
Setelah lelah berada di pusat pembelanjaan akhirnya Kedua bocah itu langsung tertidur setelah sampai di rumahnya.
Begitu juga dengan Nuri, bedanya wanita itu hanya menyandarkan tubuhnya di atas sofa. Membiarkan belanjaan berserak di ruang tamu karena pak Mun dan Mbak Inah sengaja di cutikan oleh Agung.
"Capek?" tanya Agung yang ikut merebahkan tubuhnya di samping Nuri.
Nuri hanya melirik dan mendengus kesal. Sudah tahu kenapa Harus bertanya.
"Kenapa? Mas Agung mau pijitin?" Nuri balik bertanya.
"Mau sih tapi..." Agung menggantung ucapannya.
"Apa? Jangan minta imbalan. Aku masih kesal sama kamu," ujar Nuri.
Agung semakin ingin tertawa melihat wajah mulai bersemu. Entah kenapa ia ingin mencubitnya.
"Maksudnya imbalan itu apa?" Agung pura pura tak tahu.
"Ya, itu... Tauk ah, Mas Agung nyebelin plus gak peka. Masa mijitin istri gak ikhlas," rajuk Nuri.
"Hei... kok malah ngambek sih? Emang aku minta apa coba?" tanya Agung lagi.
"Minta apa lagi kalau gak minta itu," jawab Nuri cepat.
"Iya, itu apaan sih?"
__ADS_1
Merasa kesal karena di permainan oleh sebuah kata, Nuri berencana meninggalkan tempat itu. Saat berdiri, tangannya di tahan oleh Agung.
"Mau kemana? Katanya capek? Sini aku pijitin." Seketika tubuh Nuri terduduk kembali.
Perlahan Agung mulai memijit telapak kaki hingga ke betisnya. Nuri hanya menikmati setiap pijatan yang ia rasakan. Kalau seperti ini ingin sekali ia meminta Agung untuk memijit seluruh badannya tapi mengingat dia masih kesal ia urungkan niatnya. Sebab Nuri yakin pasti akan berujung ke arah itu, di tambah lagi Agung sudah berpuasa hampir satu minggu. Ia tidak akan menjamin keselamatan dirinya sendiri.
"Ai, kamu kan udah di pijit, sekarang bisakah aku..."
"Stop! Aku lagi datang bulan, Mas," kilah Nuri.
Agung lantas tertawa, "Udah mulai mesum kamu ya? Apa karena lama gak tersentuh?" ledek Agung.
"Jadi Mas Agung minta apa?" Wajah Nuri benar benar merona. Tidak mungkin Nuri salah menilai suaminya.
"Ai, Ai... aku itu cuma mau minta kamu panggil aku seperti tadi," bisik Nuri.
"Yang mana?" ketus Nuri.
"Panggil aku Pa- pa,"
"Eh... Aku kan istri mas Agung, bukan anaknya! Masa aku panggil papa?" protes Nuri.
"Karena lebih seksi." Seketika sebuah bantal sofa mendarat di wajah Agung. Sang empunya hanya tertawa.
Sore hari, karena tidak ada mbak Inah semua kerjaan rumah di ambil alih oleh Nuri, begitu juga dengan Agung.
__ADS_1
Lelaki itu senantiasa membantu Nuri, dari mulai menyapu hingga memandikan anaknya meski sempat mendapat penolakan dari salah satu anaknya namun, akhirnya Agung berhasil membujuknya.
Nuri sibuk memasak di dapur, sekali kali mengelap keringat yang keluar.
Tiba tiba ia terkejut saat ia merasakan sesuatu yang menabrak kakinya.
"Yah, kok ke dapur sih," gerutu Briyan.
"Bilang aja kamu gak bisa mengendalikannya," ejek Brayan.
"Siapa bilang gak bisa? Aku udah pandai kok, iya kan Pa?" Briyan mencari pembelaan.
"Iya, tapi lebih baik mainnya di taman belakang, kan Mama lagi masak," ucap Agung.
Nuri yang menyadari hal itu langsung tersenyum.
"Tunggu Mama siap masak, habis itu kita bertanding siapa yang menang, bagaimana?" tawar Nuri.
"Oke, aku siap mengalahkan Mama," ujar Brayan.
"Aku juga," sahut Briyan.
"Oo... Jadi lawan kalian cuma Mama? Kalian gak ingat Papa juga punya." Tak mau kalah Agung mengelurkan mobilan miliknya lalu menjalankan keluar.
"Ayo kejar Papa," teriak Briyan semangat.
__ADS_1
Dengan antusias Brayan segera menjalankan mobilan miliknya untuk mengejar mobilan milik Agung dan Briyan.
Nuri mengamati setiap gerakan anak dan suaminya. Ia sangat berharap dengan seperti ini, Brayan bisa melupakan kejadian hari itu dan bisa lebih dekat lagi kepada sang papa seperti sedia kala.