Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Benalu


__ADS_3

Benar saja, tak ada yang gratis di dunia ini!


Nuri harus membayar mahal jasa Agung yang telah membantu mengerjakan tugas kuliahnya.


Pergelutan diatas ranjang adalah bayaran yang diminta oleh suaminya namun, kali ini Nuri harus memegang kendali hingga bibit kecebong keluar sempurna menyembur ke rawa berlembah.


Setelah sama sama puas mendapatkan puncak kenikmatan, Agung segera membalikkan tubuh Nuri. Menindihnya, memancing kembali juniornya untuk bangun.


Benar saja, lima menit merangsangnya, kini tongkat junior gagah kembali dan siap untuk menjajahi rawa berlembah.


"Serius, Mas?" desah Nuri. Nuri melepaskan tautan bibirnya.


"Tadi kamu yang puasin aku, sekarang gantian aku yang akan puasin kamu," Agung sudah mencari jalan menuju rawanya.


Desahan Nuri membuat gairah Agung kian memuncak.


Hampir lima belas menit Agung berpacu dalam ritme sedang, menggantu berbagi gaya hingga akhirnya tubuhnya bergetar hebat tatkala para kecebong hendak menyembur ke rawa.


Ia segera mengecup kening Nuri lalu mengelus perutnya. "Cepat berkembang ya, kecebong papa."


Agung mengecup kembali perut Nuri.


Nuri hanya mengulum senyum mendapatkan perlakuan luar biasa dari suaminya. Harapan Agung terlalu besar untuk segera memiliki buah hati, dengan setitik rasa penyesalan Nuri hanya mampu mengucap kata maaf dalam hati.


...


"Mas, nanti gak usah jemput ya, aku ada latihan eskul di kampus." Nuri mengancingkan kemeja Agung.


Rambut panjang tergerai masih terlihat basah. Agung memainkan rambut Nuri.


"Bersama Juna atau Rian." Agung tetap memainkan ujung rambut istrinya.


Semalam setelah penjajah Agung sengaja menanyakan sosok lelaki yang bersamanya siang tadi. Nuri menjelaskan dengan sejelas jelasnya tentang siapa itu Rian. Bahkan ia juga membuat pengakuan bahwa dulu ia pernah mengidolakan sosok Rian, namun itu dulu, jauh sebelum Nuri bertemu sosok Agung yang mesum.


"Mulai deh," gerutu Nuri.

__ADS_1


"Mas, kita udah sepakat 'kan tadi malam untuk saling percaya. Masa Mas Agung gak percaya sama aku." Nuri mencoba mengingatkan hasil diskusi tadi malam.


"Aku selalu memberikan kepercayaanku penuh kepada mas Agung jadi, mas juga harus memberikan kepercayaan yang penuh juga untukku," sambung Nuri lagi.


Kini tangan Nuri sudah mengalung di leher suaminya. Sekan Nuri sedang memancing sesuatu yang tengah tertidur.


"Kamu yakin hari ini kita akan pergi atau.."


Belum sempat Agung menyelesaikan ucapanya, Nuri sudah berlari terlebih dahulu.


"Memang, kamu Ai," gumam Agung sambil tersenyum melihat Nuri tertawa ria setelah berhasil mengerjai suaminya sendiri.


.....


"Ih, Mas, buka dong kuncinya, ntar telah loh."


Nuri kesulitan membuka pintu mobil yang sengaja Agung kunci otomatis.


"Jatah aku mana? kasih dulu, baru aku bukain," ujar Agung dengan senyum penuh kelicikan.


"Bukan disitu tapi disini." Agung menunjukkan bibirnya yang telah di majukan.


Nuri hanya terkekeh geli melihat Agung seperti anak kecil yang sedang merengek.


"Tapi bentar aja ya," ucap Nuri. Agung pun mengangguk pelan.


Berawal dari kecupan biasa hingga saling menghisap. Kegiatan panas tersebut berlangsung lebih dari lima menit. Nuri melepaskan diri kala ia merasa kehabisan oksigen.


"Mas curang," gerutunya sambil merapikan jilbabnya kembali.


Agung tertawa melihat wahah kesal Nuri. Mengusap pucuk jilbabnya lalu tersenyum.


"Sudah sana turun, atau akan benar benar terlambat."


"Dasar Mas Agung Mesum!" decaknya.

__ADS_1


.......


Rian dan Zahra, ternyata dua orang temannya sedang duduk di anak tangga, menunggu kedatangan Nuri.


"Nah, itu dia." Zahra menunjuk ke arah Nuri yang berjalan menghampiri mereka.


Rian tersenyum lebar. Akan ada banyak daftar pertanyaan yang siap ia layangkan pada teman lamanya itu.


Na


Namun, senyumnya tak bertahan lama saat Juna telah menyapa Nuri terlebih dahulu.


"Hai, bidadari cantik, selamat pagi," sapa Juna.


"Dasar benalu," gerutu Rian.


Nuri hanya tersenyum tipis, lalu mengajak Zahra untuk seger naik ke lantai atas.


Rian dan Juna yang terabaikan telah diacuhkn oleh Nuri hanya terdiam menatap kepergian perempuan tersebut.


"Kak Juna emang terkenal ganteng, tapi sayang Nuri ternyata tak tertarik dengn kakak." Setelah mengejek Juna, Rian-pun segera meninggalkannya.


"Sabar juna. Cinta memang penuh perjuangan." Juna mengusap dada, membuang nafas kasarnya lalu memilih segera menuju lapangan, sebab pagi ini ia ada latihan basket.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Mana nih hadiah untuk uthor?


__ADS_2