Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Pantai 3 Warna


__ADS_3

Malam ini Agung memutuskan untuk tetap menginap di kota apel tersebut. Dia harus membayar rental mobil dua kali lipat dari harga sebelumnya. Agung segera menghubungi biro agen rental, bahwa ia akan memanjangkan waktu sewa mobilnya. Awalnya Agung di anggap sebagai seorang penipu namun, saat Agung mengatakan akan segera mentransfer biaya-nya barulah mereka percaya.


"Kita kenapa nginep di sini, Mas?" tanya Nuri.


Setelah menyantap pesanannya seperti orang kelaparan, Nuri merebahkan tubuhnya di sebuah sofa yang telah tersedia sambil menonton televisi.


"Kamu 'kan suka pantai? Besok kita akan ke pantai yang tak kalah indah dari pantai yang ada di Bali," ujar Agung.


"Kemaren kita belum puas menikmati pantai di sana jadi, besok aku akan bawa kamu keliling pantai di sekitar sini," lanjutnya lagi.


Mendengar kata pantai Nuri mengurungkan niatnya untuk memprotes lagi.


....


Usai sarapan di restoran sebelah penginapan mereka, kini Agung sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali ia harus menghubungi seseorang dengan wajah serius.


Setelah memastikan perlengkapan sudah lengkap, Agung segera mengajak Nuri untuk segera berangkat agar bisa menjelajahi setiap pesisir laut di kota tersebut.


"Mas?! yang benar saja, kita naik motor?" Nuri terkejut saat Agung telah memakaikan sebuah helm di kepala nya. Agung tersenyum, bukankan keliling kota menggunakan motor akan lebih romantis, apalagi saat Agung mengetahui bahwa rute jalan yang harus mereka lewat sedikit payah dan licin.


"Kalau pakai mobil kita harus jalan 1 km hingga ke tepi pantai, mau?"


Dengan pasrah Nuri menuruti ucapan suaminya.


Sebenarnya seperti apa pantai hingga Agung rela menyewa sebuah motor hanya untuk ke sana.


Berhubung di sana adalah pantai yang dijaga ketat kebersihannya, maka Agung hanya membawa bekal yang tidak akan menimbulkan sampah di sana.


Setiap pengunjung sebelum memasuki area pantai akan di data apa yang mereka bawa, begitu juga saat mereka pulang akan di data kembali.


Jika ada barang yang kurang berarti mereka meninggalkan sampai di sana dan akan di kenakan denda.


Meski awalnya tujuan Agung adalah pantai tiga warna namun, ia lebih dahulu mendaratkan kakinya di pantai Goa Cina dan pantai Gatra terlebih dahulu. Hanya sekedar main pasir dan menikmati suguhan alam yang benar benar sangat indah.


Saat Agung mulai mengajak Nuri untuk melihat pantai Gatra, Nuri ingin menolak karena kondisi jalan yang susah dilalui.

__ADS_1


"Mas, capek!" keluhnya.


"Sebentar lagi juga akan terbayar, Ai?" Agung tetap fokus pada jalanan sempit menuju pantai Gatra.


Sepanjang perjalanan Nuri hanya memeluk erat pinggang suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu Agung.


Benar saja, lelah Nuri hilang seketika saat melihat jernihnya air pantai dan kondisi pantai bebas dengan dari sampah.


"Kalau dekat, pasti aku akan datang ke sini setiap minggu," ungkap Nuri kala mereka sudah lelah bermain di area bibir pantai.


"Kita kemana lagi, Mas?" tanya Nuri kala Agung telah mulai bersiap untuk meninggalkan pantai tersebut.


"Pantai Tiga Warna," ucap Agung.


Nuri hanya mengangguk. Mendengar namanya saja ia yakin bahwa pantai di sana memiliki tiga warna.


Perjalanan kali ini Nuri merasa sangat mual. Jalan terjal dan licin membuat perutnya bergejolak.


Terpaksa Agung harus beberapa kali berhenti.


Namun, Nuri menggeleng. "Rugi dong, Mas! bentar lagi sampai." Nuri mencoba menguatkan dirinya. Begitu besar rasa penasaran dengan pantai yang namanya belum pernah ia dengar sebelumnya.


"Tenang, aku masih kuat kok," sambungnya lagi.


Sesuai permintaan Nuri, Agung menjalani motornya dengan pelan.


Pantai yang tersembunyi nan asri. Pantas saja Agung merekomendasikan tempat ini. Sama seperti pantai sebelumnya, terlihat sangat bersih dan jernih air lautnya.


Berhubung di batasi jumlah pengunjungnya, maka Nuri dan Agung sangat puas menikmati suguhan alam yang ada di hadapannya.


"Subhanallah, Mas. Indah sekali," takjub Nuri.


Agung masih setia menggandeng tangan Nuri menyusuri bibir pantai dan sesekali kakinya bermain air.


Dengan sebuah ide, Nuri memercikkan air laut ke arah Agung membuat sebagian bajunya basah.

__ADS_1


"Ai," keluhnya.


Nuri hanya tertawa. Saat Agung hendak membalasnya, Nuri telah berlari terlebih dahulu.


Pada akhirnya terjadinya saling kejar mengejar.


"Awas ya kalau sampai dapat," ucap Agung.


"Gak takut. Wekk." Nuri menjulurkan lidahnya keluar


Agung merasa tertantang oleh ejekan Nuri dan mengejarnya kembali.


"Jangan salahkan aku jika aku khilaf disini," seru Agung.


Merasa lelah, akhirnya Nuri pun tertangkap oleh Agung.


"Nah, kena 'kan." Agung sudah memeluk erat tubuh Nuri dari belakang. Deru nafas yang naik turun membuat jantung Nuri berdetak lebih kencang.


Setelah membalikkan tubuh Nuri. Dengan cepat Agung mengecup bibir Nuri.


Niatnya hanya sebuah kecupan biasa namun, otak Agung mendadak berkeliaran. Entah siapa yang memulai menukar lidah terlebih dahulu hingga kini keduanya hanyut dalam setiap decakan yang menggebu.



**Pantai Tiga Warna yang berada di sekitar kota Malang.


.


.


.


Selamat Hari senin. Boleh dong bagi Vote diawal minggu ini?


Tebar tebar hadiah juga boleh 😉**

__ADS_1


__ADS_2