninggalan masa Belanda.


Menikmati suasana malam dengan melihat musisi jalanan menggelar konser mininya, Agung dan Nuri hanyut dalam nuasana syahdu meski hawa dingin sedikit menusuk tulang.


"Coba aja Mas Agung ngajak kesini malam minggu, 'kan nambah syahdu," ucap Nuri dengan menghembus jagung rebus di tangannya.


"Kenapa? malam apa pun tetap sama suasananya tetap syahdu kok," timpal Agung.


"Jelas lain lah, Mas, kalau hari biasa gak bisa lama lama besok harus kuliah, kalau malam minggu kan bebas," ungkap Nuri.


Agung hanya tertawa, keduanya pun sama sama menghembus jangung rebus yang masih terasa panas.


Nuri melihat Agung dengan tatapan penuh harapan. Begini saja aku sudah merasa bahagia, Mas. Semoga kamu hanya tetap menjadi milikku selamanya..


...Gimana, udah pernah kesini kalian?...


...yang tinggal di sekitar sini pasti gak bakalan asing lagi dengan tempat ini. Kalau malam sungguh syahdu tempat ini...


.


.


.


.


.


.


.


Hayo mana suara kalian?



Tinggal post aja,


Aku tunggu sampai jam 11 siang, jika like melebihi hari kemarin, jam 12 aku up lagi ceritanya, kalau gak ada perubahan paling² up besok pagi lagi.


Kasih bunga banyak² biar Nuri dan Agung berseri seri. ❤❤

__ADS_1


__ADS_2