Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Mama cantik dan Papa ganteng


__ADS_3

Nuri terlihat sangat keteter pagi ini. Meski sudah ada mbak Inah yang membantunya, tetap saja ia sangat kerepotan setiap pagi. Bagaimana tidak, Agung terlihat kekanak kanakan. Ia tidak akan beranjak dari tempat tidur jika tidak mendapat pelukan dan morning kiss. Saat akan berangkat kerja pun dirinya meminta bekal sesuai keinginannya.


Nuri yang sudah mulai aktif kuliah kembali sejak dua tahun lalu hanya menggeleng kala Agung merengek minta di suap oleh dirinya seperti pagi ini.


Kejadian ini sudah tidak asing lagi baginya semenjak dua tahun belakangan ini.


"Ingat, kalian tidak boleh jajan sembarang! Tidak boleh pergi dengan orang yang tidak di kenal dan... tidak boleh nakal sama mbak Inah dan pak Mun," pesan Nuri kepada dua bocah kecil berusia empat tahun yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah.


Masih teringat jelas kejadian empat tahun lalu, kala Nuri bertaruh nyawa demi kedua buah hatinya bisa selamat ke dunia. Tidak mudah baginya melahirkan anak kembar dengan persalinan normal. Nuri tetap bersikukuh untuk menjalani persalinan normal mengingat konsinya sangat baik kala itu. Namun dua jam setelah melahirkan Nuri mengalami pendarahan hingga membuat semua anggota keluarga shock, tak terkecuali Maya yang bulan depan juga akan melahirkan.


"Iya Mama cantik," ujar Brayan yang usianya lebih tua lima menit dari Briyan.


"Bagus. Sekarang salim sama Papa! Tuh udah di tunggu Pak Mun dan Mbak Inah," titah Nuri.


Kedua bocah itu patuh dan segera berpamitan kepada sang papa.


"Pintar, jangan usil, ya!" pesan Agung setelah mendapat ciuman di pipinya dari kedua bocah kecil berambut keriting gantung tersebut.


"Siap papa ganteng," ucap mereka berdua.


"Daa... Mama cantik dan Papa ganteng." Kedua bocah kecil itu memberikan ciuman jarak jauh kemudian menghilangkan di balik pintu.


"Ai, dasiku dimana?" Agung mencari dasi yang tak terlihat oleh nertanya. Nuri yang masih mengoles cream di wajahnya segera bangkit.


Dasi sebanyak ini masih juga menanyakan dimana dasi nya?"Ini apa, Mas?" Tunjuk Nuri.


"Bukan ini, sayang. Hari ini aku mau pakai dasi yang kamu belikan di hari jadi kita ke tiga itu, lho," jawab Agung kesal.


Nuri mendesah pelan. Baginya semua dasi itu sama saja. Apalagi yang memakai sudah tampan dari lahir, sejelek apapun dasi yang dikenakan pasti akan tetap bagus.

__ADS_1


"Mas Agung ribet kayak perempuan. Sini!" Nuri segera memasang dasi warna coklat, meski itu bukan yang di dinginkan oleh suaminya.


Agung harus menggerutu sepanjang perjalanan. Nuri memang tidak peka. Hingga mobil telah berhenti di depan kampusnya.


"Sudah jangn marah! ntar berkurang lho gantengnya," goda Nuri.


Tanpa rasa malu lagi, Nuri hendak mengecup pipi Agung. Namun, ternyata lelaki itu sudah menyadari hingga menghadap kearah Nuri. Kini bukan pipi yang Nuri kecup, melainkan bibir kenyal milik Agung. Dengan licik, Agung memperkuat setiap hisapan hingga sebuah ketukan kaca membuat kedua pasangan itu kembali kearah semula sambil merapikan pakaian yang sempat berantakan.


"Sial," umpat Agung memukul setir.


Nuri menurunkan kaca mobil, ternyata Zahra lah pelakunya.


"Apa kamu tidak ingin turun?" tanya Zahra tanpa merasa bersalah.


Nuri segara berpamitan kepada Agung yang terlihat masih kesal. "Jangan begitu, nanti luntur gantengnya. Nanti malam aku kasih doubel servis," bisiknya sebelum turun.


Agung tak terpancing dengan bisikan istrinya, sebab setelah malam tiba ia selalu menemani dua jagoanya untuk tidur. Kedua anaknya tak bisa tidur jika tidak di bacakan dongeng terlebih dahulu.


Setelah membayar ojek onlinya, Nuri membuka garasi. Terlihat sudah terparkir mobil mertuanya di sebelah mobilnya. Mobil yang pernah dibelikan Maya untuknya kini menjadi kendaran si kembar.


"Kakak," teriak Memei. Bocah yang usianya lebih muda satu bulan dari anaknya.


Meisya adalah adik iparnya. Meski kadang ia ingin tertawa saat menyaksikan kenyataan yang ada.


"Mama sudah lama?" tanya Nuri menghampiri mertuanya yang sibuk bermain dengan dua bocah keriting di depannya.


"Lumayan, sepulang sekolah Memei ingin pulang kesini," cerita Maya.


Brayan dan Briyan segera menghambur dalam perlukan mamanya yang masih menggandeng tangan mungil milik Memei.

__ADS_1


"Ini Mamaku!" seru Briyan menampik tangan Memei.


"Ini kakakku!" Memei tak ingin kalah dari bocah keriting di sampingnya.


Memei menangis kala posisinya saat ini di geser oleh Brayan. Kakak dari Briyan menggandeng tangan kanan Nuri, sedangkan tangan kiri sudah ada Briyan.


Nuri menarik nafas lelahnya. Jika seperti ini seolah dirinya memiliki tiga anak kembar.


Maya yang mendengar tangisan puterinya langsung bangkit. "Kenapa sayang? pasti ulah dua bocah keriting ini ya?" Maya segera meraih tubuh mungil anaknya.


"Itu kakakku, Ma!" Isaknya dalm pelukan mamanya.


"Iya sayang, itu kakakmu dan ini Mamamu." Maya harus menerima kekalahan saat ada Nuri. Sebenarnya ia malas singgah ke rumah anaknya, sebab Memei akan menomer duakan dirinya. Belum lagi jika ada Agung. Adiknya itu akan bergelayutan manja di pangkuan kakak yang terpaut jauh usianya.


"Yasudah, sekarang Mama mau mandi dulu. Kalian minta maaf sama ante Mei," tutur Nuri pada buah hatinya.


"No, Mama. Dia lebih muda dari kami, harusnya kami memanggil dia adik dan dia memanggil kami kakak," protes Briyan.


Kepala Nuri semakin berdenyut. Kedua anaknya memang suka sekali memprotes sesuatu yang dianggap salah.


.


.


.


Satu episode lagi ya ...!


Selamat yang meminta anak Nuri kembar 👩‍👦‍👦

__ADS_1


uthor kabulin nih.


__ADS_2