
Assalamualaikum wr. wb.
Alhamdulillah, dari novel pertama ini teh ijo bisa melahirkan cerita demi cerita. Kali ini teh ijo mau kasih tahu kalau teh ijo punya novel baru, Judulnya IMAM PENGGANTI, Mampir ya!
#Sebagian Cuplikan
Siapa yang menyangka jika hari bahagia akan berubah menjadi hari duka. Tangis kebahagiaan akan berubah menjadi tangisan duka.
Hari yang telah dinantikan sekian lama dengan melewati segala proses dan persiapan yang sudah sangat matang, tiba-tiba harus terkubur dalam suasana duka untuk selama-lamanya.
Tepat di hari pernikahannya, mobil yang dikendarai Yudha mengalami sebuah kecelakaan yang harus merenggut nyawanya. Namun, sebelum Yudha menghembuskan napas terakhirnya, dia berpesan kepada Huda untuk menggantikan dirinya menikahi Humaira, calon istrinya.
Kecelakaan itu terjadi ketika Yudha tidak bisa mengendalikan kecepatan laju mobilnya. Dimana dia sedang memburu waktu agar segera sampai di tempat tujuan. Namun naasnya, saat dia hendak menyalip mobil yang ada di depannya tiba-tiba ada sebuah mobil dari arah berlawanan. Tak dipungkiri lagi, kecelakaan maut itu terjadi.
"Tidak Mas. Mas Yudha harus bertahan. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit dan dokter akan menyelamatkan Mas Yudha," kata Huda yang juga sedang menahan rasa sakitnya. Namun rasa sakit yang dialaminya tidak separah dengan rasa sakit yang sedang dialami oleh sang kakak.
Terlihat dengan jelas jika Yudha sudah tidak sanggup lagi untuk bernapas.
__ADS_1
"Hu-da, ingat pesanku. Kamu harus menjaga Humaira, untukku. Nikahi dia, jaga dia, sayang dia," kata Yudha dengan susah payah.
Ibu dan juga calon istrinya menangis histeris saat mendengar kabar Yudha mengalami kecelakaan dan sedang kritis di rumah sakit
"Mas Yudha." Tangis Maira pecah saat dia melihat kondisi calon suaminya yang telah terbaring di ranjang rumah sakit.
Yudha yang masih sadar mengulurkan tangannya untuk menyentuh Humaira, calon bidadari surganya.
"Ma-i-ra," ucap Yudha terbata.
"Mas Yudha, bertahanlah." Maira menggenggam tangan Yudha dengan air mata yang terus membajiri pipinya.
Huda yang berada di sampingnya segera mendekat ketika tangan Yudha terulur untuk menyentuhnya.
"Mai-ra, ma-afkan a-ku ti-dak bi-sa mene-pati janjiku," ucap Yudha dengan sisa napas yang dia miliki.
"Ta-pi ka-mu te-nag saja, a-da Hu-da yang a-kan menggnti-kanku setelah a-ku pergi." lanjut Yudha yang sudah tidak semakin kesulitan untuk bernapas.
"Mas Yudha ngomong apa? Kamu gak akan pergi kemana-mana. Kita akan segera menikah, Mas. Ingat kita pernah bermimpi untuk hidup sampai menua," kata Humaira dengan tangisnya.
__ADS_1
"Hu-da ... ni-ka-hi Ma-i-ra." Meskipun dengan terbata, tetapi ucapan Yudha sangat jelas di telinga semua orang, termasuk Humaira.
Tangan Huda dan tangan Maira sudah di genggaman erat oleh Yudha. Yudha berharap jika Huda bersedia untuk menggantikan dirinya menjadi imam untuk Humaira. Bagaimanapun Yudha berharap jika pernikahan ini tetap berlanjut, meskipun bukan dia yang menjadi imam untuk Humaira.
Huda menggeleng pelan. "Tidak, Mas. Kamu-lah yang harus menikah dan menjadi imam untuk mbak Maira," tolak Huda yang berusaha menarik tangan yang sedang digenggam boleh Yudha. Namun, Yudha tak melepaskan genggaman tangannya, begitu juga dengan Maira yang mencoba untuk melepaskan.
Yudha hanya bisa memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit yang sudah menyebar keseluruhan tubuhnya.
"Menikahlah, agar a-ku bi-sa pergi dengan tenang."
Tanpa sengaja mata Huda dan Maira saling bertemu. Maira yang menyadari langsung segera membuang pandangannya.
Yudha tidak memberikan celah untuk mereka melepaskan tangannya, sebelum Huda menyetujui permintaan Yudha.
"Maaf Mas, aku tidak bisa menikahi calon istrimu karena aku juga sudah memiliki calon sendiri," tolak Huda.
"Mas Yudha harus optimis. Aku yakin Mas Yudha bisa melewati semua ini. Kita akan menikah, Mas. Saling mencintai hingga menua bersama anak cucu kita," sambung Humaira dengan rasa sesak di dada.
__ADS_1