
Semua teman teman Nuri sudah meninggalkan Asrama. Hanya tinggal dirinya yang masih di sana sebab ia harus menunggu Adam dan Azam.
Bisa di pastikan mereka akan pulang nanti
malam. Baru kali ini asrama terasa sepi. Biasanya kalau pas masuk waktu sholat.
semua santri berebut untuk berwudhu. Kini Nuri menatap tempat itu kosong. Barisan shaf pun bisa di hitung.
Langkah kakinya terhenti saat ia melewati sebuah ruangan.
Deg.
Perasaan Nuri tiba tiba sedih saat menatap ruang itu. Ruang yang biasa di gunakan untuk
hafalan kini kosong melompong. Pasti ia akan merindukan ruangan itu selama
libur sekolah.
“Ustad Hanaf.” Satu kata yang ia bayangkan. Sepertinya akan rindu berat terhadapnya.
Terlihat bu Nisa pun tengah berkemas. Berhubung sekolah libur, maka bu Nisa dan keluarga pun juga pulang ke kampung halaman mereka. Nuri mengemasi buku dan bajunya ke dalam sebuah koper. Ia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan ayah dan ibunya.
Sebuah mobil telah terparkir di depan asrama putri. Terlihat Azam telah menunggu Nuri.
Sebelum menuju ke mobil, Nuri pun berpamitan terlebih dahulu kepada bu Nisa dan pak Dzaki.
“Hati hati mbak Nur. Jangan lupa tetap sholat lima waktu dan terus menghafal
ya!” Bu Nisa memeluk tubuh Nuri.
“Insyaallah, Nuri tidak lupa, Bu.” Nuri segera menyalami wanita yang selama ini menjaganya di asrama.
Mata Nuri terpaku sesaat ketika menangkap Mr Agung berada di tempat pengemudian.
"Supir baru nih? Bapak jadi supir sekarang?" cibir Nuri.
“Dia yang ngantar kita pulang. Lagian kalau
__ADS_1
naik trevel Cuma berdua itu mahal.” Azam memasang sabuk pengaman.
“Lho mas Adam kemana?” Nuri baru teringat
bahwa kakak tertuanya tak ada dalam mobil.
“Mas Adam masih ada urusan,” jawab Azam
santai.
Tak ingin terlalu banyak bicara Nuri menutup mulutnya lalu memasang handset ke kupingnya. Sesekali ia melirik ke arah Agung yang fokus mengemudi. Jika di perhatikan Agung memang tampan. Andai saja ia
tidak menyebalkan dan dingin di kelas, pasti Nuri akan jatuh cinta dua kali lipat dari pada waktu masih kecil.
Betapa malunya Nuri saat mengingat kejadian saat ia kecil yang selalu menggilai Agung
dan meminta lelaki itu untuk menikahinya di masa depan. Terlebih bodohnya ia
sama sekali tak menyadari bahwa Agung
menjadi gurunya.
“Ayo turun! Kamu pasti lapar.” Agung telah membukakan pintu Nuri.
Deg.
Jantung Nuri berpacu lebih kencang saat menatap wajah teduh lelaki di hadapannya.
Sementara Azam telah menemukan meja untuk mereka. Nuri berjalan lebih dulu. Agung mengikuti langkah Nuri dari belakang.
“Mau makan apa?” Lagi lagi pertanyaan yang mengguncang jantung Nuri.
“Apa sajalah. Yang penting halal dan bisa
kenyang.” Nuri menjawab dengan asal.
Sementara Azam masih memilih menu yang akan ia pesan.
__ADS_1
“Ada yang salah pak?” Nuri merasa risih saat agung terus menatapnya.
“Memang salah jika aku mengagumi gadis ingusan yang kini tumbuh menjadi gadis menawan?” Agung mencoba menggoda Nuri.
“Heh? Bukanya dilarang kan pak memandang lawan jenis yang bukan makhramnya? Dosa lo pak.” Nuri berusaha mengingatkan Agung.
“Siapa bilang? Kan sebentar lagi kita jadi
makram kok. Jadi gak dosa ya.” Agung
masih tetap menggoda Nuri. Bisa ia lihat
wajahnya mulai merona walaupun udara malam sangat dingin. Nuri kehabisan kata
kata untuk meladeni guru yang satu ini.
Entah serius atau hanya gurauan saja, namun ucapan Agung membuat Nuri menjadi lebih gugup.
Pesanan datang tepat waktu. Nuri sangat bersyukur, itu artinya ia tak perlu membahas
lagi ucapan Agung.
Azam hanya menjadi pendengar setia saat perdebatan terjadi di antara dua insan di hadapannya.
“Lho kok nasi goreng sih? Kan gak kenyang pak.” Nuri memprotes menu miliknya.
“Kalau gak kenyang nambah lagi nanti.”
Nuri merasa kesal kembali saat ia melihat
Menu milik Azam hanya semangkok soto.
“Udah makan aja. Bukannya kamu suka sama nasi goreng? Nanti kalau kurang nambah lagi.” Terlihat Agung sangat menikmati pesanannya yang sama seperti miliknya.
Nasi goreng adalah makanan kesukaan Nuri. Agung dan Nuri dulu sama sama menyukai
nasi goreng buatan bu Aisyah, ibunya Nuri.
__ADS_1
Bersambung ...