Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Jin Toilet


__ADS_3

Tiada yang berubah meski telah menikah. Semua masih berjalan seperti biasa. Agung dan Nuri jarang bertemu. Mereka hanya akan bertemu saat jadwal pelajaran bahasa inggris saja. Namun komunikasi lewat pesan Wathaap tak pernah putus. Dan pagi ini adalah jadwal Agung mengajar di kelas Nuri.


Setelah menjelaskan materinya, Agung segera menulis soal di white boar. Bukan Agung jika tak ada tugas.


Hening, begitulah suasa kelas jika telah tiba waktu pelajaran bahasa inggris. Sesekali Agung melirik Nuri yang tengah serius mengerjakan soal.


"Jangan ada yang menyontek! Ingat, sebentar lagi kalian akan menghadapi UAS. Gunakan waktu kalian dengan baik. Jangan kebanyakan bermain," kata Agung. Sorot matanya menuju kearah Nuri namun, gadis itu bersikap biasa saja, meski dalam hati tak ia ingin menjawab ucapan Agung.


"Kalian mengerti?" lanjutnya lagi.


"Mengerti, Pak," ucap semua murid serempak.


Agung mengangguk pelan.


Beberapa menit kemudian Haris mendapat tugas untuk mengumpulkan lembar jawaban semua murid.


Dengan teliti Agung memeriksa lembar jawaban muridnya. Kadang bibirnya menyunggingkan senyumnya, membuat sebagian siswa merasa heran.


"Gak salah lihat kan, aku?" Galih menyengol lengan Ratna.


"Lagi kesampet jin toilet mungkin. Tadi sebelum masuk Mr A masuk ke tolilet," bisik Ratna.


Kedua gadis itu menahan tawanya namun tingkahnya tak luput dari penglihatan Agung.


"Kalian berdua, silahkan kedepan! Isi jawaban di papan tulis bergantian." Agung menujuk kearah Ratna dan Galih. Keduanya merasa terkejut, tak menunggu lama keduanya pun maju kedepan.


"Gara gara kamu," bisik Ratna.


"Eh, kok jadi aku sih, salahin tuh Mr A," elak Galih.


Bagaimana bisa tahu jika tak ada kamus di tangannya. Jika bukan karena Nuri melempar kertas berisi jawaban, mana mungkia mereka tadi bisa menjawab tugasnya.


"Duh, aku lupa. Tadi apa ya," gumam Ratna.


Begitu juga dengan Galih, menuliskan jawaban seingatnya saja. Sontak jawaban Galih mendapatkan bahan tertawaan bagi siswa lainnya.


Agung mengerutkan dahinya saat melihat ke arah papan tulis.


"Kenapa jadi seperti ini?" tanya Agung.

__ADS_1


Berjalan kearah papan tulis, Galih dan Ratna merasa ketakutan.


"Di lembar jawaban benar semua, tapi kenapa disini bisa salah?" Matanya bukan mengarah kepada Ratna dan Galih, namun malah menatap Nuri.


"Sudah saya katakan, tidak ada yang boleh mencontek. Dan, inilah hasilnya jika kalian tidak mau berusah sendiri. Sudah duduk kalian!"


Meski merasa takut, Ratna dan Galih merasa lega. Berbeda dengan Nuri yang mendapatkan tatapan tajam dari Agung.


Mungkin Agung tahu jika dirinya telah memberikn contekan kepada sahabatnya.


"Sebagai gantinya, silahkan Nuri maju," titah Agung.


Dengan cekatan Nuri menulis jawaban dari soal yang ada di papan tulis. Langkah terhenti saat hendak kembali ke mejanya.


"Saya tahu kamu murid berprestasi, tapi cara kamu salah," sindir Agung.


Nuri merasa geram, jika bisa saat ini ia akan menyumpal mulutnya dengan penghapus.


****


Di kamar Nuri telah bersiap siap untuk pulang. Sesuai janji Maya, setiap sabtu sore Nuri akan di jemput oleh pak Ucup.


"Yah, gak seru dong kalau ke bawah jembatan tanpa kamu, Nur," ucap Galih.


Percakapan berlangsung sampai Nuri benar benar siap untuk melangkah keluar kamar.


Ada rasa sedih dimata ketiga sahabatnya. Namun, Nuri juga tak ingin mengecewakan Maya.


Setelah berpamitan dengan pak Dzaki dan bu Nisa, Nuri segera mesuk kedalam mobil pak Ucup.


"Jalan Pak!" perintah Nuri.


Terkejut, bagaiman bisa Pak Ucup jadi lebih keren dengan kaca mata bertengger di depan matanya.


"Pak Agung," gumam Nuri. Lelaki itu hanya tersenyum.


"Dimana Pak Ucup," tanya Nuri.


"Dia bawa mobil saya. Turun! saya bukan sopirmu!" ucap Agung.

__ADS_1


"Bapak ngusir saya? Tidak masalah saya bisa cari Pak ucup," rajuk Nuri. Dasar laki laki batu.


"Dasar oon, maksud saya turun lalu pindah kedepan Nuri Salsabila Ramadhani," ucap Agung geram.


Seketika Nuri menarik kedua simpul bibirnya.


Ah, pikiranku terlau negatif.


Mobil melaju meninggalkan halaman pondok.


Di iringi musik reggae, perjalanan pulang kali ini terasa romantis, apalagi beberapa kali Agung mencuri pandang kearah Nuri.


"Bapak ngapain sih senyum senyum sendiri, gak jelas," ucap Nuri.


"Gak ada! Kamu kok makin imut sih?" goda Agung.


Wajah Nuri merona seketika, gombalan receh mampu mendebarkan jantungnya.


Ah, manusia susah di tebak. Lihat saja sampai rumah! Akan lu tanyakan apa maksud ucapan di kelas tadi.


"Pak saya gak punya uang receh," ejek Nuri.


"Saya gak butuh uang receh, bisa berada di sampingmu itu sudah cukup."


Bohong banget sih Pak? Mama Maya dulu nyidam apa ya? kok jadi bentuk kayak gini. Dua kepribadian berbeda. Kalau jadi judul cerita,


Suamiku berkepribadian ganda, ku sumpahin bertekuk lutut mengemis cintaku.


Nuri tertawa membayangkan pikirannya sendiri.


Agung terheran, apa yang sedang Nuri tertawakan.


.


.


.


.

__ADS_1


Selamat hari minggu. Hari libur, Alhamdulillah ada waktu buat menghalu.


Setelah baca jangan lupa tinggalin jejak!


__ADS_2