Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Bolehkah?


__ADS_3

"Apa kau tak merasa lapar?" Agung menatap Nuri yang sedari tadi hanya membaca novel di atas ranjang, sementara hari sudah hampir sore.


Nuri melewatkan makan siangnya. Berbeda dengan Agung, lelaki itu biasa saja keluar masuk kamar seperti sedang tak memikirkan suatu masalah. Mungkin bukanlah sebuah masalah namun Nuri sangat merasa malu luar biasa.


"Belum Pak." Terpaksa Nuri berbohong.


"Baiklah, kalau lapar jangan ditahan. Mama sama Papa malam ini keluar kota," ucap Agung.


Nuri mengambil nafasnya berat. Bagaimanapun ia harus keluar menemui mertuanya sebelum mereka berangkat. Nuri tak ingin memberikan kesan buruk terhadap mertuanya.


"Mama di mana Pak?" tanya Nuri.


Nuri telah berdiri di ambang pintu sedangkan Agung mengikuti langkah istrinya dari belakang.


"Mama masih di kamar. Mereka sedang berkemas."


"Baiklah, mari kita temui mereka." Tanpa diduga Nuri menarik lengan Agung. Mereka memilih menunggu di ruang tengah sambil menonton televisi.


"Apakah mereka akan lama?" tanya Nuri.


Agung mengangkat bahunya. "Aku tak tahu, kenapa?"


"Hanya menanyakan saja." Nuri hanya ingin memastikan saja. Apalagi besok pagi Agung juga akan kembali ke pondok. Jika mertua dan suaminya sama sama meninggalkan rumah, maka hanya dirinya dan para pekerjaan rumah yang tertinggal.


Agung belum terbiasa dengan suasana berdua dengan Nuri, walaupun sebenarnya ia sangat bahagia bisa berdua dengan istri kecilnya, namun ia menyadari bahwa Nuri masih menjaga jarak terhadapnya.


Terlihat Papa mertua menyeret sebuah koper besar di ikuti sang istri berjalan menenteng tas bermerek ternama.

__ADS_1


Melihat kedua mertuanya sudah siap, Nuri segera menghampirinya.


"Mama sama Papa mau kemana?" Nuri berjalan mendekat.


"Mama sama Papa mau ke Surabaya selama kurang lebih satu minggu. Kalian jaga rumah baik baik ya." Maya tersenyum manis kepada menantunya.


"Tapi Mah, besok pagi Pak Agung sudah kembali ke pondok, berarti aku di rumah sendiri dong? Bagaimana jika besok aku juga ikut kembali ke pondok." Nuri merayu sang mertua.


"No! Kamu sudah Mama ijinkan satu bulan. Itu artinya selama sebulan ke depan kamu harus di rumah. Ah, Mama sudah telat. Ingat pesan Mama jangan telat makan. Agung kamu harus bisa menjaga menantu Mama dengan baik. Sepulang ngajar harus segera pulang!" jelas Maya panjang lebar.


Nuri sama sekali tak bisa membantah kehendak Maya. Bagaimanapun ia harus menghargai keputusan Maya. Sedangkan Agung hanya mengiyakan saja setiap ucapan Mamanya.


Setelah saling mencium punggung telapak tangan kedua pasangan beda usia itu, Agung dan Nuri mengantar sampai ke halaman depan.


Meski hanya ke luar kota selama satu minggu namun rasanya begitu berat bagi Nuri. Berbeda dengan Agung, lelaki itu memang sudah terbiasa dengan hal seperti ini.


Malam hari, tanpa malu Nuri melahap makanan di piringnya tanpa menoleh kanan kiri. Agung yang menemani hanya menggelengkan kepalanya.


"Pelan pelan," ucap Agung.


Seketika Nuri menoleh ke depannya.


"Hehe, maaf Pak. Lupa kalau ada orang di sini," tuturnya pelan.


Selepas sholat isya' Nuri memutuskan mengurung dirinya di kamar. Toh di luar tak ada mertuanya, untuk apa disana. Di kamar Agung pun juga sudah di sediakan televisi. Kali ini Nuri lebih memilih memainkan game yang ada di ponselnya serambi menunggu Agung yang keluar sebentar mencari snack ringan.


Pintu berderit dan terbuka, Agung muncul dengan dua kantong plastik putih besar bermerek supermarket ternama.

__ADS_1


"Ya ampun, Pak banyak sekali. Apa ini untuk oleh oleh ke pondok." Nuri ternganga melihat bawaan Agung.


"Dasar! Kamu emang gak peka ya!" Agung mendaratkan pantatnya di ranjang samping Nuri lalu duduk bersila.


"Nih, bukanya kamu masih suka makan jajan." Dua kantong plastik di sodorkan ke arah Nuri.


Nuri tak percaya gila. Dengan mata terbelalak Nuri menelan salivanya.


"Saya memang suka Pak, tapi ini kan terlalu banyak."


"Dasar bocah! Ini untuk stok tiga hari ke depan." Agung mencubit pipinya dengan gemas lalu terkekeh. Sang empu hanya mengaduh dan memancungkan bibirnya.


"Bilang terimakasih kek."


Nuri bangkit, dan meletakkan snack di atas meja belajar. "Kata ibu kalau kebanyakan jajan itu gak baik Pak, nanti bisa jadi bodoh." Nuri seperti sedang memberikan nasehat untuk ank kecil.


"Ya terserah kamu sajalah, oh ya besok aku pulang malam, jadi kamu tak perlu menungguku." Deg . Terasa menusuk.


"Pak, bolehkah saya juga ikut ke pondok? Saya sudah ketinggalan banyak pelajaran lho. Di sini tak ada yang menemani," rengek Nuri.


"Bukan aku tak mengijinkan, tapi bagaimana dirimu menjelaskan kepada mereka yang bertanya kamu akan pulang kemana?" Agung mengamati raut wajah Nuri yang berubah seketika.


Karena tak tega, Agung mengijinkan Nuri ikut ke pondok.


"Baiklah, kamu boleh ikut. Masalah itu kita pikiran belakangan." imbuhnya.


Please tinggalin jejak kalian. Like dan komen sudah cukup.

__ADS_1


Mari ramaikan kolom komentar agar tak sepi.


__ADS_2