Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Mengalah lagi


__ADS_3

Pagi ini kedua pasangan muda itu sibuk berkemas setelah perdebatan panjang. Agung yang masih ngotot belum ingin pulang, sementara Nuri bersikukuh pulang pagi ini membuat adu mulut panjang. Di tambah lagi keinginan Nuri yang ingin melewati jalur darat membuat Agung semkin frustasi dengan kemauan konyol istrinya.


Butuh waktu sekitar 16 jam untuk sampai di rumah. Berbeda jika mereka naik pesawat, paling lama hanya dua jam mereka sudah sampai tujuan.


"Terserah Mas Agung mau pulang naik apa. Aku akan tetap mobil sampai rumah," tegas Nuri.


Agung masih lekat memandang Nuri memasukan baju kedalam koper. Setelah bulan madu gagal, kini Nuri menjadi keras kepala. Mungkinkah Leak disini telah merasuk pada istrinya?


"Baiklah. Aku menyerah! kita pulang naik mobil," ucap Agung dengan berat hati.


Nuri tersenyum puas.


Membayangkan dirinya di buat teler setelah naik pesawat, rasanya ia sudah kapok untuk menaiki burung raksasa tersebut.


Agung telah merental mobil pribadi namun lagi lagi Nuri mengulah. Ia hanya ingin Agung yang menyetir.


"Ai," keluh Agung.


Nuri semakin merajuk. Dirinya malah enggan untuk pulang.


"Pokoknya aku hanya mau pulang kalau Mas Agung yang nyetir. Aku gak mau perutku mual melihat bapak brewok itu!" rengek Nuri.


Yang benar saja, apa hubungannya rasa mual dengan brewok? bukankan suaminya sendiri juga brewok? walau hanya sedikit.


Sepanjang perjalan Nuri tak hentinya melihat kearah luar. Setelah sukses melewati selat Bali, Agung memilih beristirahat sebentar di kota Banyuwangi tempat asal penyanyi berambut gimbal pendiri musik dangdut Monata tersebut.

__ADS_1


"Kita istirahat di rumah makan sebentar ya, Ai?" Agung menepikan mobil ke depan rumah makan besar.


Berhubung Nuri juga lapar, ia hanya mengangguk saja. Namun, keadaan sebaliknya, saat pesanan sudah mendarat di meja makan, mendadak Nuri merasa kenyang seketika.


"Lho, kok gak di makan?" tanya Agung heran.


"Kenyang, Mas!" Nuri menyodorkan piringnya ke depan.


Agung mengerutkan dahinya, bagaimana bisa Nuri mengatakan kenyang jika tadi pagi hanya mengganjal perutnya dengan sepotong roti tawar dan segelas teh manis.


...


Enam jam mengemudi membuat Agung merasa lelah. Apalagi saat Agung mulai memasuki jalan gunung Gumintir, pembatas kota Banyuwangi dan Jember. Jalan menanjak nan berliku, membuat siapa saja yang tidak terbiasa pasti juga akan merasakan mabuk darat.


Sesampai di kota Malang, Agung kembali lagi menepikan mobilnya di depan sebuah penginapan. Kali ini ia berniat untuk mengistirahatkan tubuhnya dengan nyaman.


Nuri melihat raut wajah Agung yang sudah kucel dan lesu hanya pasrah saja. Sejujurnya tubuhnya juga butuh istirahat karena telah banyak mengeluarkan banyak cairan dari dalam tubuhnya.


Setelah memberikan kartu tanda pengenal, keduanya segera menuju sebuah kamar. Meski tak semewah hotel berbintang namun, tempat tersebut bisa di bilang sudah lumayan bagus.


"Mas aku kok tiba tiba pengen makan nasi liwet ya?" Ungkap Nuri.


Agung yang telah merebahkan tubuhnya di ranjang kembali mengerutkan dahinya.


"Gak salah Ai?" Agung meyakinkan pendengarannya.

__ADS_1


"Ih, mas Agung nyebelin!" Nuri mengerucutkan bibirnya.


Baru saja Agung ingin beristirahat sejenak, kini harus di buat kelabakan lagi. Dimana di harus mendapatkan nasi liwet.


"Mas Agung jahat! Udah peduli lagi sama aku! Aku lapar, Mas!" rajuk Nuri.


Ok. Fine. Mengalah.


Agung segera berjalan keluar namun, saat ia memegang handel pintu, mendadak Nuri segera memeluk erat tubuh Agung dari belakang.


"Mas, Nuri minta maaf. Jangan tinggalin aku di sini sendiri." Nuri kini telah terisak.


Agung dengan cepat membalikkan tubuhnya, menatap mata Nuri yang terlihat sudah memerah dan mengeluarkan air mata.


"Kamu kenapa? aku hanya akan ke tempat resepsionis sebentar," ujar Agung.


Entah mengapa ia hanya ingin bersama Agung sepanjang waktu. Melihat Agung pergi tanpa permisi membuat dadanya terasa nyeri.


.


.


.


.

__ADS_1


Sampai di sini dulu..


__ADS_2