
...Berdosakah jika telah lalai meninggalkan waktu subuh?...
Setelah mengaplikasikan tissu ajaib dan membilas senjatanya, Agung segera keluar dari kamar mandi. Hanya dengan lilitan handuk yang melingkar di pinggangnya, Agung berjalan pelan menghampiri Nuri.
Mata takjub dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Pemandangan langka yang hanya dapat ia lihat saat malam saja.
Baju daster rumahan yang selalu Nuri kenakan jika malam hari membuat Agung selalu merasa terhipnotis oleh tubuh istrinya.
Memeluk istrinya dari belakan lalu mengecupi jenjang leher Nuri, tangan Agung pun mulai bermain nakal di depan dada istrinya.
Nuri menaham deru napasnya seraya menggigit bibir bawah kala sensani kupu kupu menjalar dalam tubuhnya.
Senjata yang sudah mulai on dari tadi mulai membelah liang rawa yang sudah mulai basah. Sepertinya Nuri sangat terangsang oleh pemanasan dari suaminya.
Beradu dalam ranjang, hingga menimbulkan sebuah deritan berirama dengan setiap sentakan yang Agung lakukan.
Melayang dalam awang awang keduanya terbang melayang bersama kala para calon kecebong sama sama saling keluar bersama.
Sejenak Agung mengeramkan lalu menekan kedalam hingga membuat Nuri mendesah pelan.
Malam ini menjadi malam yang terpanjang bagi sepasang pasutri muda yang tengah di mabuk nafsu duniawi.
Semua gaya telah Nuri peragakan agar membuat Agung merasa puas atas servis yang ia berikan.
Meski merasa lelah, namun Nuri menikmatinya. Bahkan dengan tidak malunya, meminta lagi.
Mungkinkah mesum suaminya telah berpindah pada dirinya.
Berkat tissu galon, Agung senjata Agung masih on meski Nuri telah mencapai puncak berkali kali.
"Mas, pakai apa sih? aku udah gak sanggup," bisik Nuri di bawah kungkungan suaminya. Dengan ritme pelan, Agung terbius dalam kerapatan rawa yang sedang ia jajah.
__ADS_1
"Kamu puas?" bisiknya.
Nuri mengangguk. "Kapan dedeknya tidur? ak.. aku..." Nuri tak melanjutka ucapannya. Tubunya mulai bergetar. Tangan Nuri refleks menmeluk erat punggung Agung.
Ini sudah kesekian kali keduanya mendesah hebat.
Nuri benar benar kualahan. Jatah satu minggu ia ganti satu malam panjang, hingga tak terasa jarum jam telah menunjukan pukul dua pagi.
Agung benar benar sangat puas atas kenikmatan dunia malam ini.
.....
Berdosakah jika telah lalai meninggalkan waktu subuh?
Dua insan yang sangat terlelap dalam dekapan mendadak harus terbangun setelah suara dering ponsel nyaring memenuhi rungan.
Agung menggeser pelan tubuhnya dari dekapan Nuri memjangkau ponselnya.
Terlibat Nuri membuka matanya, tangannya masih melingkar mesrah pada tubuh suaminya.
"Ma, kan semalam Agung udah bilang, cuti satu hari full," suara serak khas seseorang yang baru saja bangun membuat Maya diseberang sana mengernyitkan dahinya.
"Kamu paru bangun," tanyanya.
"Iya, Ma. Aku baru tidur menjelang subuh tadi," jawab Agung jujur. Permainan mereka semalam berakhir hingga pukul tiga pagi.
"Kamu ngapain? tugas kantor jangan dibawa ke rumah, kasihan Nuri."
"Agung lembur Mah, lembur nyicil mencetak cucu buat Mama." Jawaban Agung sukses menbuat Nuri merasa panas menahan malu kepada mertuanya. Bagaimana bisa suaminya mengungkapkan kebenarannya.
Nuri dan Agung menapaki anak tangga beriring. Setelan membersihkan diri, mereka turun ke lantai bawah sebab para cacing di perut sudah mendemonya.
__ADS_1
Sudah hampir pukul dua belas siang, pantas saja meraka pada demo.
Tak selang lama suara bel rumah berbunyi.
"Biar aku aja," seru Agung.
Nuri menuntun langkahnya menuju meja makan.
Kegiatan semalam benar benar menguras seluruh tenaganya. Nuri yakin jika suminya telah memakai sesuatu untuk dedeknya tetap on berjam jam.
Sibuk dengam pemikirnnya, indra penciumannya menghirup bahwa ada ayam goreng di dekatnya.
"Malah, bengong, buruan makan," titah Agung.
.
.
.
.
.
.
Lagi butuh kopi. Ada yang bersedia memberikannya?
Eh, kalian gak masuk ke dalam ya?
Sayang banget, aku udah bagi poin disana. Jika 24 jam gak kalian ambil otomatis poinya balik lagi ke keranjangku lho.
__ADS_1
Kenapa sih kalian gak mau meramaikan grup green_tea? Jawab dong, butuh penjelasan nih!