
Terlihat semua sudah berkumpul di meja makan. Semua hidangan telah tertata rapi, namun sampai detik ini juga belum ada yang boleh menyentuh sarapan hingga Agung datang. Dalam hati Nuri merasa kesal. Perut yang seharusnya sudah terisi kini harus menunggu orang yang masih mandi. Sunggu menyebalkan.
Tak berapa lama yang di tunggu pun sudah bergabung. Dengan senyum sopan ia menyapa anggota keluarga yang telah menunggunya.
"Maaf, sudah menunggu lama." Ucapannya segara di sambut dengan bu Aisyah yang mengambilkan nasi untuknya. Nuri masih tak menyangka, hampir satu tahun ia di asrama dan ibunya malah lebih perhatian kepada orang lain ketimbang dirinya.
Saat semua sudah mengambil nasi dan lauknya, piring Nuri masih terlihat kosong.
"Lho, kok gak makan nduk ?" Bu Aisyah menatap anaknya yang masih diam.
"Ibu udah gak sayang lagi sama Nuri dan lebih sayang sama orang lain." Dengan bibir manyun Nuri melirik Agung yang duduk di dekat Azam.
"Iri tuh Bu, minta di layani kayak Agung." Azam kini angkat bicara membuat semua yang ada di meja tertawa.
Bu Aisyah pun segara mengambil piring Nuri dan mengisinya dengan lauk pauk.
"Udah gede masih suka ngambek, gak malu sama pak guru?" goda Bu Aisyah. Masa bodoh untuk Nuri. Harusnya ia yang lebih di perhatikan sebab ialah anaknya.
Setelah selesai sarapan semua membubarkan diri menyibukan dengan kegiatan masing masing. Pak Ali segera pergi ke Ruko dan Bu Aisyah segera membersihkan rumahnya. Adam sampai saat ini belum pulang dan Azam tengah sibuk dengan laptopnya.
Nuri kembali ke kamar yang sangat ia rindukan selama ini. Teringat akan sesuatu ia segera membuka lemari dan mengambil hampir semua pakaian yang ada di lemari tersebut.
__ADS_1
"Astaga nduk, apa yang kamu lakukan?" Bu Aisyah syok melihat kamar anaknya bak seperti pasar obral.
Terlihat pakaian menggunung di kasurnya.
"Bu, kasih ajalah sama orang. Nuri udah gak bisa pakai pakaian ini lagi." Ucapan yang tak pernah di bayangkan Bu Aisyah kini menggema di pendengarannya.
"Lho, bukanya ini baju Mikky Mouse kesukaan kamu. Yakin mau di kasihkan sama orang?" Bu Aisyah membolak balikan baju kesayangan Nuri kala itu.
"Besok kalau ada rejeki beli lagi yang kayak gitu tapi yang panjang. Ini semua kan sayang kalau cuma di anggurin lebih baik di kasih sama orang yang membutuhkan." Bu Aisyah semakin terperanjat atas ucapan anaknya. Ia pun membantu Nuri mengemas semua baju yng sudah tak di pakai oleh anaknya itu kesebuah kardus. Niatnya ia akan memberikan ke sebuah panti asuhan yang berada di dekat sekolahan Nuri yang lama.
Tak ingin berdiam diri dirumah, Nuri berencana menemui teman lamanya. Ada sedikit rasa khawatir saat Nuri meminta izin kepada ibunya.
Takut jika Nuri akan kembali seperti dahulu lagi setelah bertemu dengan teman lamanya.
"Memang Nuri dulu seperti apa Bu?" Agung yang tak sengaja mendengarkan percakapan anak dan ibu itu merasa penasaran sebab Bu Aisyah terlihat sangat cemas.
"Ih, nguping aja!" Dengan sinis Nuri melirik Agung yang duduk di teras.
"Gak sengaja dengar. Bu, emang Nuri dulu seperti apa sih?" Kini Agung benar benar ingin di telan mentah olah Nuri.
"Nuri itu bandel banget. Hobinya keluyuran dikit dikit ibu kena labrak tetangga gara gara anaknya bonyok ulah Nuri. Seminggu sekali kena panggil sekolah dan ..." Ucapan bu Aisyah terpotong saat mendengar ucapan salam.
__ADS_1
Astaga Rian. Dalam hati Nuri menjerit heboh.
Seorang teman lama Nuri yang selama ini menjadi murid terpopuler di sekolahanya. Selain jago basket Rian juga jago nyanyi. Pernah kala itu Rian dan Nuri berada di atas satu panggung dalam acara sekolah. Nuri yang memang pandai main gitar kala itu mengiringi Rian menyanyi.
"Ini Nuri Bu?" Rian seakan tak percaya akan gadis berbalut gamis dan hijab yang berada di hadapannya saat ini.
"Iyalah ini gue, cepet amet lo lupain gue." Nuri berekspresi manyun membuatnya semakin imut. Sementara Agung yang mendengarkan merasa kesal dan memilih untuk keluar keliling kompleks.
"Ada perlu apa? Tumben singgah kesini?" Bu Aisyah mengajak Rian duduk di teras rumah sepeninggal Agung.
"Malam nanti Papa dan Mama saya akan mengadakan syukuran rumah baru dan papa meminta saya menemui Pak Ali. Kiranya beliau mau menjadi pendoanya." Keberanian Rian hilang seketika. Awalnya tak ingin panjang lebar namun entah dari mana Rian menemukan kata lata seperti itu.
"Maksud lo, Bapak gue jadi ustadznya?" Mulut memang susah di kondisikan saat bertemu kenalan lama. Asal ceplos.
"Lama gak jumpa, kamu kok nambah beda ya?"
Bukan Rian kalau tak pandai memuji wanita.
"Lo yang nambah beda, sejak kapan lo pake bahasa alim?" Biasanya Nuri dan Rian mengunakan kata kata gaul semacam Lo, Gue.
Rian hanya menggaruk kepalanya. Dirinya juga tak mengerti kenapa lidahnya memilih kata kamu di bandingkan Lo. Mungkin karena Nuri telah berhijab ia menjadi sungkan.
__ADS_1
"Biasa aja napa? Gue tau kalau gue nambah cantik kan?" Dengan penuh percaya diri Nuri menggoda Rian.
"Yang sopan. Jangan sampai kamu memalukan nama pondok!" Keduanya terkejut saat mendengar ucapan Agung yang telah berada di antara mereka.