
...Terkadang manusia hanya berencana...
...namun, Tuhan-lah yang menentukan....
...Meski aku sudah memberi yang terbaik...
...tetapi, kalian lah yang menjadi babak penentu...
...~green_tea~...
Pikiran Agung tidak tenang kala melihat arloji yang melingkar di tangannya. Satu jam yang lalu ia mendapat kabar dari pak Mun, bahwa ia dan mbak Inah akan mengalami keterlambatan karena jalan yang mereka lalu di tutup karena ada tanah longsor.
Agung hanya bisa menahan amarahnya. Kini yang terbayang adalah kedua malaikat kecilnya yang ia rasa tengah menunggu kedatangan supirnya untuk menjemput.
"Bos, mau kemana?" teriak Ilyas kala melihat Agung tergesa-gesa keluar dari ruangan.
"Bos sebentar lagi kita rapat!" teriak Ilya lagi karena Agung tak menjawabnya.
Ilyas hanya bisa mengelus dada. Tak ada wewenangnya untuk marah saat di abaikan. Begitulah nasib seorang bawahan.
"Sabar Bang Ilyas. Kayak gak tahu sifat bos," ujar Siska sekertaris Agung.
"Ya memang harus begitu. Bos mah, suka suka," timpal Ilya.
Siska tertawa kecil lalu meninggalkan Ilyas
. . .
Setelah memarkirkan mobilnya di tepi jalan, Agung segera berlari menuju gedung taman kanak kanak yang sudah terlihat sepi.
Pikirannya semakin kacau saat tak melihat tempat itu telah sunyi. Perlahan ia masuk kedalam ruang guru, disitulah Agung bisa bernafas dengan lega saat melihat kedau anaknya bermain robot kecil milik mereka yang selalu mereka bawa kemana pun mereka pergi.
__ADS_1
"Papa," teriak Briyan.
Agung segera menghampiri keduanya anaknya. Tak jauh dari situ juga ada guru mereka sedang menemani dua bocah kecil yang menggemaskan itu.
"Bu, terimakasih, sudah bersedia menemani anak saya," ujar Agung.
Bu Salma tersenyum. "Tidak masalah, Pak! Mereka adalah tanggung jawab kami sebelum orang tuanya menjemput," tutur Bu Salma.
Setelah berpamitan, Agung segera menggandeng dua bocah kecil itu kedalam mobilnya. Kedua bocah itu duduk di kursi penumpang sambil berceloteh ria menceritakan ulang kegiatannya di sekolah tadi. Agung hanya tersenyum sambil mendengarkan mereka.
"Pa, beli Pizza," rengek Briyan.
"Siap, Bos!" ucap Agung sigap.
Ketiganya kini berjalan kesebuah kedai yang bertuliskan Pizza hut. Lagi lagi dua bocah itu harus beradu kala akan memilih rasa. Namun, dengan sigap Agung mengatakan akan membelikan sesuai dengan apa yang mereka inginkan, tanpa harus berebut.
Bola mata bocah kembar itu terperanjat saat mengikuti ayahnya memasuki gedung yang sangat tinggi. Keduanya merasa sangat takjub, karena ini adalah kali pertama mereka menginjakkan kakinya di kantor sang ayah.
Banyak dari mereka yang sangat merasa gemas kepada dua bocah di sebelah kanan dan kiri sang bosnya. Masih kecil sudah memancarkan aura ketampanannya, apalagi jika mereka dewasa kelak.
"Siang, Pak," sapa salah seorang karyawan.
"Siang juga," ketus Agung.
"Anak bapak lucu," ucapnya lagi.
Kemudian Agung menatap Brayan dan Briyan silih berganti. Dari mana lucunya, rambut keriting dan juga gigi depan ompong. Apa itu yang di bilang lucu.
"Pa, emang kita kayak badut?" tanya Brayan saat ketiganya sudah sampai di ruangan Agung.
"Tidak! Siapa yang berani bilang anak papa seperti badut?" Agung bertanya.
__ADS_1
"Tidak ada yang bilang. Hanya saja Om tadi bilang kita lucu. Berati kita kaya badut. Badut kan lucu, Pa," celoteh Brayan.
Agung memijit pelipisnya yang sudah mulai berdenyut. Saat itu juga siska datang untuk menyerahkan dokumen kepada Agung.
"Anak bapak kembar?" tanya Siska saat melihat keberadaan Brayan dan Briyan duduk di atas sofa.
"Yang kamu lihat bagaimana?" Bukan menjawab, melainkan bertanya. Agung segera menandatangani kertas kertas yang telah ia baca ulang.
"Kembar," jawab Siska.
"Kalau sudah tahu kenapa harus bertanya, sana cepat keluar dari ruangan saya," usir Agung.
Siska hanya mampu menelan ludahnya lalu bergegas keluar.
Dasar bos gak bisa di ajak basa basi. gerutunya dalam hati.
Setelah kepergian Siska datanglah Ilyas. Wajahnya berbinar kala melihat Agung junior berada di sofa. Ilyas memang hanya beberapa kali bertemu dengan dua bocah kembar tersebut.
"Hai, bos kecil," sapa Ilyas sok akrab.
"Hai juga om," jawab Briyan.
"Tumben nih kalian ada di sini? Mana bunda kalian?" tanya Ilyas.
Mendengar pertanyaan Ilyas, Agung segera bangkit dari kursi kebesarannya.
"Mama masih kuliah, Om," jawab Brayan.
Ilyas pun hanya ber o ria tanpa tahu jika sang bis besar sudah berdiri tegap disampingnya.
"Untuk apa kamu mencari ibu mereka?" sindir Agung.
__ADS_1
Mendadak bulu kudu Ilyas berdiri. Tanpa sadar ia sudah salah melempar pertanyaan. Habislah diriku. Oh Tuhan bantu hamba mu ini. Batin Ilyas.