Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Menunggu Waktu


__ADS_3

Tubuh Nuri gemetar saat mendapai Syifa berjalan sempoyongan menuju ke kamarnya. Sedikit rasa menyesal menyelimuti hatinya. Beruntung saja Syifa tidak pingsan di dalam toilet.


Terlihat dua orang memapah tubuh Syifa yang lemas. Sementara yang lain pun ikut mengerubunginya.


Galih dan Ratna yang terusik pendengannya pun keluar kamar ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. Berbeda dengan Nuri, ia terlihat biasa saja, tak menghiraukan keadaan sekitar.


"Astagfirullah, dia kenapa?" teriak Galih.


Tak ada yang menjawab, Syifa pun telah duduk di ranjang kasurnya.


Berbagai pertanyaan di layangkan dari para teman temannya. Syifa hanya syok biasa namun temannya terlalu berlebihan. Ada yang memijat kakinya, tangannya bahkan ada yang mengambilkan minum untuknya.


Setelah Syifa merasa tenang, ia menjelaskan bahwa dirinya terkunci di dalam toilet sekolah.


"Hah, kok bisa?" Ratna tertarik untuk lebih tahu.


Syifa hanya menggeleng.


"Rusak kali pintunya," sosor Galih.


.....


Selepas sholat isya' Nuri memilih belajar untuk ulangan besok pagi. Tadi siang Bu Hesti mengatakan bahwa besok akan ada ulangan harian.


Semua teman sekamarnya pun juga sama sama sibuk belajar. Nuri memilih tiduran di lantai sambil tengkurap.


Nuri melirik ponselnya saat ada notifikasi oesan masuk.


[ Lihat keluar dong! Aku ada di teras sama Pak Dzaki ]


Sambil tersyum, Nuri mendekat kearah jendela.


Benar, disana terlihat beberapa guru termasuk Adam dan Azam juga berada disana.

__ADS_1


Agung tersenyum saat hanya semar samar melihat wajah Nuri. Begitu juga Nuri, tak bisa di pungkiri wajahnya terlihat berbunga.


[ Kenapa belum tidur? ]


^^^[ Masih belajar, Pak ]^^^


[ Pintar. Gak sabar lagi nunggu kamu lulus ]


Nuri tak mengerti maksud Agung. Bukankah pernikahan sudah di majukan. Lalu menunggu apa?


^^^[ Nunggu buat apa Pak? ]^^^


...[ Buat melepas masa lajangku ]...


Nuri kembali mengerutkan dahinya. Pembicaraan Agung semakin ngelantur dan dari segi bahasa juga telah berubah.


^^^^^^[ Bapak mesum! ]^^^^^^


Agung hanya tersenyum membaca pesan Nuri.


"Sepertinya sudah ada yang mulai jatuh cinta nih," sindir Tika.


"Kamu ngomong apa sih? fitnah dosa tahu," elak Nuri.


"Lebih dosa lagi kalau gak mau ngakuin kalau kalian udah pacaran," bisik Tika.


Deg!


Nuri benar benar kaku dibuatnya. Darimna Tika bisa tahu. Mungkinkah Tika sudah mengetahui bahwa dirinya telah menikah.


"Heh biasa aja kali, aku kan cuma bercanda." Tika menertawakan wajah Nuri yang sudah tegang.


Bernafas lega. Nuri membuang nafas sambil merapikan bukunya yang masih terserak di lantai.

__ADS_1


.....


Pagi ini Nuri sengaja bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Dirinua bergegas mengambil wudhu lalu menuju ke masjid. Disana sudah ada beberapa orang termasuk Bu Nisa dan Kak Zakiah.


"Tumben Mbak Nur, meruput datang ke masjid," tanya kak Zakiah.


Nuri tersenyum malu, mengingat bahwa dirinya selalu datang setelah iqomah.


Nuri tak menjawab malah ikut tertawa.


Di depan sana terlihat Agung telah duduk menyila di barisan paling depan. Perasaan adem dan tenang ketika melihatnya. Kenapa Nuri baru menyadari sekarang?


Nuri sengaja memilih keluar paling belakang. Melihat Agung keluar masjid, Nurinpun segera berdiri. Walau keluat dari pintu yang berbeda namun, Nuri bisa mengimbangi langkah Agung.


Nuri berjalan pelan di belakang Agung yang hendak kembali ke asrama guru.


"Lho, kamu ternyata," tegur Agung saat menoleh kebelakang.


Nuri pun menyengir. "Iya," jawabnya cengengen.


"Ada apa?" tanya Agung heran. Sebab selama ini adalah pertama kali Nuri mau menghampirinya terlebih dahulu.


"Ih, Bapak galak amat sih! Nuri cuma mau liat Bapak aja." Nuri tertawa malu.


Jika bukan di lingkungan asrama, sudah pasti Agung akan segera mengecup gadis yang berada di sampingnya saat ini. Nuri terlihat menggemaskan saat dirinya mengenakan telekung seperti ini.


Menahan untuk tidak menyentuh sesuatu yang sudah sah menjadi haknya, memang sangat menyiksa. Mengingat Nuri juga belum siap dengan pernikahan tersebut.


Agung hanya bisa pasrah, tinggal menunggu hitungan bulan lagi ia akan bebas untuk menyentuh Nuri.


Tak terasa keduanya pun harus terpisah. Menuju kearah tempat masing masing. Nuri mendadak harus kecewa berpisah dengan Agung. Padahal setiap hari ia bisa melihatnya.


Berjalan lesu memasuki kamar. Di dalam kamar telah sibuk para temannya menyiapkan peralatan sekolahnya.

__ADS_1


Rutinitas seperti biasa, mengantri untuk mandi.


Semoga saja dirinya tak telat masuk sekolah sebab, ia kedapatan antrian paling akhir.


__ADS_2