Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
My Love


__ADS_3

Setelah masuk ke dalam asrama, Nuri segera bergegas menuju lapangan upacara. Benar saja, dirinya sudah terlambat 10 menit.


Berdiri, menyusup di bagian tengah antara Ranta dan Galih.


"Tamat riwayatmu Nur!" bisik Ratna.


Sementara di depan sana guru sudah berjejer rapi menghadap semua siswa.


"Eh, tumben nih, Mr A telat. Tuh, lihat baru datang," bisik Galih kemudian.


"Keberuntungan memihak kepadamu Nur." Tika menimpali. Ketiga srikandi berhenti berbisik saat sang pimpinan barisan berdeham. Keempat gadis itu hanya senyum senyum sendiri.


...


Setelah selesai mengikuti upacara, keempat gadis itu segera menuju ke dalam kelas. Di dalam kelas Ratna begitu heboh saat Nuri terlambat namun, tak ada hukuman seperti biasanya.


"Harusnya kamu bersyukur Nur, andai saja Mr A gak telat, aku yakin kamu udah di suruh push up," cicit Ratna.


"Sering sering aja lah telat kayak gitu." Galih menimpali sambil tertawa.


"Hus, gak gak boleh kayak gitu!" Entah sadar atau tidak, seakan Nuri merasa tak terima jika Agung menjadi bahan ghibahan para temannya.


Ketiga srikandi melempar tatapan tak percaya. Baru kali ini Nuri membela Mr A. Biasanya gadis itu akan semangat saat meng-ghibahkan guru ter-galak itu.


Tika segera menghampiri. "Normal." Tika menyentuh dahi Nuri.


Disaat keempat srikandi itu saling bercerita, membuat sepasang mata menatap dengan perasaan jengkel. Bukankan dirinya lebih lama berada di sekolah ini, tapi mengapa semua siswa lebih perhatian kepada Nuri. Ia pun meremas rok panjangnya.


Hari senin memang hari sangat melelahkan pikiran sebab, harus menghitung rumus rumus matematika yang seperti benang kusut.


Tiada hari tanpa ulangan. Setelah jam istirahat, kelas Nuri mendadak diadakan ulangan mendadak.

__ADS_1


Semua siswa menggerutu.


"Ah, ibu kejam seperti ibu tiri," teriak salah seorang siswa.


Bu Hesti, guru kelas hanya menggeleng kepala melihat ketidak siapan para siswanya.


Seperti biasa Haris sebagai ketua kelas membagikan lembar kertas ulangan. Nuri tersenyum ramah saat Haris memberikan kertas itu kepada Nuri.


"Jangan macam macam!" Tika memberi peringatan.


"Senyum itu ibadah lho," sanggah Nuri.


"Lihat, akan ku laporkan sama Bapak," bisik Tika.


Mata Nuri terbelalak. Tidak mungkin Tika akan melaporkan kepada bapaknya di rumah sana.


Ah, mungkin mas Adam atau mas Azam, pikir Nuri.


....


Sore ini Nuri tak ada jadwal setoran hafalan. Ia berniat membamtu Mbok Dar masak di dapur.


Niatnya pun disambut baik oleh Nana dan Mbok Dar.


"Tumben nih, gak biasanya lho Mbak Nur kesini? pasti ada udang mau di bolk balik ya?" tebak Mbok Dar. Nuri dan Nana pun tertawa. Nana adalah anak mbok Dar yang lulus tiga tahun lalu.


"Ah, Mbok Dar bisa aja." Nuri pun segera mengambil bahan yang hendak di kerjakan.


"Mbok apa menu malam ini?" tanya Nuri.


Mbok Dar menjelaskan apa saja yang akan di masak untuk menu makan malam nanti. Ternyata sangat banyak yang harus di masak dan selama ini pekerjaan itu hanya di kerjaan berdua dengan Nana.

__ADS_1


"Lho, mbok, ini kok di lainkan?" Nuri melihat beberapa sayuran di sisihkan.


"O, itu. Kata Pak Agung beliau tidak mau ada penyedapnya, jadi minta di asingkan masaknya," jelas Nana.


Nuri hanya mengangguk. Walaupun Nuri adalah istri sahnya namun, sejauh ini dirinya sama sekali tidak tahu apa yang disukai dan apa yang tidak di sukai oleh Agung. Bahkan dia tidak tahu apa apa tentang Agung. Nuri bersedia menikah dengan Agung karena tak ingin mengecewakan bapaknya lagi.


Setelah sholat magrib, seperti biasa kegiatan selanjutnya adalah makan malam. Makan malam di bagi menjadi dua bagian. Untuk santiwan dan santriwati. Sedangkan untuk para guru, mereka akan makan di tempat Bu Nisa.


Saat hendak mengambil sayur, tangan Nuri tertahan sesaat.


"Mbak Nur, ini! Kata Pak Agung, ini buat Mbak Nur." Nana memberikan semangkok sayur yang ia masak sendiri tadi. Yah, percuma saja, niatnya ingin memasak untuk pak Agung pada akhirnya masak untuk di makan sendiri.


"Mbak Nur, adalah orang spesial untuk beliau. Selama ini beliau menyuruh saya dan mbok untuk melainkan masakan. Masakan untuk mbak Nur harus bebas dari penyedam rasa," bisik Nana.


Selama ini Nuri tak pernah memperhatikan sebab, saat makan ia lebih memilih terakhir. Disitu lah Nana dan Mbok Dar memberi Nuri sayur dan lauk yng baru.


"Mbak tenang saja, saya dan Mbok sudah tahu. Kalu ada apa apa kasih tahu saya, ya." Seketika Nana pergi saat melihat tiga Srikandi menghampiri Nuri.


Mendadak Nuri kesulitan untuk menelan masu yang sudah ia masukn kedalam mulutnya. Nuri takut jika selain Nana dan Mbok Dar, siap lagi yang mengetahui statusnya saat ini. Jika para temannya tahu pasti berbagi olokan akan ia dapat.


Nuri masih semangat membuka buka buku pelajarannya. Saat itu juga sebuah pesan masuk.


My Love


[ Bagaimana harimu? Satu hari tak melihat mu, terasa ada yang kurang. ]


Nuri mengernyitkan dahinya. Sejak kapan namanya bisa berubah My love?


[ Iya, kurang afdol kalau gak marah marah sama saya, kan? ]


Agung tersenyum membaca balasan dari Nuri.

__ADS_1


__ADS_2