
Tertawa ria dan berpelukan bak Teletubbies, keempat gadis tersebut merasa bahagia. Bagaimana tidak, mading sekolah menempelkan sebuah kertas pengumuman kelulusan mereka. Alhamdulillah semua siswa lulus semua. Nama Nuri terpampang paling atas. Meski hanya seorang siswa pindahan namun, ia bisa mengimbangi siswa lainnya. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuknya.
"Selama Nuri sayang." Berulang kali Tika mencium pipi Nuri. Begitu juga dengan Ratna dan Galih, kedua gadis itu tak ingin ketinggalan untuk memberi ucapan selamat kepada Nuri.
"Hore... bisalah hari minggu kita makan bakso gratis di samping jembatan," ucap Galih penuh canda.
"Hus, gratisan terus pikiranmu!" tegur Ratna.
Nuri hanya tersenyum melihat kehangatan saat ini.
Canda tawa bersama mereka sebentar lagi akan usai. Sedih memang, tapi begitulah kehidupan.
Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan, entah kapan mereka akan bertemu kembali.
"Baiklah, besok minggu aku traktir kalian sepuasnya." Sontak ketiga sahabatnya ber-hore bersama.
.....
Minggu telah tiba.
Seperti biasa, pukul 09.00-10.00 adalah waktunya pengajian ahad. Terlihat acara lebih rame dari biasanya sebab, Pak Dzaki meminta kepada semua peserta didik Madrasah Aliyah untuk hadir.
Dalam acara tersebut selain pengajian rutin, Pak Dzaki selaku pengurus pondok juga menggelarkan acara doa untuk para peserta didiknya agar bisa meneruskan cita citanya dengan lancar.
Nuri merasa kesal sebab, dirinya tak bisa melihat pak Agung. Guru tersayang itu sibuk sebagai panitia. Nuri mendengus kesal.
"Kenapa lagi?" tegur Tika.
"Tahu, ah," jawab Nuri datar.
"Eh, jadikan, abis ini kita makan bakso?" Galih mengingatkan rencana mereka kemarin.
"Aku sih, gak yakin kalau lihat muka dia," sahut Tika.
__ADS_1
Bagaimanapun janji adalah hutang, dan mungkin bisa dikatakan itu adalah acara perpisahan mereka sebelum benar benar meninggalkan asrama untuk mengejar dan meneruskan cita cita.
Acara tersebut berjalan secara khidmat, Nuri sempat melengkungkan bibirnya saat pujian tertuju padanya.
Semua yang hadir memberi ucapan selamat. Akhirnya atas saran pak Dzaki Nuri memberi sepatah kata untuk berterima kasih.
Gugup sudah pasti namun saat kilatan matanya menangkap sosok yang di nanti, sebisa mungkin Nuri berusaha tetap tenang.
Tepuk tangan terdengar meriah kembali saat Nuri mengakhiri pidatonya.
"Keren banget," bisik tika sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Selepas pengajian, Nuri meminta izin terlebih dahulu kepada Pak Dzaki dan Bu Nisa. Setelah di setujui, Nuri mengirim pesan kepada Agung.
[ jangan lama lama, nanti sore kita pulang ]
Mata Nuri melotot saat membacanya. Kenapa harua dadakan seperti ini. Meski semua peralatan sudah di packing namun, Nuri belum siap jika harus meninggalkan asrama.
"Bengong aja, ayo!" Ratna menarik lengan Nuri hingga dirinya tersadar.
Riuh, begitulah suasana meja yang di tempati mereka. Mengambil kesempatan dalam kesempitan, Bayu mengambil posisi tepat di depan Nuri, sementara Haris di depan Ratna.
Nuri berdecak kesal, meratapi keadaan. Apalah daya, di depannya hanya ada Tika. Untuk apa dia melempar gombalan kepada Tika seperti yang di lakukan Ratna dan Haris.
Namum dari dasar lubuk hatinya melihat mereka tertawa bersama membuatnya sangat bahagia saat ini. Tak terasa cairan bening tak sengaja menetes.
"Kamu kenapa?" Tika menyadari bahwa Nuri menangis.
"Aku terharu aja, gak terasa sebentar lagi bakalan pisah," ucapnya tersedu.
"Yaelah, kita kan bisa kirim pesan. Kalau bisa kita luangin waktu satu hari untuk ngumpul. Meski aku yakin setelah ini kita bakalan sibuk dengan urusan masing masing," keluh Bayu.
Mereka pun sepakat dengan ucapan Bayu. Meski belum yakin kedepannya akan seperti apa.
__ADS_1
Bersepeda melewati jalanan yang ramai, mungkin karena hari libur. Beberapa pengendara hilir mudik di atas jembatan layang. Kini mereka telah sampai di bawah jembatan. Di bawah sana adalah saksi dimana saat mereka merindukan keluarganya. Menangis karena tak tahan tinggal di asram dan masih banyak cerita lainnya.
"Bakalan rindu suasana disini," ucap Galih.
"Jika kita telah sukses kelak, maukah kalian kembali kesini untuk mengenang perjuangan kita?" Saran Tika. "Jangan pernah sombong jika sudah berhasil," lanjutnya lagi.
Mengangguk tanda sepakat. Nuri berharap tak akan ada yang berubah kelak, namun itu mustahil.
....
Sesampainya di kamar, Nuri memberikan isi dari kantong plastik yang ia temukan hari itu kepada ketiga sahabatnya. Harusnya sudah ia berikan namun, ia lupa.
"Wah, serius ini?" Ratna tak percaya.
"Makasih Nuri sayang." Tika kembali mencium pipi Nuri. Sahabatnya yang satu ini berbeda. Kasih sayangnya melebihi sang kakak.
"Kita punya baju couple nih," lanjutnya lagi.
"Pokonya aku ingin kita berempat pakai baju ini saat perpisahan sekolah ya." ucap Nuri semangat.
.
.
.
.
.
.
Maaf molor dari jam tayang. Uthor lupa kalau setiap hari jumat punya agenda bersama emak emak satu komplek. Jadi hari jumat hanya Up 1 bab dan hari minggu off ya. Kecuali, jika ada waktu uthor usahain up 1 bab juga.
__ADS_1
Ayo dong tekan like nya! Uthor kan sedih liat Like gak pernah diatas 200an. 🙄🙄