Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Waktu yang hilang


__ADS_3

Kini keadaan Dayu sudah lebih baik. Ia sudah bisa di ajak bicara meski pernafasannya masih terpasang alat bantu.


"Kalian pulanglah! Mama dan mbak Mar yang akan menjaga Papa. Ai, besok kamu kuliah kan?" Bukan Maya tak suka kehadiran Nuri namun, ia juga memikirkan jika besok pagi menantunya harus kuliah.


Nuri mengangguk, memang benar ucapan Maya, apalagi hari ini ia tak tidur siang.


"Maafin Agung gak bisa nemenin Mama," sahut Agung.


Maya menyunggingkan senyumnya. "Kalian kesini aja udah membuat Mama semakin tenang. Jangan berpikir yang neko- neko."


Agung dan Nuri berjalan beriringan menuju tempat parkir.


"Kita makan di luar atau di rumah?" tanya Agung


Tanpa berpikir panjang lagi Nuri menjawab di rumah.


Agung segera mengemudikan mobilnya menuju rumah.


"Kamu kenapa? aku perhatikan dari tadi kebanyakan diam?" Agung mengutarakan rasa penasarannya.


"Gak papa, kok Mas. Mungkin masuk angin."


Nuri merasa badannya letih dan sedikit mual.


Tidak mungkin ia hamil, baru saja tadi malam ia membuang obat pencegahan kehamilan, mustahil ia ia akan hamil, sementara semalam tak ada kegiatan membakar lemak.


Pasti efek kehujanan semalam, pikir Nuri.


"Ya sudah, tidurlah! nanti jika sudah sampai aku bangunkan," titah Agung.


Nuri yang merasakan kelapa mulai mendenyut hanya menuruti ucapan suaminya.


Agung tersenyum getir saat melihat Nuri telah terpejam. Bayangan kelam yang terkubur selama beberapa tahun ia sembunyikan, semakin hari semakin menghantuinya.


Meski Nuri akan menerimanya, tapi Agung yakin istrinya akan sangat kecewa dengan kenyataan sesungguhnya.


"Ai, bangun! sudah sampai." Agung menyentuh pipi Nuri. Namun Agung merasakan jika suhu tubuh sang istri melebihi batas normal, itu artinya Nuri demam.


Agung panik. Ia segera membopong tubuh Nuri menuju kamar mereka.


Hingga sampai di lantai atas, Nuri belum juga mempergerakkan tubuhnya. Agung semakin takut, Nuri sedang tidur atau telah pingsan, mengingat Nuri susah di bangunkan.

__ADS_1


Dengan telaten, Agung segera mengkompres kening Nuri. Setelah sholat Isya' Agung juga belum melihat tanda tanda Nuri terbangun, ia pun memilih turun ke dapur berencana membuatkan bubur untuk Nuri.


"Ai." Agung telah memeras kain yang menempelkan pada kening Nuri.


Nuri menggeliat, membuka pelan matanya.


Merasakan ada sesuatu yang mengganjal di keningnya, ia pun merabanya.


"Apa ini?" tanya Nuri heran.


"Pelan." Agung membantu Nuri untuk terduduk.


"Kamu demam, makanya aku kompres," ucapnya kembali.


"Ya sudah, ayo makan! aku udah siapin bubur dan abis ini minum obat." Dengan telaten dan penuh kelembutan, Agung menyuapkan bubur ke arah Nuri.


Nuri merasa terharu dengan cara Agung memperlakukan dirinya. Sungguh ia wanita beruntung bisa menyanding bersama Agung.


"Mas, makasih," lirih Nuri diiringi seulas senyum memerkah di bibirnya.


"Aku merasa beruntung memiliki suami seperti mas Agung," lanjutnya lagi. Kali ini diiringi sosoran mendarat si pipi Agung.


Benar saja, setelah Nuri meminum obat, perlahan rasa pusingnya hilang meski tubuhnya masih terasa letih.


"Besok tidak usah kuliah, aku akan meminta ijin langsung ke sana," ucap Agung.


Nuri hanya pasrah saja, mungkin ia butuh istirahat.


🍂 🍂 🍂


Sudah satu minggu sejak kejadian itu, Nuri merasakan keganjalan ada benaknya. Tidak biasanya suami mesumnya mengabaikan dirinya tengah malam. Ataukah Nuri sangat berharap di jamah oleh Agung atau dirinya-lah yang mesum saat ini.


Entah mengapa Nuri tak terima dengan semua ini.


Semenjak sang papa mertua sembuh, Agung mengambil alih semua pekerjaan papanya, mungkin inilah alasan Agung tak sempat menyentuhnya. Pekerjaan yang padat, terkadang Agung harus pulang hingga pukul sepuluh malam.


"Lho, belum tidur, Ai?" Agung baru saja pulang. Di lirik jam dinding mengarah pada jarum angka sebelas. Meski terasa sakit dan sesak, Nuri tetap bersikap biasa saja.


"Mas belum makan?"


Bukan menjawab pertanyaan, Nuri malah bertanya balik. Agung melonggarkan dasi lalu menggeleng.

__ADS_1


"Aku sebenarnya sangat lapar, aku akan makan setelah mandi. Gak enak lengket dan bau acem."


Keduanya pun menapaki anak tangga menuju kamar utama.


"Ai, daster kelambu itu dimana?"


Nuri mengernyitkan dahinya. Untuk apa suaminya menanyakan benda tak bermoral itu. Saat Nuri memakainya ia seperti seorang wanita penghibur lelaki hidung belang.


"Ada di koper, Mas," jawab Nuri apa adanya.


Agung segera berjalan menuju dimana koper itu berada. Nuri semakin penasaran apa yang hendak di lakukan Agung selanjutnya.


Agung tersenyum puas saat menemukan benda yang ia cari.


"Aku akan mandi sebentar, setelah aku siap kamu juga harus siap dengan memakai baju ini. Kamu harus mengganti waktuku yang hilang selama tujuh hari lewat tiga jam."


"Aku terlalu sibuk, hingga tak sempat mengeramkan para kecebong, berhubungan besok aku libur, maka malam ini aku pastikan ular kobra tak akan tidur sampai pagi," pungkasnya lagi.


Mendadak tubuh Nuri menjadi kaku di tempat mendengar ucapan konyol suaminya.


Nuri tak memungkiri bahwa suaminya juga mesum.


Mungkinkah Nuri harus merasa bahagia saat ia akan di sentuh oleh kehangatan yang ia rindukan selama satu minggu ini?


Wajah Nuri mendadak bersemu, saat melihat pantualan dirinya di cermin. Tersenyum tipis, dirinya


Mengoles tipis bibirnya dengan lipstik nude serta mengaplikasikan tipis bedak pada wajahnya, Nuri segera mengikat tinggi rambut panjang yang memperlihatkan jenjang leher mulusnya.


Nuri, ini hanya di depan suami! Jika ini adalah kepuasan suami maka tidaklah berdosa, sebab suami memiliki hak sepenuhnya atas dirimu.


.


.


.


.


Like dan komennya mana nih?


🌹 nya mana atau ☕ juga boleh kalian kasih.

__ADS_1


__ADS_2