Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Yang tertunda


__ADS_3

...Rasa yang tak bisa dilupakan itu adalah...


...rasa sakit yang membekas dan menganga kembali...


...green_tea...


Jujur, aku belum bisa melupakan mas Agung dan Nuri. Apalagi saat melihat mas Agung nambah ganteng 🀣 pengen peluk banyak² ( Halu )


🌸 🌸 🌸


Siang itu cuaca di luar sedang turun hujan. Brayan dan Briyan, kedua bocah kecil itu memilih bermain di dalam kamar dengan mbak Inah. Sementara itu, Nuri wanita yang sudah menjadi sosok ibu rasanya enggan lagi untuk melanjutkan kuliahnya.


Jika bukan karena paksaan dari Agung, Nuri tak ingin melanjutkan kuliahnya lagi. Di rumah mengurus dua bocah kecil lebih menyenangkan walau kadang harus membuatnya sakit kepala.


Agung yang baru saja pulang langsung menuju kamar. Kepalanya yang sedikit basah karena ia harus berlari dari garasi ke pintu utama.


"Sayang ambilkan handuk!" titah Agung yang baru saja masuk kamar.


Nuri yang terkejut segera mengambilkan handuk untuk suaminya yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Mas, ini handuknya," teriak Nuri.


Agung membuka pintu kamar mandi lalu menarik handuk beserta tangan Nuri.


"Aa... mas," pekik Nuri kala Agung sudah berhasil memeluk Nuri dari belakang.


Agung yang sudah membuka bajunya, langsung menggiring Nuri ke dinding lalu mengunci tubuh Nuri. Menatap dalam wajah istrinya lalu mengecup pelan bibirnya.


"Mas ingat Rayan dan Riyan belum tidur," ucap Nuri.


Agung terkekeh. "Memang kenapa?" tanya Agung.


"Kenapa pikiran istriku sekarang lebih mesum ya?" goda Agung. Seketika wajah Nuri memanas. Apakah kali ini pikirannya salah? Tidak mungkin, suaminya lah yang mesum.

__ADS_1


"Kepalaku kena hujan, aku hanya ingin kau memijatnya," ucap Agung selanjutnya.


"Tenang, aku tidak meminta lebih." Agung berjalan ke bathtub.


Nuri mendesah pelan. Mungkinkah tidak lebih, aku tidak yakin. batin Nuri.


Sesuai permintaan Agung, Nuri memijat kepala Agung, setelah lima menit Agung meninta turun ke bahu hingga menyuruh Nuri untuk menggosokkan punggungnya.


"Mas tadi bilang hanya memijat kepala, kenapa sekarang menggosok punggung?" gerutunya.


Agung hanya tersenyum melihat Nuri merasa kesal.


Apa jadinya jika dedek yang di bawah sana juga meminta jatahnya.


"Sayang, sepertinya kamu membangunkan sesuatu yang tertidur," bisik Agung kala tangan Nuri mengusapkan sabun cair are perut Agung. Ya, Agung malah meminta Nuri memandikan seperti Nuri memandikan dua bocah keriting hasil cinta mereka.


"Mas, bilang aja langsung kalau sebenarnya mas Agung hanya modus," ucap Nuri kesal.


Tak bisa terelakan lagi, bibir mereka telah menyatu. Saling ******* dan menghisap. Agung menekan tengkuk Nuri, sedangkan tangan Nuri mengalung di leher Agung.


Ciuman panas itu dengan perlahan turun hingga mencapai pada sebuah benda yang kini sudah menjadi miliknya sepenuhnya setelah dua tahun harus berbagi dengan kedua anaknya.


Kini benda itu terlihat besar dan menantang, hingga Agung tak akan bisa tidur jika belum menikmati candunya.


Nuri menggeliat memejamkan matanya kala Agung sudah mulai menghisap salah satunya.


"Ma... Pa... Mama... Papa. Kalian dimana?" Terdengar suara cempreng kedua bocah di luar.


Seketika Nuri mendorong tubuh Agung.


"Kan mereka pasti datang," ucap Nuri.


"Kebiasaan kamu gak pernah ngunci pintu sih," protes Agung.

__ADS_1


"Lha, kok aku sih, Mas? kan tadi aku udah bilang kalau si kembar belum tidur. Ngeyel sih." Nuri yng sudah basah pun mengambil handuknya.


"Sayang, Mama mandi dulu ya." Nuri menyembulkan kepalanya agar sang anak tak mencari keberadaan lagi.


"Mama mandi lagi?" protes Brayan. "Kan tadi udah mandi," lanjutnya lagi.


Nuri harus bersabar dan memutar isi kepalanya kala menghadapi anak tertuanya.


"Iya, Mama gerah sayang," ucap Nuri.


"Kan hujan Ma, Rayan dan Riyan aja kedinginan."


Skatmat sudah. Nuri hanya mampu menelan saliva. Beruntung kedua bocah kecil itu tak mengetahui jika sang papa ada di dalam bersamanya.


Dan Nuri meminta kedua bocah itu menunggu di kamar mereka. Kini ia akan memberi pelajaran dahulu kepada suaminya.


.


.


.


.


Eh, tanganku gatel pengen nulis setelah dapat beberapa DM minta ACDP di lanjutkan.


Sebelumnya uthor terharu atas dukungan kalian untuk cerita ini.


Terimakasih ya, sudah menjadi vitamin untuk uthor.


Peluk cium untuk kalian semua 😍😘


Kalo seperti ini gagal end dong πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2