
Sebelum subuh wajib bagi Nuri untuk mandi. Ia tak pernah menyangka bahwa orang se-kaku Agung itu ternyata mesum. Bagaimana mungkin, hampir setiap pagi dirinya harus mandi wajib akibat penjajah yang dilakukan oleh suaminya. Beruntungnya, Nuri mengenakan hijab. Jika tidak, tanda kepemilikan Agung akan jelas terlihat di sekitar lehernya.
Memasak pagi kini menjadi rutinitas Nuri seriap pagi. Setelah subuhan ia memilih segera turun ke dapur. Begitu juga dengan Agung, walau hanya sekedar menemani yang kadang juga membantunya.
Berhubung di dalam rumah hanya ada mereka berdua, Nuri memutuskan tidak mengenakan jilbab dan hanya memakai daster selutut.
Semenjak pindah rumah, Agung sudah membelikan hampir lima buah daster selutut untuk Nuri dengan alasan hanya di pakai saat tidur saja.
Tak menampiknya, Nuri tak merasa keberatan jika itu keinginan Agung untuk membuatnya senang.
Semenjak itu juga Nuri harus mandi wajib sebelum menjelang waktu subuh.
"Mas, nanti aku pulang sore," ucap Nuri disela sela memasaknya.
"Kamu ikut ekskul?" tanya Agung.
Nuri hanya mengangguk.
"Ekskul apa?" tanya Agung lagi.
"Seni, Mas. Mas Agung gak keberatan 'kan?" tanya Nuri ragu.
Agung mendekat, tiba tiba tangannya telah melingkar di pinggang Nuri. Mencium ceruk lehernya hingga Nuri bergedik geli.
"Kenapa harus marah, asal kamu gak neko neko, aku gak bakalan marah."
Nuri seperti mendapat serangan arus listrik, perutnya seperti di penuhi kupu kupu beterbangan sebab, tangan Agung sudah mulai bermain nakal di dua benda sensitifnnya.
"Mas, nanti gosong loh tempe gorengnya," lirih Nuri.
Agung pun segera mematikan kompor lalu membalikan tubuh Nuri. Menatap lekat wajah istrinya yang membuatnya semakin candu. Perlahan Agung meraih dagu Nuri, memiringkan wajahnya hingga menyatukan kedua bibir mereka.
Lima menit mereka bergelut beradu dengan lilitan lidah hingga bertukar saliva, tangan Agung semakin nakal. Nuri tersentak merasakan remas demi remasan, ia pun mendorong tubuh Agung pelan.
"Mas, aku kuliah pagi dan gak mau terlambat lagi," ucap Nuri sambil mengusap bibirnya.
Agung mengusap kasar wajahnya, pemanasan tadi membuat ada yang terbangun dibawah sana. Jika tak mengingat waktu ngajar dan kuliah Nuri, Agung akan segera melepaskan para kecebong yang telah meronta.
__ADS_1
"Solo, sebentar ya," bisiknya.
Nuri bergidik ngeri. Bagaimana seorang lulusan dari pondok memiliki pemikiran mesum seperti suaminya.
Agung menggandeng tangan Nuri menuju kamar mandi yang berada di lantai bawah. Dibantu solo karir dengan tangan Nuri, akhirnya para kecebong bersuka ria menyembur ke lantai.
Tak ingin membuang waktu, keduaanya pun mandi bersama kembali. Tangan Agung memang nakal, untung saja Nuri mandi menggunakan kemben walaupun itu di dalam kamar mandi.
"Duluan-lah Mas, handukku ada di balkon. Tolong ambilkan ya," pinta Nuri.
Agung yang sudah membalut bagian pinggang kebawah dengan handuk pun segera keluar dan tujuan utama adalah mengambil handuk serta baju ganti untuk Nuri.
Dengan masih handuk terlilit di pinggang, Agung segera menyerahkan handuk beserta pakaian untuk Nuri.
"Makasih, Mas." Nuri masih tak percaya dengan apa yang ada di tangannya saat ini.
"Cepat pakai! atau kita hari ini bolos," ucap Agung.
Dengan cepat kilat, Nuri mendorong tubuh Agung dan menutup pintu kamar mandi.
Suasana kampus memang rame setiap pagi. Namum, kali ini lebih rame dari biasanya.
Terlihat beberapa mahasiswa berkumpul dan meng-ghibahkan mahasiswa tersebut.
"Sumpah ganteng banget, sebelas dua belas sama kak Juna."
"Gantengan juga kak Juna."
"Mata lo katarak! jelas gantengan anak baru inilah, siapa namanya gue lupa."
Kasak kusuk terdengar di telinga Nuri saat berjalan melewati koridor kampus.
Nuri semakin penasaran siapa sosok yang di banggakan oleh para temannya, hingga mengatakan sebelas dua belas dengan aktor kampus tersebut.
"Nur! ngelanaun aja! Tuh lihat siapa yang ada di depan pintu." Zahra menepuk bahu Nuri.
Seketika pandang Nuri mengarah kedepan. Diblihat Juna telah berdiri menyandarkan tubuhnya pada tembok.
__ADS_1
"Kenapa harus ada disana?" gerutunya.
"Yah jelas nungguin kamu lah," sahut Zahra.
"Zahra, ayo kabur." Nuri ingin menghindari namun sayang, Juna sudah melihat Nuri.
"Selamat pagi Nuri cantik," sapa Juna mendekati Nuri.
Nuri tersenyum tipis, membalas sapaan Juna sekedarnya saja. Juna yang merasa sok cool membenarkan kerah bajunya sambil tebar pesona dengan Nuri namun, Nuri memilih segera meninggalkan Juna masuk ke dalam ruangan.
"Permisi, kak," ucap Nuri.
Andaikan waktu itu bisa di putar kembali, aku hanya ingin memilih bertemu denganmu lebih awal.
Berkenalan lalu mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya.
Bahwa aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Juna menatap punggung Nuri dari luar saja, entah mengapa ia tergila-gila dengan sosok Nuri yang biasa saja. Padahal masih banyak gadis yang mendambakan dirinya namun, tak satu pun dari mereka sesuai dengan kriterianya.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa jejak kalian.
Aku selalu berharap bungaku bisa bermekaran di kotak hadiah ☺☺
__ADS_1