
Siang itu sepulang sekolah Atika mengajak Nuri ke bawah jembatan. Menggantikan waktu yang tertunda beberapa waktu lalu. Di bawah jembatan adalah tempat mereka melepaskan rasa gundah, rasa rindu kepada sanak saudara, karena jembatan itu jembatan penghubung antara kota dangan pesantren yang mereka tinggali sekarang.
"Eh kira kira gimana ya kabar
Kania?" Raisa tiba tiba teringat pada sahabatnya yang sudah pulang kampung. Sayang Kania tak seberuntung temannya, awalnya ia hanya di beri kabar bahwa ada acara keluarga, namun nyatanya ia malah di paksa menikah di usia belianya.
"Semoga saja dia baik baik aja," sahut Galih lesu.
"Iya, aku kangen sama dia," ujar Atika.
"Sama," sambung Nuri. Walaupun hanya satu minggu namun Nuri sudah merasa nyaman di dekat Kania.
"Eh, itu kan si Bayu sama Haris," ucap Galih menunjuk dua orang yang mengendarai sepeda menghampiri mereka berempat.
Ternyata tujuan Bayu dan Haris sama seperti ke empat perempuan di depannya. Rindu kepada keluarga. Hanya dengan menatap kendaraan hilir mudik di atas jembatan seakan membuat perasaan mereka sedikit tenang.
Haris masih saja menatap Nuri, namun yang di tatap tak memperdulikan hanya sesekali melirik Haris yang duduk tidak begitu jauh jaraknya.
Saat itu mata Nuri dan Haris tak sengaja bertemu dan mereka pun saling menatap agak lama dan mereka melempar senyuman.
"Ciiiee ciieee," sorak Bayu dan di ikuti Galih, Raisa dan Atika.
Tak bisa di pungkiri kini wajah Nuri terasa sangat memanas.
__ADS_1
"Udah, kasian Nuri kan jadi malu," ucap Galih.
"Ya Udah pulang yuk," ajak Haris.
Ih, apa apan sih Haris? Baru juga sampai udah diajak pulang.
Nuri menatap kesal kepada ketiga sahabatnya yang mengiyakan ajakan Haris. Akhirnya mereka pun kini berjalan beriringan menuju asrama.
🍃 🍃
Malam ini Nuri tak bisa mengikuti kegiatan hafalan karena sedang berhalangan. Karena tak ada kegiatan lagi Nuri memutuskan untuk tidur lebih awal tapi belum sempat ia memejamkan mata, suara ribut telah memenuhi ruang kamarnya.
"Hai, Tika, kembalikan itu untukku," teriak Galih merebut sebuah kertas berlipat. Tak mau kalah dari Galih, Tika menaik keranjang Ainur berharap meminta perlindungan dari Ainur.
"Aaaa," teriak Nuri yang terusik. Nyali Galih seolah mencuit saat di tatap tajam oleh Nuri.
"Apa yang kalian rebutkan?" tanya Nuri. Tika kemudian membisikan sesuatu kepada Nuri.
"Benarkah? Mana?" dengan antusias Nuri ingin melihat selembar kertas tadi.
__ADS_1
"Astaga," gumam Nuri tak percaya.
Tika pun tak hentinya menahan tawa, "Sejak kapan?" tanya Nuri kepada Galih.
Galih hanya tersipu malu, entah sudah berapa lama ia dan Bayu saling tukar menukar sepucuk kertas. Galih pun segera merampas dari tangan Nuri lalu segera naik keranjangnya.
Seperti pada umumnya seorang yang sedang dimabuk asmara, Galih hanya cengingisan saat membaca surat dari Bayu. Selama ini hubungan mereka tak ada yang mengetahui, namun naasnya sehabis magrib tadi Bayu salah menyilipkan suratnya di buku hafalan milik Tika.
"Cie yang lagi kasmaran," goda Nuri.
Tak di hiraukan lagi ejekan dari Nuri dan Tika.
Hingga saat suara pintu hendak di buka, ketiga gadis itu segera merapikan posisinya. Benar saja kini Raisa menatap ketiga gadis itu dengan penasaran. Entah apa yang sudah terlewatkan.
Tinggal di pesantren ternyata tak seburuk yang Nuri bayangkan sebelumnya. Terasa nyaman dan damai, walau kadang ada saja teman yang iri kepadanya karena ia selalu mendapat nilai bagus.
Saat itu Nuri sedang belanja di pasar bersama Bu Anisa. Karena jarak pasar dan Asrama tidak jauh mereka hanya mutuskan jalan kaki saja.
"Mbak Nur pulang duluan ya, ibu singgah ke tempat bu Nyai sebentar. Nanti sayurannya di cuci lalu masukan ke kulkas aja ya," Bu Anisa menyerahkan keranjang belanjaan lalu berpisah dengan Nuri. Gadis itu hanya mengiyakan saja, toh tidak berat keranjangnya. Sepanjang perjalanan Nuri mencoba menghafalkan beberapa Ayat Alquran walaupun terkadang masih ada bacaan yang keliru.
Nuri terkejut saat melihat motor berhenti di sampingnya. "Ayo naik," perintahnya.
Nuri berusaha menahan gejolak di dalam sana. Jantungnya berdetak kencang.
__ADS_1
"Pak Agung," gumamnya.