
Setelah kepergian suaminya, Nuri membantu Mbak Inah membereskan sisa piring kotor, meski sempat di tolak oleh mbak Inah namun, Nuri tetap bersikukuh untuk mencuci piring.
"Mbak Inah jagain anak anak aja! Biar aku mencuci piring. Lagian aku bosan gak ada kegiatan," titah Nuri.
"Tapi Bu,"
Nuri segera memberi isyarat agar mbak Inah menuruti perintahnya.
"Iya Bu, saya liat anak anak," pamit mbak Inah.
Meski merasa tidak enak dengan majikannya, mau bagaimana lagi.
Setelah sampai di kantor, Agung segera masuk kedalam ruang kerjanya dan langsung duduk di kursi kebesarannya.
Memeriksa dokumen yang sudah ada di atas mejanya sambil menunggu Ilyas datang menjemputnya.
Benar saja, pintu ruangan Agung di buka tanpa di ketuk terlebih dahulu.
Nampaklah sosok Ilyas dari balik pintu.
"Bos, lima menit lagi anda ada rapat." Ilyas memperingati sang Bosnya.
"Tapi-," Ilyas menjeda ucapannya.
Agung menautkan alisnya menatap Ilyas heran.
"Tapi apa?" todong Agung penasaran.
"Anu... itu Bos. Proyek yang ada di Makasar ada
masalah. Ada okmun yang tidak yang bertanggung jawab memprovokasi warga. Mereka mendemo proyek kita," Jelas Ilyas.
"Dan warga ingin anda harus membayar ganti rugi," sambung Ilyas kembali.
Agung menghembuskan nafas beratnya. Tanpa berkata ia meninggalkan ruangannya.
Ilyas hanya mempu mengekori sang atasan tanpa berani untuk bertanya.
Tiga puluh menit rapat berjalan dengan nyaman. Beberapa kali Agung menolak masukan dari ara klien, membuat Ilyas memijit pelipisnya yang mulai terasa nyeri.
Pikiran Ilyas mengambang, memikirkan jangan sampai kontak kerja mereka berakhir dengan tragis.
Ilyas berdiri di samping Agung.
"Maaf jika ada yang keberatan dengan keputusan Bapak Agung. Beliau hanya ingin hasil yang maksimal mungkin, memang benar ada beberapa yang harus di revisi ulang." tandas Ilyas sebelum mengakhiri rapat tersebut.
__ADS_1
Ilyas harus mendesah kasar saat Agung meminta untuk mengantarnya pulang. Padahal dia sendiri mempunyai sopir pribadi.
"Setelah ini kita harus terbang ke Makasar," tutur Agung.
Seketika Ilyas menginjak rem mobil dengan tiba tiba.
"Hei, apa kau ingin membuatku mati?" oceh Agung.
"Apa kau ingin gajimu ku potong?" ancam Agung.
"Maaf Bos, saya tidak sengaja. Tadi Bos bilang kita akan ke Makasar sekarang?" Ilyas memastikan.
"Apa telingamu harus aku korek dengan linggis?" sindir Agung kembali.
Ilyas hanya menggeleng lemah.
"Beruntung kau adalah Bos, jika kau rekan ku maka akan segera aku tabok dengan sepatuku ini," gerutu Ilyas dalam hati.
Tak menunggu lama, mobil telah berhenti di sebuah halaman rumah sang atasan.
Dari dalam rumah, kedua bocah segera berlari keluar saat ia mendengar suara mobil sang ayah.
"Ray, papa pulang," seru Briyan.
Brayan segera mendongak lalu mengikuti langkah Briyan keluar dari kamarnya.
"Lho, kok udah pulang, Mas?" todong Nuri.
Setelah mencium tangan suaminya, Nuri juga terkejut saat melihat Ilyas mengekor Agung masuk ke rumah.
"Lho, ada Ilyas," sapa Nuri ramah dan tersenyum manis kepadanya.
"Tolong Bu, jangan buat saya menderita kembali. Cukup simpan senyum mu itu untuk suamimu," rutuk Ilyas dalam hati.
"Iya, Bu," ucap Ilyas datar.
Seketika Agung melayangkan tatapan tajam ke arah Ilyas, lelaki itu hanya tertunduk dan menelan ludahnya kasar.
Setelah mempersilakan Ilyas duduk, Nuri membuntuti Agung masuk ke kamar.
"Mas," lirih Nuri.
Agung menatap Nuri dengan sendu, sebenarnya ia tak ingin ke luar kota dengan keadaan seperti ini, namun kali ini Agung tak bisa mewakilkan.
"Hanya tiga hari, Ai." Agung memilih mengemas baju yang hendak ia bawa. Pasalnya setelah Agung menceritakan bahwa ia akan ke luar kota, Nuri menolak dengan keras. Dan menyuruh Ilyas yang terbang ke Makasar.
__ADS_1
"Aku janji setelah ini kita akan melakukan perjalanan liburan ke Eropa, sesuai keinginan kalian," tandas Agung lagi.
"Tapi Mas, perasaanku gak enak. Pokoknya aku gak mau kamu pergi!" ujar Nuri keras.
Agung segera mendekat dan memeluk tubuh istrinya. "Sudahlah, itu hanya perasaan saja. Aky pasti baik baik saja," ucap Agung.
Di lantai bawah, nasib Ilyas telah dikerumuni oleh dua bocah keriting. Brayan duduk menyandar di bahu Ilyas, sementara Briyan di pangku oleh Ilyas.
"Ya Allah, seperti ini kah jika aku mempunyai anak kelak?" batin Ilyas pasrah.
"Om, Kenapa om Ilyas gak pernah main kesini?" tanya Briyan.
"Jika aku datang kesini, maka siap siaplah aku kena gantung, bocah," rutuk Ilyas dalam hati.
"Om Ilyas sibuk," kilahnya.
Kedua bocah kembar itu hanya ber O ria bersama.
Seketika pandangan mereka teralihkan pada kedua orang yang sedang menuruni anak tangga. Agung menenteng koper, sementara Nuri dengan wajah manyun mengikuti dari belakang dengan langkah kesal.
Kenapa suaminya begitu keras kepala.
"Papa." Kedua bocah beralih menghambur kearah Agung.
"Papa mau kemana? Kok bawa koper?" tolong Brayan.
Agung tersenyum menatap kedua bocah kecil yang ada di hadapannya.
"Papa ada kerjaan di luar kota, sayang. Kalian baik baik di rumah jaga Mam, ya!" titah Agung sambil melirik ke arah Nuri.
Mendengarkan pengakuan sang ayah, kedua bocah itu serentak menggeleng. "No, Papa gak boleh pergi, apa lagi naik pesawat sendiri."
"Papa hanya pergi sebentar, setelah itu kita akan naik pesawat bersama sama ke luar Negri, bagi, bagaimana?" rayu Agung.
Sejenak tak ada jawaban dari kedua bocah kecil tersebut, Ilyas mendesah pelan. "Dasar, masih kecil sudah bisa mendrama," umpatnya dalam hati.
"Iya, tapi... Om Ilyas juga harus ikut," ucap Brayan.
Ilyas dengan segera menolak tawaran anak bosnya, tapi... setelah di pikir kembali, Ilyas menyetujui kala mendengar bonus bulanan naik .
"Papa." Kedua anak kembar itu berlari kecil mengejar Agung yang hendak masuk kedalam mobil.
Seperti sangat berat saat Agung melihat kesedihan anaknya. Apa lagi saat melihat Nuri juga mengikuti langkahnya sambil mengusap air matanya.
Agung tersenyum lalu melangkah menghampiri Nuri lalu memeluk dan mengecup kepalanya lama. Nuri semakin mengeratkan pelukan saat Agung bergerak melepaskannya.
__ADS_1
"Mas." Nuri hanya menggeleng pelan. Lambat laun Agung melepaskan diri.
Ia sangat heran mengapa hari ini anak dan istrinya penuh dengan drama.