Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Hilang Kendali


__ADS_3

Saat ini Agung sudah melepaskan gelarnya sebagai pengajar, dengan terpaksa ia menuruti keinginan sang papa untuk mengelola perusahaan. Dayu memilih pensiun dini dari dunia bisnisnya. Lelaki paruh baya itu juga memilih menikmati masa tuanya tanpa beban masalah bisnis.


Bulan depan adalah waktu untuk Agung resmi menggantikan posisinya saat ini.


"Kapan kamu akan kasih kami cucu, Jal?" tanya Dayu saat Agung singgah ke rumah orang tuanya untuk mengambil tanda tangan sang papa.


"Lagi proses, Pa," jawab Agung.


"Halah, proses terus tiap malam tapi nyatanya gak ada yang jadi. Jangan jangan bibit kecebongmu udah kadaluarsa atau memang tak berkualitas," sahut Maya.


Jleb..


Agung tak bisa memperdebatkan mamanya. Bagaimana akan jadi jika istrinya menghalangi para kecebong menuju dinding rumahnya. Satu sisi lain apakah memeng bibit kecebong sudah kadaluarsa karena sering ia keluarkan secara solo.


"Besok juga jadi, Ma. Namanya juga usaha. Yang penting Agung sudah berusaha setiap malam," cetus Agung tanpa rasa malu.


Siang ini Agung sengaja mengadakan meeting di luar kantor. Karena hanya berdua, dan hanya akan membahas masalah kerja sama.


Namun, Agung terjukut setengah mati saat mendapati siapa yang berada di hadapannya dan mengatakan ia mewakili bosnya yang sedang sibuk.


Hanya berdua, kondisi semakin canggung kala Agung bingung ingin memulai dari mana.


"Hai, lama gak bertemu. Kamu makin cool setelah menikah," ujar Via.


Ternyata Via adalah asisten pribadi sang bos di perusahaan yang ingin bekerjasama.


"Baik," jawab Agung datar.


Via menghela nafas kasar, mencoba lebih tenang. Ia harus proposional dalam pekerjaannya.

__ADS_1


"Bisa kita bersikap biasa saja? anggap saja aku orang lain yang tak mengenal dirimu! Jangan membawa masa lalu dalam pekerjaan ini." Sebisa mungkin Via berusaha menahan gejolak dalam dadanya yang membara.


"Terserah kamu saja!" ujar Agung.


Keduanya pun langsung membasah kinerja perusahaan masing masing. Agung hanya mengangguk, mendengarkan Via menerangkan keutungan dan laba jika mereka bekerja sama.


Tak terpungkiri oleh Agung saat melihat mimik Via berceloteh ia merasa kembali lagi pada delapan tahun silam, saat dimana dia dan Via saling menikmati hari harinya bersama. Seolah tak pernah pernah menyangka kejadian satu malam membuatnya kalap hingga Agung diam diam merasa candu dengan sosok Via.


"Aku akan mempertimbangkan kembali setelah diskusi dengan papa, selamat siang." Agung segera meninggalkan Via dalam kebisuan.


Perempuan itu masih punggung Agung hingga tak terlihat lagi. Meski merasa kecewa, Via mencoba mengendalikan emosinya. Semua memang salahnya hingga pada akhirnya ia memilih menetap di luar negri.


"Andaikan waktu itu kamu tetap bertahan di sini, mungkin aku sudah hidup bahagia bersamanya," ucap Via sambil mengelus perust ratanya yang tertutup oles blouse.


Konsentrasi Agung sangat terganggu setelah ia bertemu dengan Via. Ia memilih segera pulang ke rumah, berharap Nuri sudah berada di rumah.


Setelah lulus uji coba mengendarai mobil sendiri, Agung langsung membelikan mobil baru untuk istrinya. Meski awalnya Nuri menolak namun, atas desakan Maya dan Dayu Nuri pun luluh juga, mengingat Agung semakin sibuk dengan profesi barunya yang tak akan sempat untuk mengantar jemputnya.


Nuri terkujut saat melihat langkah frustasi Agung yang menghampirinya.


Nuri yang masih mengaduk adonan kue, mendadak terhenti saat ia merasakn serang tiba tiba dari suaminya.


Bertanya tanya dalam hati, apa yang telah merasuki suaminya hingga seperti seorang yang sedang kerasukan.


"Ah, Mas." desahnya saat tangn Agung mulai nakal. Satu tangan bermain di atas, satu lagi bermain di bawah.


Nuri hanya memejamkan mata saat Agung menghujani ciuman di ceruk lehernya.


Nuri menghentikan tangan Agung kala merasakan Agung bermain dengan kasar namun, Agung tetap tak menghentikan kegiatannya.

__ADS_1


"Mas, hentikan! ada apa denganmu?!" sentak Nuri.


Seketika Agung merutuki kebodohan, menghentikan kegiatannya dengan tubuh lemas.


Apa yang sudah ku lakukan kepada Nuri. Dia tidak bersalah dan tidak tahu apa apa. Kenapa aku melampiaskan keladanya.


Dengan wajah sesal, Agung segera memeluk tubuh Nuri yang masih menegang.


"Maaf aku kehilangan kendali," lirihnya.


Beberapa kali Agung mengecup pucuk jilbab Nuri dan mengucap kata maaf.


.


.


.


.


.


.


.


Butuh Like komen dan hadiah kalian!


Tungguin aja kejuatan akan datang.

__ADS_1


Lopee kalian banyak2 ❤


__ADS_2