
Halo pada Reader tersayang..
Berhubungan hari ini Otor lagi baik moodnya ACDP up lebih awal.
makasih yang udah ngasih suntikan Vitamin buat otor.
Like dan komen kalian adalah vitamin otor. jadi jangan lupa tinggalkan jejak setelah baca.
Selamat membaca 😍
Benar saja, Nuri sangat susah di bangunkan. Bahkan bakso yang di pesankan Tika ia sembunyikan di laci meja saat jam istirahat sudah berakhir.
Suasana mencekam saat guru telah memasuki kelas. Pandangannya seketika terhenti ketika menangkap sosok Nuri meletakan kepalanya di atas meja.
Tika berusaha membangunkan Nuri namun tetap saja bocah itu tak bisa bangun.
“Kenapa? Sakit?” tanya Mr. Agung yang telah berdiri di samping Nuri.
Tika yang ditanya bingung akan menjawab apa.
“Ketiduran itu pak,” teriak salah seorang siswa.
“Maaf pak, tadi malam Nuri tidur larut untuk menghafal hafalannya karena nanti sore adalah jadwal Nuri setor hafalan.” Tika sedikit gugup saat menjelaskan.
Mr. Agung pun segera lembali ke meja guru dan Membiarkan Nuri tertidur di kelas sebab memang tak bisa di bangunkan.
Pelajaran berjalan seperti biasa. Namun di mata pelajaran ini tak ada yang berani melempar candaan kepada gurunya.
“Catat dengan baik halaman tugasnya, lusa harus di kumpul semua tanpa ada alasan apapun.” Mr. Agung memberikan buku paket yang lumayan tebal.
“Gak salah nih tugasnya?” bisik Galih.
“Tau ah, tanya aja sono,” saran Ratna.
Namun tak ada yang berani memprotes walaupun dalam benak ingin memaki gurunya.
__ADS_1
Sudah dua jam Tika, Galih dan Ratna masih setia menunggu Nuri bangun.
“Tumben tuh si Mr A gak marah sama nih bocah yang tidur di kelas,” ungkap Ratna yang melahap bakso pesanan untuk Nuri tadi.
“Lagi kesabet jin mushola tuh, makanya moodnya baik,” timpal Galih.
Nuri pun mulai menggerakkan tangan dan kepalanya. Perlahan membuka mata dan mengedarkan pandangannya ke samping.
“Kok sepi,” gumamnya.
“Bangun juga akhirnya nih kebo,” ledek Galih. Nuri menatap ketiga temanya dengan polos.
“Tumben sepi? Belum ada Bel masuk?” Seketika pertanyaan Nuri di tertawakan oleh ketiga temannya.
“Dasar Kebo ayo pulang, capek tau nungguin kamu bangun” Tika yang sudah merasa lapar segera menarik lengn Nuri. Yang bersangkutan hanya diam menurut saja.
Nuri terbelalak saat mendengar suara Adzan Ashar.
Loh. Jam berapa ini batinnya.
“Nur, kamu sakit? Kok pucat wajahmu?” tanya Galih.
Sedangkan yang di tanya hanya mengangkat kedua bahunya. “Gak tau, tapi mataku pusing. Eh, maksudku kepalaku.”
“Ya ampun, panas ” pekik Tika saat menempelkan telapak tangn di dahinya.
Ke empat gadis itu akhirnya memutuskan untuk segera pulang ke asrama namun saat di depan pendopo Azam menghentikan langkah mereka.
“Lho, kok masih pada pakai seragam? Nuri kenapa?”
“Kami menunggu Nuri terbangun di kelas pak, habis itu mampir di masjid sholat Ashar.” jelas Tika.
Azam yang mendengar pernyataan dari Tika merasa khawatir terhadap adiknya. Sebab Nuri mempunyai penyakit Asam lambung.
“Ya udah, segera bawa dia ke asrama, dan segera makan. Jangan sampai asam lambungnya naik lagi.” Lagi lagi ketiga sahabatnya di buat ternganga oleh ucapan Azam. Bahkan Azam lebih tahu segalanya tentang Nuri di banding teman satu kamarnya yang sudah bersama selama delapan bulan.
__ADS_1
Banyak yang ingin di tanyakan, namun mereka urungkan karena Nuri merasa badannya terasa lemas.
Sesampai dikamar, Nuri segera merebahkan di ranjang Tika, sebab ia tak sanggup lagi untuk naik ke ranjang nya yang ada di atas.
“ Kamu gak papa?” Ratna merasa sangat cemas.
"Tik, buruan panggil Bu Nisa, aku takut Nuri kenapa napa," titah Galih.
Begitu juga dengan Tika, ia serega keluar memanggil Bu Nisa.
Di kamar Galih dan Ratna merasa sangat takut karena Nuri mengatakan matanya panas dan kepalanya sangat nyeri namun hanya sebelah. Galih berusaha memijat pelipisnya namun Nuri malah menjerit kesakitan.
“Ada apa?” Dengan tergopoh bu Nisa segera menghampiri Nuri. Dengan segera tangan lembut bu Nisa memeriksa suhu tubuh Nuri. Makin lama Nuri malah mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya. “Kita harus ke Bidan,” ucap bu Nisa. Kemudian ia merogoh ponselnya.
“Asalamualaikum Adam, bisa antar ibu ke bidan?”
Terdengar dari seberang Adam menyetujui permintaan bu Nisa tanpa bertanya siapa yang sakit.
Adam sudah biasa jika pak Dzaki sedang tidak ada maka dirinyalah orang pertama yang di mintai pertolongan, sebab Adam sudah mereka anggap sebagai keluarganya.
Adam terbelalak ketika melihat Nuri keluar di papah Tika dan Galih. Sementara di belakangnya bu Nisa menggendong Zahra.
“Lho bu Nuri kenapa?” Adam segera Menghampiri adiknya.
“Gak tau mas, mending sekarang kita ke Bidan dulu aja. Ibu takut mas.” Bu Nisa terlihat sangat cemas.
Sebelum masuk ke mobil bu Nisa menyerah Zahra kepada Ratna. Ia tak mungkin membawa anaknya.
“Tika, ada apa dengan Nuri?” Adam terlihat sangat khawatir. Tika pun menjelaskan secara detail kepada Adam.
Aneh, tuh bapak killer bisa juga khawatir sama muridnya. Batin Tika.
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Komen dan like kalian adalah semangat Author.
__ADS_1
Please Vote Komen and Like