
Larut dalam balas membalas pesan, Nuri tak menyadari bahwa telah hampir tengah malam.
Mata yang seharusnya sudah terpejam untuk mengarungi alam mimpi, kini masih setia di menatap benda pipih yang membuatnya berdebar tak menentu setiap kali membaca balasan dari Agung.
Hingga akhirnya Nuri memutuskan untuk mengakhiri chattingan bersama suaminya. Takut jika subuh nanti ia akan terlambat.
Send to My Love
[ Pak, sudah larut. Kita sambung besok, ya ]
Send to My Wife
[ Baiklah. Maaf sudah lupa waktu. Selamat beristirahat My Little Wife. ]
Nuri ingin tertawa saat membaca kalimat terakhir yang di kirim oleh Agung. Sebelum ia benar benar pergi ke alam mimpi, Nuri pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
....
Saat jm pelajaran, sangat berat bagi Nuri menahan matanya yang terasa lengket. Beruntung saja bukan jam pelajaran bahasa inggris, setidaknya wali kelas tak pernah menghukum atau pun memarahi siswanya, paling paling hanya kena lemparan penghapus saja.
"Tadi malam tidur jam berapa?" tanya Tika saat jam istirahat.
"Jam 12, mungkin," jawab Nuri sambil mengaduk es teh yang telah terhidang di hadapannya.
"Ngapain aja tidur sampai jam segitu," celetuk Galih.
"Tunggu, kamu gak nonton pelem yang di sensor itu 'kan?" timpal Ratna.
Nuri menyelintik jidat Ratna. "Sembarangan!"
Keempat Srikandi menikmati makan siang mereka. Saat hendak beranjak untuk membayar, seorang gadis dengan sengaja menabrak Nuri dan minuman yang di bawanha tumpah mengenai jilbab Nuri.
Sebisa mungkin Nuri menahan emosinya. Menatap orang tersebut dengan tajam.
Ingin rasanya Nuri segera menarik jilbab perempun yang ada di sampingnya.
"Astagfirullah, Syifa! Apa yang kamu lakukan," teriak Galih.
__ADS_1
Pandangan beberapa siswa tertuju kepada mereka.
"Oh, maaf aku gak sengaja. Kamu gak apa apa 'kan, Nuri?" Syifa berpura-pura namun, Nuri bukanlah orang yang bodoh. Kepalan tangannya perlahan memudar lalu meninggalkan Syifa tanpa sepatah kata.
Syifa tersenyum puas. Gadis yang meras Nuri telah mengkhianatinya meras sakit hati saat ia memilih meninggalkannya dan bergabung ke pada Tika dan kawan kawan. Apalagi ia pernah mempergoki Nuri berduaan bersama Azam, lelaki idaman hatinya.
"Ya Allah, ini kenapa?" Ratna dan Tika tak mengetahui kejad yang menimpa Nuri sebab, mereka telah jalan duluan.
"Nih, kerjaan anak bermuka dua itu!" sahut Galih kesal.
"Sudahlah, tunggu aja waktu yang tepat," gumam Nuri.
...
Hari Rabu adalah jadwal Agung mengajarkan di kelas Nuri. Wajah Nuri begitu segar setelah mendapat pesan dari Agung selepas subuh tadi.
Agung mengatakan jika nanti tak akan ada tugas, hanya belajar biasa.
"Tumben nih, semangat?" sindir Ratna.
"Normal kok." Galih menyentuh keningnya Nuri.
Nuri melotot. "Ih, kalian itu kenapa sih? Setiap hari aku 'kan memang semangat," elak Nuri. Namun, muka Nuri terasa memanas.
Tak lama Agung telah memasuki kelas. Pengedaran matanya mencari sosok Nuri, ia tersenyum saate mendapati Nuri juga tengah tersenyum kepadanya.
Beberapa kali Agung mengulum senyumnya, hingga tanpa sadar beberapa siswa memperhatikannya. Sedikit penasaran dengan apa yang sedang terjadi kepada sang guru.
Belum lagi, hari ini tak ada tugas darinya.
Begitu juga dengan Nuri. Sesekali mencuri pandangan kepada Agung. Saat mata mereka saling bertemu keduanya pun langsung tersenyum.
Agung menerangkan pelajaran. Jika biasanya hanya di depan papan tulis, kini ia memilih mondar mandir ke meja siswa ke siswa dan berhenti di samping meja Nuri.
Nuri mengamati setiap gerak gerik Agung. Sambul menyangga dagunya, Nuri sangat terpesona dengan sang guru. Kemeja putih, celana hitam serta sedikit brewok di wajahnya membuat Nuri benar benar terhipnotis.
Beberapa kali Agung berdeham menatap Nuri, hingga Tika menyenggol lengannya, gadis itu baru menyadari telah mengagumi suaminya sendiri.
__ADS_1
"Sudah paham?" tanya Agung.
Nuri yang sama sekali tak menyimak penjelasan Agung hanya menggeleng.
"Matilah Nur," bisik Tika.
Nuri pun sudah siap jika akan mendapatkan hukuman. Namun semua siswa dibuat tak percaya jika sang guru tak mempermasalahkan kejadian itu, dan hanya memberi PR saja.
"Aduh... kurasa dia bukan Mr A," keluh Ratna.
"Atau dia punya kembaran," sahut Galih.
"Sudah ku duga." Tika menimpali.
Nuri menatap Tika dengan perasaan berbeda. Mungkinkah Tika telah mengetahuinya? batin Nuri.
Sepulang sekolah, keempat gadis itu tak langsung ke asrama. Karena hari ini hanya jadwal Tika yang setor hafalan, mereka pun memilih senggah sebentar ke perpustakaan.
Di tengah jalan tak sengaja Nuri melihat Syifa tengah berjalan ke toilet. Berpikir sejenak, akhirnya Nuri mengikuti Syifa.
"Aki kebelet nih, toilet bentar ya," pamit Nuri. Tanpa rasa curiga ketiga Srikandi meng-iyakan saja. Mereka akan menunggu Nuri di perpustakaan saja.
Dengan langkah pelan, Nuri membuntuti Syifa hingga masuk ke dalam kamar mandi.
.
.
.
.
Kira kira Nuri mau ngapain ya?
Kalian tahu gak, sebenarnya nulis itu butuh waktu berjam jam lho buat ngetik. Kadang sampai lupa waktu. green gak minta lebih kok dari kalian. Cukup like setelah baca, itu sudah cukup. Dengan seperti itu kalian membuktikan bahwa telah menghargai karya seseorang. ( Syukur syukur kalian vote dan kasih tip )
Sebenarnya kalau belum terikat kontrak, green mau boyong Nuri dan Pak Agung ke lapak sebelah, tapi berhubungan telah kontrak apalah daya selain lanjut terus sampai di mana green benar benar merasa siap untuk berhenti.
__ADS_1
Selamat Malam. Hari ini green dalam mod yang baik udah double up, jadi kalian harus baik juga sama green ya!