
...Aku akan melepaskan mu,...
...saat kau telah melepaskan ku....
...Namun, aku juga akan bertahan...
...jika kau tetap mempertahankan ku....
Tubuh Nuri terasa lemas seketika. Meski tak percaya namun, itulah kenyataan.
"Mama, Papa tahu?" lirih Nuri.
Agung mengangguk pelan. Pandangan matanya kosong ke depan.
"Mama tak merestui hubungan kami, sejak Via ternyata juga bermain di belakangku?" kenang Agung.
Kecewa memang, tapi mau di apakan lagi bubur yang sudah basi?
"Mas yakin, itu anak mas Agung? lalu dimana di sekarang?" Nuri masih dalam keadaan tidak percaya.
"Entahlah, yang jelas aku yang membuka segelnya," ucap Agung.
mata Nuri terbelalak seketika. Badannya tegang dan gemetar.
Entah menyakitkan atau tidak, Agung tak ingin larut dalam kubangan masa lalu. "Dia pergi sebelum waktunya, entah di sengaja atau tidak." Agung terlihat tak berdaya.
Nuri menahan sesak di dalam dadanya. Mencoba kuat meski dia sangat kecewa. Nuri juga sadar, Agung lebih dahulu mengenal Via dan mencintainya, ketimbang dirinya yang baru setahun terakhir ini bersamanya.
"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengenang masa lalu. Semua keputusan ada di tangan mas Agung, mempertahankan masa lalu atau mempertahankan masa depan! Aku tidak akan menghakimi mas Agung meski aku kecewa. Pilihan ada di tangan mas, aku akan pergi jika mas Agung memilih masa lalu tapi, aku akan bertahan jika mas Agung benar benar mempertahankan aku dan tak akan pernah kembali pada masa lalu!" ucap Nuri tegas lalu beranjak ke kamar, meninggalkan Agung yang masih terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
Meski hatinya telah ia berikan sepenuhnya untuk Nuri namun, rasa bersalah tetap menghantui hidup Agung. Hanya Tuhan yang tahu, apakah dosa lampau bisa terampuni dengan ia bertaubat.
Nuri terisak dibawah selimut tebal. Bahunya naik turun, membuat Agung merasa semakin bersalah pada sang istri karena tak pernah membahas masalah ini sebelumnya.
"Ai, aku benar benar minta maaf," lirih Agung.
.....
Sepertinya menyetujui ajakan bu Rt adalah solusi yang tepat untuk Nuri saat ini.
Pengajian rutin yang diadakan di mesjid sekitar kompleks. Kebetulan ustad yang akan mengisi acara adalah paman ustad muda kompleks tersebut.
Nuri memang pernah mendengar dari Bu Endah tentang ketampanan ustad muda yang bernama Yusuf tersebut.
Malam ini, seperti biasa Agung juga belum pulang meski waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Menepis prasangka buruk, Nuri berharap Agung memang betul sedang lembur.
Nuri hanya tersenyum. Berjalan menuju masjid dan menunggu yang lainya, para ibu ibu dengan ceria membicarakan ustad yang akan mengisi acara malam ini.
"Sudah matang tapi sayang, masih melajang," seru Bu Endah lirih.
"Yo jelas, sebagai ustad harus mencari pendampingan yang tepat! jangan sampai salah langkah. Selain bebet dan bobot, keimanan adalah yang utama," sahut bu Zubaidah.
"Jadi kalau kayak aku gak masuk rekapan gitu ya?" seloroh Elsa.
"Dasar janda genit!" ujar Bu Endah.
Sepanjang perjalanan Nuri hanya terdiam menyimak ghibahan ibu ibu kompleks.
__ADS_1
Hatinya ikut tersayat saat Bu Zubaidah mengatakan bahwa istri adalah cerminan suami. Lelaki baik pasti akan mendapatkan perempuan yang baik juga. Begitu pula sebaliknya.
Pikiran Nuri berkelana, mengingat kembali masa lalunya. Apakah dia termasuk wanita yang buruk di masa lalu hingga harus menikah dengan Agung lelaki brengsek di masa lalunya?
Suasana masjid terlihat sangat ramai selepas Isya'. Jamaah berbondong pergi ke masjid demi pencerahan jiwa.
Nuri berbaur dengan para ibu ibu lainnya. Meski jumlah mereka hanya sekitar dua puluhan namun, terasa sangat rukun. Setahu Nuri kebanyakan orang yang tinggal di perumahan atau kompleks, mereka enggan untuk bersosialisasi dengan para tetangganya.
Nuri bersyukur kompleks yang ia tempati menjunjung tinggi keramahan dan kekeluargaan.
Suara mic sudah mulai berdengung itu tandanya acara akan segera di mulai. Dalam benak, Nuri menyayangkan suaminya tak bisa menghadirinya.
Jika saja Agung datang, Nuri telah menyiapkan pertanyaan untuk sang ustad, agar memberi pencerahan tentang masa lalu yang kelam.
Dada Nuri bergetar, saat mendengar suara salam dari sang ustad yang begitu familiar untuknya.
Menatap ke depan mimbar, jantung Nuri mulai berisik.
Lidahnya kelu saat ingin mengucap nama sang ustad.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bagi pembaca cerita ini dari awal, kalian pasti tahu betapa hancurnya tulisan ini di awal bab. Aku hanya uthor receh, masih dalam belajar namun, perlahan aku memperbaikinya. Kala itu aku sama sekali belum mengerti bagaimana cara nulis yang baik.
Pernah hiatus, lalu kembali lagi kerena lulus kontrak, saat ingin mengganti judul ternyata sudah tidak bisa, kan jadi syedih, judulnya religi, tapi isinya menodai pikiran 🤣🤣