Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Sarang Jin


__ADS_3

Saking bahagianya Maya langsung berhambur memeluk menantunya. Nuri yang mendapatkan pelukan sangat terkejut.


"Selamat ya, Ai. Mama ikut senang kalau kamu sekarang kamu sudah mengisi."


Nuri masih tak mengerti akan ucapan mama mertuanya.


"Maksud Mama apa?"


"Stttt... Mama tahu, kamu pasti ingin buat kejutan untuk suamimu 'kan?" Maya segera melepaskan pelukannya, memandang penuh bahagia atas kabar yang ia dengar siang ini.


Dalam hati ia bersyukur, sebentar lagi akan menimang cucu.


...


"Pa, beri Mama asupan gizi tiap hari dong! Tuh lihat, si Ai udah ngisi lho!" Maya menjeda sebentar ucapannya lalu bergelayut manaja di lengan suaminya.


"Sakarang 'kan Papa udah pensiun, jadi dua puluh empat jam waktu Papa untuk Mama," lanjutnya kembali.


Dayu mengerutkan dahinya. "Kan ada Mbak Mar Ma, suruh dia masak makanan yang banyak gizinya," ucap Dayu polos.


"Pa!" pekik Maya.


Dayu menatap Maya yang memasang wajah kesalnya. Sungguh Dayu tak mengerti maksud sang istri.


"Lho kok marah sih?" Dayu membalikkan badan Maya. Semenjak dari rumah Agung, sikap Maya sedikit berubah. Lebih manja dan lebih agresif.


Entah mungkin ketempelan penghuni rumah Agung sehingga Maya semakin manja dengannya


"Pa, kita buat adek untuk si Agung ya," ucap Maya manja.

__ADS_1


Dayu terperanjat seketika. Permintaan macam apa ini, seharusnya diusianya saat ini ia telah menimang -cucu bukan menimang anak.


"Ma, bukan Papa tak mau, tapi Mama tahu kan kondisi Mama. Apalagi sekarang sudah lanjut usia," tutur Dayu.


"O... jadi Papa mau bilang kalau Mama ini sudah tua." sarkas Maya.


Salah lagi, batin Dayu. Lelaki yang telah tiga puluh tahun menemani suka duka bersama wanita pujaan hatinya hanya mampu mengelus dada.


Sejatinya bukan tak mau. Maya yang telah di vonis oleh dokter susah untuk memiliki anak lagi membuat Dayu tak lagi berniat menambuat adik untuk Agung.


"Bukan gitu Ma," pungkas Dayu.


Maya berlalu meninggalkan Dayu yang masih menghela nafas panjangnya. Melihat tingkah istrinya yang membuat geleng kepala, Dayu segera menyusul. Jika di biarkan sudah di pastikan akan mengancam kelangsungan lele jumbonya.


"Ma, buka pintunya." Dayu menggedor pintu kamar yang telah terkunci dari dalam. Maya sangat merasa kesal dengan tehadap suaminya tak pernah bersedia untuk membuat adik untuk Agung.


Tidak bisa di biarkan, batin Dayu dalam ketegangan.


"Oke! kali ini Papa nyerah! kita mau buat dedek berapa lusin, Ma," ucap Dayu.


Mbak Mar yang tak sengaja melintas, hanya mampu menahan senyum dan tawanya. Baginya pemandangan seperti itu sudah biasa, apalagi suara suara laknat yang menodai indra pendengarannya.


....


Malam ini setelah memberi asupan gizi kepada sang istri, Dayu memutuskan untuk segera menemui Agung. Ingin memprotes, jin apa yang yang sudah merasuki Maya.


Agung dan Nuri yang masih sama sama sibuk dengan kegiatannya masing masing terkejut saat Dayu menelepon bahwa dia sudah berada di depan rumahnya.


"Papa kenapa? diusir oleh mak lampir?" ejek Agung.

__ADS_1


Sang Papa dengan sangat tajam meneliti setiap sudut ruangan rumah membuat Agung dan Nuri bertanya heran.


"Papa nyari apa?" tanya Nuri.


"Seperti rumah kalian harus di ruqyah," pungkas Dayu.


Sontak Agung dan Nuri saling bersitatap mendengar ucapan sang papa.


Kenapa dengan rumah ini, batin Nuri.


"Lho kenapa Pa," tanya Agung heran.


"Rumah kalian sudah menjadi sarang Jin," ucap Dayu.


Lagi lagi sepasang pasutri hanya melongo, kenapa sang papa bisa yakin jika di rumah mereka adalah sarang Jin.


"Pa, minum dulu." Secangkir teh hangat telah Nuri seduh. Berharap mertuanya sedang bercanda.


"Pokoknya Papa tetap akan meruqyah rumah ini! Jin disini sudah menempeli Mama mu!"


.


.


.


.


To Be continue ❤

__ADS_1


__ADS_2