Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Move on


__ADS_3

Sesampainya di area kompleks asrama Nuri meminta di turunkan di simpang sebelum masuk ke pondok. Dirinya telah mengirim sms kepada Tika agar di jemput. Dia pun berpesan agar di tunggu di ruangan Bu Nisa. Tak ada pilihan lain selain menurunkan Nuri di pinggir jalan, semua Agung lakukan demi nama baik Nuri.


Suasana sangat heboh saat Nuri memasuki kamar dimana dia sudah di tunggu dan dirindukan para temannya.


"Kamu kemana aja sih? Kita udah kangen." Ratna dan Galih berhambur memeluk Nuri bersamaan.


Nuri berusaha melepaskan namun Tika malah ikut memeluk erat. Keempat gadis itu akhirnya tertawa bersama melihat kekonyolan yang mereka lakukan.


Suasana kamar masih sepi sebab para penghuninya sedang belajar di kelas. Sementara ketiga sahabat Nuri malah pulang ke asrama demi ingin segera bertemu dengan Nuri. Bermodal sebuah alasan mengantar Tika yang sedang kurang sehat, Ratna dan Galih akhirnya bisa menikmati waktu bolosnya.


"Nih, buat kalian," ucap Nuri sambil memberikan beberapa paper bag. Dengan wajah berbunga ketiga sahabatnya langsung menyambar tak lupa lupa mengucapkan terimakasih kepada Nuri.


"Yah, Nur," keluh Galih.


"Udah bosan kali makan kayak ginian," gerutu Ratna.


Nuri dan Tika, keduanya malah cekikikan melihat ekspresi Ratna dan Galih saat mengetahui isi dalam paper bag tersebut. Bakpia patuk dengan lambang angka 99.


"Disyukuri ajalah, masih untung aku ingat sam kalian," kata Nuri.


Nuri yang merasa lelah pun akhirnya bisa beristirahat, walau hanya sebentar sebab tak berapa lama para penghuni kamar sudah memasuki kamarnya.

__ADS_1


Terkejut, beberapa santri berhambur menghampiri Nuri. Mulai bertanya dari A sampai Z. Dengan sabar, Nuri meladeni pertanyaan para teman satu kamarnya. Bagaimanapun, mereka semua adalah bagian dari keluarga Nuri saat tinggal di sana.


Di ruangan seberang, Agung terlihat sedikit lelah. Sesampainya di pondok, ia langsung segera mengajar tiga kelas. Mendapati waktu telah menunjukkan pukul 14.30, Agung segera bergegas untuk menemui pak Dzaki dan bu Nisa.


Pak Dzaki beserta istrinya memberi selamat atas pernikahannya dengan Nuri. Agung meminta kedua pengurus asrama itu untuk menyembunyikan pernikahannya, sebab ia takut itu akan berpengaruh buruk terhadap Nuri, mengingat Nuri masih berstatus sebagai pelajar.


Menikah muda walau dengan niatan baik, kadang akan menimbulkan sebuah cibiran yang negatif untuk pasangan tersebut. Tak jarang mereka akan mengklaim telah terjadi kecelakaan.


Nuri mendadak gusar saat melihat pesan yang tertera di layar ponselnya. Alasan apa yang harus ia katakan kepada seluruh anggota kamar bahwa dirinya ternyata masih akan libur selama satu bulan lagi.


"Kamu sakit?" Tika yang selalu peka terhadap situasi dan kondisi segera menghampiri Nuri.


Gadis itu hanya menggeleng lemah.


"Hah? Pulang? Bukanya kamu baru sampai? Kenapa harus pulang lagi?" setengah berteriak Tika tak percaya.


"Siapa yang mau pulang lagi?" tanya santri lainnya.


"Kamu mau pulang lagi, Nur? Apa ada yang tertinggal di rumahmu?" tanya salah seorang temannya lagi. Sementara Ratna dan Galih masih tak percaya dengan kekonyolan yang di buat oleh Nuri.


"Serius nih?" Tika melompat dari ranjangnya.

__ADS_1


Nuri memang mengatakan bahwa kedatangan kesini hanya untuk meminta ijin pihak asrama untuk memberinya ijin libur selama satu bulan.


"Kamu mau ngapain di rumah Nur? Kayak ngambil cuti hamil aja," sambung Ratna.


Nuri hanya menahan senyumnya. Belum saatnya mereka tahu bahwa dirinya telah menikah dengan Mr A termasuk juga dengan Tika.


Melepas rasa rindu dengan saling bercanda, tak terasa waktu sudah memasuki waktu Ashar. Para penghuni kamar segera bergegas untuk menuju masjid untuk sholat berjamaah.


Nuri tersenyum lebar saat netranya menangkap Agung telah berdiri di depan, kali ini bukan barisan depan, tapi yang terdepan, yaitu imam.


Ada rasa bahagia dan bangga saat suaminya bisa mengimami seluruh anggota pondok termasuk dirinya.


Andaikan saja saat ini ia tak berada di tempat umum, sudah bisa di pastikan Nuri akan mencium telapak tangan Agung setelah usai sholat.


"Nih anak kerasukan jin apa sih?" gerutu Galih yang sedari tadi melihat Nuri tersenyum sendiri.


"Udah move on nih, dari ustad Hanaf?" ejek Tika.


Entah mengapa bayangan ustad Hanaf hilang begitu saja di gantikan bayangan Agung yang tampan dan mempesona baginya.


Secepat itukah Nuri jatuh cinta pada Agung?

__ADS_1


Ah, memang sudah semestinya ia hanya mencintai Agung seorang, cepat ataupun lambat.


Tak pantas seorang istri mengagumi lelaki lain, meskipun dalam rumah tangganya belum bersemi rasa cinta. Nuri yakin dengan berjalannya waktu ia bisa mencintai Agung segenap hatinya, begitu juga dengan Agung.


__ADS_2