
Agung berjalan lemas menuju ranjang. Masih terdiam, menatap Nuri dengan sayu. Sementara Nuri, masih tertunda lemah. Ia sudah yakin jika Agung sangat kecewa dengan pilihannya tanpa sepengetahuan Agung.
"Kenapa Ai? kenap?" lirih Agung. Ternyata usahanya selama ini di pawang oleh istrinya sendiri.
"Maaf, mas," ucap Nuri.
Suasana menjadi canggung. Hanya keheningan yang menyelimuti malam yang telah sunyi.
Tak ada ucapan selamat malam ataupun kecupan di kening Nuri. Agung terbalut kekecewaan hingga akhirnya ia memilih tidur membelakangi Nuri.
Nuri yang merasakan perubahan suaminya hanya bisa mengelus dada. Merasakan setiap denyutan dalam dadanya. Mungkin rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa kecewa yang ia berikan kepada Agung.
Nuri mengusap air matanya yang tak bisa ditahan lagi. Bahunya naik turun menahan isak agar tak terdengar oleh Agung.
Melewati malam sunyi tanpa sentuhan Agung bukanlah keinginannya. Selama ini dirinya sudah terbiasa dengan sentuhan hangat dari Agung namun, malam ini satu kata pun tak terucap dari bibir suaminya.
🍂 🍂 🍂
Nuri kehilangan sosok Agung saat ia bangun dari tidurnya. Padahal, waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Setiap sudut telah ia cari namu sayang, ia tak menemukan sosok suaminya.
Pikiran Nuri sudah tak bisa berpikir jernih lagi saat tak mendapati mobik Agung di halaman.
Nuri semakin terisak. Ternyata pilihan berdampak buruk terhadap rumah tangganya.
Nuri sangat merutuki kecerobohannya, mengambil keputusan tanpa perundingan terlebih dahulu.
"Mas Agung kemana?" Nuri semakin terisak di dalam kamarnya, saat beberapa kali ia menghubungi ponsel Agung namun, tak ada jawabannya.
Disisi lain Agung terlihat panik, hingga ia melupakan istrinya yang di tinggal masih dalam keadaan tidur.
Agung berusaha menenangkan Maya yang masih terisak di ruang icu.
__ADS_1
Sekitar pukul tiga dini hari, ponsel Agung berdering. Mamanya menelepon mengatakan sang ayah telah dilarikan ke rumah sakit akibat penyakitnya jantungnya kumat. Sampai sekarang keadaan Dayu belum bisa di pastikan.
Agung mengusap wajahnya kasar, bagaimana mungkin disaat seperti ini ponselnya bisa tertinggal di dalam mobil.
.....
Nuri melangkah pelan menuju kampus, hari ini ia benar benar tak ada gairah. Jika biasanya setiap pagi ia akan di jahili oleh kelakuan suaminya sebelum turun dari mobil, kini ia hanya melangkah gontai dari bus way. Hatinya benar benar hancur setelah mengungkapkan kejujuran.
Nuri tak menyangka, Agung akan semarah itu hingga meninggalkan rumah.
Nuri segera menghapus cairan bening yang hendak merembes keluar saat Zahra menghampirinya.
"Eh, tumben nih loyo?" sapa Zahra.
Nuri menyengir. "Sok tau," elaknya
"Kelihatan tau. Kalau ada masalah cerita aja." Zahra seakan peka terhadap perubahan sikap Nuri.
Mata Nuri terkesima mendengar penuturan Zahra. Mungkinkah ada benarnya, saat ini dirinya sedang di uji ke dewasa diri.
Berjalan gontai menelusuri koridor hingga sampai di depan ruang kelas, Nuri sudah di suguhkan dengan dua orang yang saling berdiam diri yang sedang menunggu dirinya.
Seperti ingin lari dari kenyataan. Hati dan pikirannya belum tenang, sekarang ia harus di buat pusing oleh kehadiran dua orang di hadapannya yang hanya akan beradu mulut.
"Selamat pagi Nuri," ucap kedua pemuda tersebut bersamaan.
"Ih, apa sih lo! ngikut ngikut," cetus Rian dan Juna.
"Kakak itu yang ngikutin aku!" omel Rian.
Nuri hanya menggeleng dirinya memilih hanya melewati kedua pemuda tersebut.
__ADS_1
"Eh, tunggu dong, Nuri! kamu belum balas ucapan ku. Juna menghadang Nuri.
"Pagi juga kak Juna, aktor tertamvam di kampus ini, maafin Nuri ya, dia lagi sakit gigi, kakak sudah pernah sakit gigi belum? Sakit gigi itu rasanya lebih sakit ketimbang sakit hati loh," cerocos Zahra panjang di kali lebar.
Juna hanya terpaku menatap kepergian Nuri. Rian yang berada di sampingnya segera menjulurkan lidah seraya mengejek Juna yang mati kutu di tempat.
"Daaa, kak senior." Rian tertawa penuh kemenangan dan segera menyusul Nuri masuk ke ruang kelas.
....
Agung mengacak rambutnya frustasi. Setelah papanya dinyatakan sudah sudah melewati masa kritisnya, Agung meminta ijin pulang sebentar. Maya yang sudah terlihat tenang pun mengerti akan kegundahan sang anak yang sempat meninggalkan istrinya di rumah sendirian.
"Kamu kemana, Ai? angkat!" gerutunya saat Agung mencoba menelepon balik nomer Nuri.
Tak ingin berlama, Agung segera melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berharap ia segera sampai di rumah.
Agung kembali mengacak rambut yang seharusnya sudah harus di pangkas. Dirinya tak menemukan keberadaan Nuri, hanya ponsel Nuri yang tertinggal di kamar.
"Mungkinkah sudah berangkat kuliah?"
.
.
.
.
**Udah pada liat visualnya mereka belum? Gimana menurut kalian? Rian terlihat lebih dewasa ketimbang pak Agung-kan?
Dari seribuan yang menekan tombol ❤
__ADS_1
namun hanya sekitar 100-200 yang tekan tombol 👍🏻 aku syedih tau**...