
Banyak notifikasi masuk ke ponsel Nuri. Berbagi pertanyaan terlempar padanya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan ke empat sahabat yang super kepo. Untuk saat ini Nuri sengaja tak memberi tahu tentang pernikahannya dengan Agung, biarlah semua berjalan seperti biasanya.
Di kamar Nuri sedang mengemas bajunya ke sebuah koper karena besok pagi ia harus segera kembali ke asrama.
Sejujurnya ia sudah sangat merindukan suasana asrama terutama merindukan para sahabat keponya.
"Kamu yakin Mama akan ngijinin kamu kembali besok?" Agung yang baru saja keluar dari kamar mandi menghampiri Nuri. Seketika raut wajah Nuri berubah lesu. Dirinya ingat betul, saat Maya mengatakan bahwa liburnya telah di perpanjang kembali hingga satu bulan lagi.
"Tapi Pak, aku pasti akan ketinggalan pelajaran." Nuri terduduk di ranjang dengan lemas.
Setelah menikah dengan Agung, Maya lah yang menguasainya bahkan mertuanya lah lebih posesif ketimbang suaminya.
"Kamu turuti saja kemauan Mama, dia memang sudah lama menginginkanmu."
"Pak, tolanglah. Memang bapak mau kalau istri Bapak ini kelak tak lulus? Aku ini udah kelas tiga lho, Pak." Nuri membujuk Agung. Kini tangannya sudah bergelayut manja di lengan Agung. Sebisa mungkin Nuri menahan rasa malu atas tingkahnya. Jujur ia tak tahu bagaimana cara merayu seseorang, sebab selama ini Nuri tak pernah melakukan. Pacaran saja ia tak pernah.
"Kamu sedang menggodaku? Percuma, karena di sini Mama lah yang berkuasa." Kini Agung telah menjatuhkan tubuh Nuri di ranjang. Nuri merasa gelagapan.
__ADS_1
"Bapak mau apa?" Nuri sangat was was.
"Bukan kah kamu yang menggodaku? Bagaimana kalau kita lakukan itu, baru aku akan bilang sama Mama agar kita segera balik ke asrama." Sekuat tenaga Nuri mendorong tubuh kekar Agung yang hendak mencium bibirnya.
Naas kekuatan Nuri tak sebanding dengan kekuatan suaminya. Nuri hanya pasrah ketika bibir Agung mengecup lembut bibirnya.
Ada sensasi lain ketika Nuri membalas ciuman Agung, seperti ada kupu kupu berterbangan di perutnya. Debaran jantung tak menentu. Tangan Agung perlahan membuka kancing kemejanya. Baru sampai di kancing ke tiga pintu kamar telah terbuka.
"Astagfirullahaladzim," pekik Maya lalu menutup pintunya kembali.
Sepasang manusia telah kalang kabut menahan rasa malu. Awalnya Agung hanya ingin mengerjai Nuri, namun ia malah terbawa suasana karena Nuri membalas ciumannya.
"Semua karena Bapak!" Nuri mendorong tubuh Agung hingga terguling ke samping.
"Kok gitu? Bukankah kamu juga sangat menikmati?" Agung mengerutkan dahinya.
"Ah, sudahlah. Dasar bapak mesum." Nuri meninggalkan Agung dengan rasa kesal. Dirinya pun merutuki kecerobohannya sendiri. Bisa bisanya ia terbuai oleh suami semakin hari semakin mesem kepadanya.
__ADS_1
Namun saat sampai di depan pintu langkahnya terhenti. Membalikkan badan ke arah Agung.
"Bapak harus tanggung jawab."
"Pak, mau diletakkan di mana mukaku ini?" Guling telah terlempar ke tubuh Agung yang sedang berbaring.
Agung pun juga merasakan seperti Nuri rasakan, malu.
"Hei, tenanglah!" Agung menahan tangan Nuri yang sudah siap melemparkan bantal ke arahnya.
"Aku terlanjur malu Pak! Ini sudah ke dua kalinya bapak kepergok sedang macam macam. Bapak memang mesum."
"Iya maaf, aku ceroboh." Mengalah adalah salah satu senjata terbaik.
Hingga sampai malam tiba, sepasang pengantin baru tak kunjung keluar dari kamar. Bukan sibuk dengan kegiatan 21+ namun sedang memendam rasa malu bertemu dengan orang tuanya.
Berbeda dengan pemikiran Maya, wanita itu menyangka bahwa anak dan menantunya sedang melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda akibat kecerobohannya. Dan sebentar lagi ia akan menimang cucu.
__ADS_1