Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Cemburu


__ADS_3

Di suatu sore, Nuri dan yang lainnya mendapat tugas membersihkan halaman depan pondok. Mulai dari depan asrama putri, asrama pria, asrama guru maupun pendopo.


Memang sudah lama Nuri tak kebagian membersihkan halaman, berhubungan Aulia, teman yang biasa membersihkan halaman sedang pulang. Mau tak mau dirinyalah yang mengambil alih tugasnya.


Nuri harus pura pura tersenyum saat melewati dua insan sedang berbincang di pendopo. Terlihat sangat begitu akrab.


Zakiah, wanita sholehah pembimbing hafalan. Selain Ustad Hanaf, ada kak Zakiah di balik suksesnya para santri saat hafalan.


Masih muda, bahkan usianya seumuran dengan Agung dan Azam.


Nuri tersenyum getir, bisa bisanya lelaki itu terlihat sangat bahagia saat bercanda dengan kak Zakiah.


Ya, Agung adalah lelaki yang sedang berbincang dengan Kak Zakiah. Entah apa yang mereka bahas hingga Agung ikut tertawa bersamanya.


"Dasar!" umpat Nuri pelan.


Diam diam Nuri mengamati setiap gerak gerik kedua orang dewasa tersebut. Terlihat dari cara kak zakiah menatap Agung, sudah bisa Nuri tebak bahwa wanita tersebut diam diam mengagumi sosok Agung, suaminya.


Ingin sekali Nuri mendatangi keduanya lalu berteriak, dan mengatakan bahwa Agung adalah suaminya namun, itu mustahil ia lakukan mengingat dirinya berad di dalam pondok.


Kemaren kemaren Via, sekarang kak Zakiah. Hemm, coba aja gak mengingat tempat, sudah ku pastikan dia akan malu di tempat.


...


Nuri masih merasa kesal. Sampai hingga waktu belajar pun pikirannya masih mengarah kepada kejadian sore tadi.


"Dor!" Tika sengaja menepuk bahu Nuri.


Meski terkejut, Nuri berusaha untuk menahan emosinya. Jika bukan Tika, sudah jelas Nuri akan segera mengamuk. Beruntunglah dirimu Tika!

__ADS_1


"Hei, bengong aja! lihat tuh, ponsel kamu bunyi terus. Angkat sana biar gak berisik," tegur Tika.


Nuri baru menyadari bahwa ponselnya berdering. Ia lupa mengaktifkan mode getar.


Terlihat sudah banyak pesan masuk dan beberapa kali panggilan tak terjawab.


"Malas, ah." Setelah memberi mode getar, Nuri lebih memilih menyimpan ponselnya di laci. Saat ini Nuri enggan memikirkan Agung, yang terang terangan tebar pesona dengan wanita lain.


Rasa cemburu yang beralasan kesal!


"Tumben di abaikan?" goda Tika.


"Lagi mau fokus belajar dulu," elak Nuri.


"Seperti tidak! lihat tuh, muka mu kusut gitu." Lagi lagi Tika mengejek sambil tertawa pelan.


Tak membalas ucapan Tika, Nuri melewatinya lalu naik ke atas tempat tidurnya.


Karena Tika yang paling peka, gadis itu menyusul Nuri ke atas. Di lihatnya bibir Nuri telah bisa di kucir. Andaikan saja sahabatnya itu gampang nangis, Tika yakin Nuri sudah menangis.


"Kamu kenapa? ada masalah? cerita aja, mungkin aku bisa bantu," bisik Tika.


Ini adalah pertama kali Tika melihat Nuri terisak.


Waoo, sebuah keajaiban! Dia bisa nangis.


Kata kata tersebut hanya tertahan di kerongkongan.


Tika yakin bahwa Nuri sedang ada masalah.

__ADS_1


"Hei, kamu kenapa? Jangan bikin aku turun, lalu lapor sama Bu Nisa kalau kamu nangis," ancam Tika.


"Dasar anak pengadu," umpatnya.


Tika tertawa pelan saat melihat ekspresi wajah Nuri saat ini. "Dasar jelek!" Tika mencubit hidung Nuri.


Merasa sudah aman, Tika kembali bertanya atas perubahan sahabat tersebut. Mau tak mau Nuri pun bercerita, karen Nuri yakin Tika satu satunya orang yang bisa di percaya.


"Serius?" Wajah Tika mendadak geram.


"Woi, jangan berisik!" tegur salah seorang teman yang di bawah.


"Jangan bilang kamu sudah jatuh cinta dengannya! Cemburu itu wajar, tapi kamu gak boleh larut dalam keegoisanmu sendiri. Kamu harus mendengarkan penjelasan dari beliau. Bisa jadi itu hanya salah paham." Tika memberi wajengan, Nuri pun berfikir sejenak. Kenapa ia tak bertanya dulu tentang kejadian tadi sore, malah mengabaikan pesan yang belum ia baca.


.


.


.


.


.


.


.


Tap Like! Jika ingin cerita ini tetap berlanjut. Karena hanya dengan Like dan Komen kalian, energi buat Nulis tuh ibarat hengpon kena charge.

__ADS_1


Lanjut nanti sore pukul 17.00 jika tak ada halangan.


__ADS_2