Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Sepucuk surat


__ADS_3

Siang itu sepulang sekolah Atika mengajak  Nuri ke bawah jembatan. Menggantikan waktu yang tertunda beberapa  waktu lalu. Di bawah jembatan adalah tempat mereka melepaskan  rasa gundah, rasa rindu kepada sanak saudara, karena jembatan itu  jembatan  penghubung antara kota dangan pesantren yang mereka tinggali  sekarang. 


"Eh kira  kira  gimana  ya  kabar  


Kania?" Raisa tiba tiba teringat  pada sahabatnya  yang sudah pulang kampung. Sayang Kania tak seberuntung temannya, awalnya ia hanya di beri kabar bahwa ada acara keluarga, namun nyatanya ia malah di paksa menikah di usia belianya.


"Semoga  saja  dia  baik baik  aja," sahut  Galih lesu.


"Iya, aku kangen  sama dia,"  ujar  Atika.


"Sama," sambung  Nuri.  Walaupun hanya  satu minggu  namun  Nuri  sudah  merasa  nyaman  di  dekat  Kania.


"Eh, itu  kan  si  Bayu  sama  Haris," ucap Galih  menunjuk dua orang  yang  mengendarai  sepeda  menghampiri  mereka berempat.


Ternyata tujuan Bayu dan Haris sama seperti ke empat perempuan di depannya. Rindu kepada keluarga. Hanya dengan menatap kendaraan hilir mudik di atas jembatan seakan membuat perasaan mereka sedikit tenang.


Haris  masih  saja  menatap  Nuri, namun  yang di tatap  tak  memperdulikan hanya  sesekali  melirik  Haris  yang  duduk  tidak  begitu  jauh  jaraknya.


Saat itu  mata  Nuri  dan  Haris  tak  sengaja  bertemu  dan mereka pun  saling  menatap  agak  lama  dan mereka  melempar  senyuman.


"Ciiiee  ciieee,"   sorak  Bayu dan  di ikuti  Galih, Raisa  dan  Atika.


Tak  bisa  di  pungkiri  kini  wajah  Nuri terasa  sangat  memanas.

__ADS_1


"Udah, kasian  Nuri kan jadi  malu," ucap  Galih.


"Ya  Udah  pulang  yuk,"  ajak  Haris.


Ih, apa apan sih Haris? Baru juga sampai udah diajak pulang.


Nuri menatap kesal kepada ketiga sahabatnya yang mengiyakan ajakan Haris. Akhirnya mereka pun  kini  berjalan  beriringan menuju  asrama. 


 


🍃 🍃


 


Malam ini Nuri tak bisa mengikuti kegiatan hafalan karena sedang berhalangan. Karena tak ada kegiatan lagi Nuri memutuskan untuk tidur lebih awal tapi belum sempat ia memejamkan mata, suara ribut telah memenuhi ruang kamarnya.


"Hai, Tika, kembalikan itu untukku," teriak Galih merebut sebuah kertas berlipat. Tak mau kalah dari Galih, Tika menaik keranjang Ainur berharap meminta perlindungan dari Ainur.


"Aaaa," teriak Nuri yang terusik. Nyali Galih seolah mencuit saat di tatap tajam oleh Nuri.


"Apa yang kalian rebutkan?" tanya Nuri. Tika kemudian membisikan sesuatu kepada Nuri.


"Benarkah? Mana?" dengan antusias Nuri ingin melihat selembar kertas tadi.

__ADS_1


"Astaga," gumam Nuri tak percaya.


Tika pun tak hentinya menahan tawa, "Sejak kapan?" tanya Nuri kepada Galih.


Galih hanya tersipu malu, entah sudah berapa lama ia dan Bayu saling tukar menukar sepucuk kertas. Galih pun segera merampas dari tangan Nuri lalu segera naik keranjangnya.


Seperti pada umumnya seorang yang sedang dimabuk asmara, Galih hanya cengingisan saat membaca surat dari Bayu. Selama ini hubungan mereka tak ada yang mengetahui, namun naasnya sehabis magrib tadi Bayu salah menyilipkan suratnya di buku hafalan milik Tika.


"Cie yang lagi kasmaran," goda Nuri.


Tak di hiraukan lagi ejekan dari Nuri dan Tika.


Hingga saat suara pintu hendak di buka, ketiga gadis itu segera merapikan posisinya. Benar saja kini Raisa menatap ketiga gadis itu dengan penasaran. Entah apa yang sudah terlewatkan.


Tinggal di pesantren ternyata tak seburuk yang Nuri bayangkan sebelumnya. Terasa nyaman dan damai, walau kadang ada saja teman yang iri kepadanya karena ia selalu mendapat nilai bagus.


Saat itu Nuri sedang belanja di pasar bersama Bu Anisa. Karena jarak pasar dan Asrama tidak jauh mereka hanya mutuskan jalan kaki saja.


"Mbak Nur pulang duluan ya, ibu singgah ke tempat bu Nyai sebentar. Nanti sayurannya di cuci lalu masukan ke kulkas aja ya," Bu Anisa menyerahkan keranjang belanjaan lalu berpisah dengan Nuri. Gadis itu hanya mengiyakan saja, toh tidak berat keranjangnya. Sepanjang perjalanan Nuri mencoba menghafalkan beberapa Ayat Alquran walaupun terkadang masih ada bacaan yang keliru.


Nuri terkejut saat melihat motor berhenti di sampingnya. "Ayo naik," perintahnya.


Nuri berusaha menahan gejolak di dalam sana. Jantungnya berdetak kencang.

__ADS_1


"Pak Agung," gumamnya.


__ADS_2