Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Siapa Dia?


__ADS_3

Pagi ini, Brayan dan Briyan sudah siap untuk pergi ke sekolah. Seperti biasa ia meminta bekal nugget dan telur mata sapi. Ya, permintaan mereka memang simpel.


Berbeda dengan sang papa, lelaki itu kadang sangat ribet untuk masalah lauknya. Padahal bisa saja ia memesan makana dari luar namun, Agung selalu menolak. Lidahnya sudah tak terbiasa memakan makanan luar semenjak kedua anaknya masuk sekolah. Bukannya meringankan tugas istri, Agung malah menambah tugas Nuri setiap pagi.


"Sayang, nanti aku pulang telat. Kalian jangan tungguin aku pulang ya," ucap Agung setelah mendapatkan bekal dari Nuri.


"Iya, mas," jawab Nuri sambil merapikan dasi suaminya.


Agung mengecup pucuk kepala Nuri sebelum berlalu. Wanita itu mengulum senyum.


....


Di kampus, Nuri telah memiliki teman baru setelah Rian dan Zahra lulus setahun lalu.


Ah, Nuri sampai lupa jika lusa Rian dan Zahra akan berkunjung ke rumahnya. Setelah menikah tiga tahun lalu, Zahra di boyong Rian ke ibukota, mengingat Rian sudah bekerja di cabang perusahaan sang ayah. Dan, pada akhirnya mereka jarang bertemu.


"Hai Nuri," sapa Neta, teman baru Nuri. Meski berbeda keyakinan, Neta anak yang baik dan sopan.


"Hai juga, Neta," balas Nuri.


Keduanya mulai bertukar kabar, meski hanya satu malam mereka berpisah namun, seolah sebulan tak bersua.


Saat ini Nuri sedang menyusun skripsinya, berharap ia akan segera lulus dan hanya fokus kepada keluarganya.


Seperti biasa, kelas terasa sunyai kala dosen Armada telah mengisi materi. Tak ada yang berani mengucap sepatah kata selain saat ditanya sang dosen saja.


Begitulah hingga kelas usai.


Dosen Armada adalah dosen termuda di kampusnya. Sebagian mahasiswi banyak yang mengaguminya namun, mereka terlalu takut karena sikap dosen yang terlihat dingin dan cuek.


"Nuri, aku pulang duluan ya." Neta melambaikan tangan pada Nuri yang masih berdiri di sampingnya. Ya, ternyata jemputan Neta sudah datang. Neta adalah anak semata wayang orang tuanya. Wajar saja jika Neta masih mendapat pengawasan ketat dari orang tuanya.


"Hati hati ya." Belum sempat Nuri menutup mulutnya, tubuh Neta sedikit terpental. Ternyata gadis itu menabarak seseorang.


"Pak Mada," guman Neta seketika.


"Eh, maaf saya tidak sengaja, Pak." Neta tertunduk.


"Angkat kepalanmu! Lain kali kalau jalan hati hati." Hanya itu saja, lalu Mada pergi meninggalkanya dalam kebisuan.


Nuri segera menghampirinya. "Kamu gak papa," tanya Nuri panik.


Neta menggeleng. "Aku gak papa," ucap Neta lemah.


Nuri pun tak habis pikir kenapa ada makhluk semacam Mada lalu menggeleng. Tiba tiba sekelebat bayangan Nuri menuju pada saat ia masih sekolah. Sikap Mada tak jauh beda dengan suaminya yang pada akhirnya Nuri menghilang sifat itu dari suminya. Dan pada akhirnya Agung dan Nuri saling mencintai hingga sampai hadir dua bocah hasil cinta mereka.


....


Sebelum menemui dua bocah kembar, Nuri membasuh tangan dan kakinya terlebih dahulu. Terlihat mbak Inah yang sedang membuatkan susu untuk si kembar. Sudah menjadi kebiasaan si kembar, sebelum tidur siang mereka akan meminta susu terlebih dahulu.


"Mbak, belum tidur mereka?" tanya Nuri sekedar basa basi.


"Belum, Bu. Mereka masih menggambar," jawab mbak Inah.


Nuri mengangguk lalu menuju kamar anaknya yang letaknya tak jauh dari kamar Nuri.

__ADS_1


Setelah membuka pintu, kedua mata bocah itu tertuju pada sosol yang berada di depan mereka.


"Mama," seru keduanya lalu berlari untuk memeluk tubuh mamanya.


Nuri berjongkok sambil merentangkan tangannya hingga keduanya memeluk tubuh Nuri.


Nuri mengecupi kepala anaknya. "Kalian sedang apa?" tanya Nuri.


"Sedang menggambar, Ma. Coba lihau ini, Ma," seru Briyan mengambil hasil karyanya sendiri.


"Subhanallah, bagus sekali," puji Nuri.


"Ma, lihat punya Rayan juga," rengek Brayan.


Nuri melangkah menghampiri Brayan yang masih mewarnai hasil karyanya.


"Tapi belum selesai, Ma," lanjutnya lagi.


Nuri mengulum senyum di bibir kala melihat karya Brayan.


Meski masih berantakan hati Nuri sangat tersentuh dimana Brayan sedang mewarnai gambar yang menurutnya adalah sang mama.


"Nah, selesai," gumam anak lelaki pertamanya.


"Ini Mama, Rayan, Riyan dan Papa." Brayan menunjukkan saru persatu gambar lukisannya.


"Masha Allah, bagus sekali, nak," puji Nuri bangga.


Nuri pun menghadiahi keduanya dengan sebuah ciuman di pipi mereka. Tak lama mbak Inah datang dengan membawa dua buah cangkir bertangkai.


Nuri sempat bingung menuturkan kata untuk mbak Inah, akhirnya atas saran mbak Inah sendiri ia ingin di panggil bibi oleh si kembar.


"Sama sama tuan kecil," jawab mbak Inah.


Setelah menghabiskan susunya, kedua bocah tersebut di giring ke kamar mandi oleh Nuri.


Seperti bisa sebelum tidur wajib cuci tangn dan kaki serta berkumur kumur dahulu.


"Ma, bacain dongeng dong!" pinta Briyan.


Dengan semangat, Nuri mengambil buku cerita yang ada di rak buku. Keduanya mendengar dengan seksama.hinga perlahan kedua mata anak tersebuy tertutup. Yakin bahwa anaknya sudah tidur, Nuri pun segera keluar sambil menutup pintu pelan.


Satelah sampai di kamar, Nuri mengambil ponsel lalu mengetik pesan kepada suaminya.


Satu menit, dua menit hingga lima menit tak kunjung ada jawaban, Nuri hanya pasrah.


Ia pun memilih berkutat dengan laptopnya untuk mengerjakan skripsi yang akan ia ajukan bulan depan.


....


Brayn dan Briyan sudah mandi sore. Tak seperti biasanya, ia mengajak Nuri untuk jalan jalan. mengingat jarang jarang si kembar mengajaknya pergi, dengan antusias Nuri mengiyakan.


"Pak Mun, mana kunci mobil?" tanya Nuri.


Pak Mun yang sedang ngopi di taman belakang segera merogoh saku lalu memberikan sebuh kunci pada Nuri.

__ADS_1


"Ibu mau kemana?" tanya Pak Mun.


"Saya mau keluar sebentar bersama anak anak. Pak Mun dan mbk Inah jaga rumah ya," pesan Nuri.


"Siap, Bu," ucap pak Mun sigap.


Nuri melajukan mobilnya pelan sambil mendengarkan dua bocah kecil bercerita. Sesekali Nuri hanya melirik dari kaca spion untuk melihat ekspresi sang anak yang duduk di bangku belakang.


"Kita mau kemana, Bos?" tanya Nuri mengulum senyumnya.


"Kemana, Ray? Kan tadi kamu yang ngajak Mama jalan," ucap Briyan.


"Kita jalan jalan aja, muter muter gitu, abis itu kita ke taman sebentar beli permen kapas," ungkap Brayan.


"Eh, mana boleh! Nanti gigimu dimakan ulat," sembur Briyan.


"Kan nanti langsung gosok gigi sampai rumah," ujar Brayan


Nuri menahan tawanya, kala dua bocah kecil itu saling beradu pendapat. Kadang mereka akan terlihat manis, menggemaskan namun, kadang membuat kesal juga.


"Yasudah, kita mutar mutar lalu kita singgah ke taman." Nuri menyetujui ide Brayan. Memang kadang kita butuh waktu untuk menjernihkan pikiran, meski hanya sekedar mutar mutar jalan kota, anggap saja piknik kilat.


"Stop, Ma! Riyan mau pipis," rengek anak sulung itu.


Seketika Nuri membelokkan mobilnya di depan sebuah cafe. Ia tahu di dalam sana ada toilet.


"Kok malah di sini Ma? ini bukan toilet," protes Brayan.


"Iya sayang, Mama tahu. Kita numpang toilet yang ada di dalam. Nanti sebagai gantinya kita beli jus atau cake," ucap Nuri.


Ketiganya segera masuk ke dalam cafe. Nuri menyuruh Brayan menunggu di sebuah meja dengan memberi arahan jelas bahwa ia tak boleh meninggalkan tempat itu sebelum sang mama datang dan berarti kala ada yang memaksanya untuk ikut pergi.


Brayan yang patuh hanya mengangguk. Setelah kepergian sang adik dan mamanya ke toilet, tanpa sengaja ia penglihatannya menangkap sosok yang sangat ia kenal. Ia bahkan sambil mengucek matanya agar lebih jelas lagi. Dan benar itu adalah sosok sang papa namum, mengapa ia tertawa bersama orang lain yang tak mengenakan hijab.


.


.


.


.


...Nih, sesuai keinginan kalian...


...Nopel ini uthor lanjutin...


...Tapi jangan lupa tebar hadiah...


...kalian untuk uthor ya!...


Jangan lupa juga baca nopel uthor lainnya


Ada Cinta Di Pesantren 2.


Kisah Brayan remaja.

__ADS_1


__ADS_2