Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Api cemburu


__ADS_3

Saat keluar dari bioskop, tak sengaja Nuri menyenggol lengan seseorang hingga keduanya saling menatap. Terkejut, saat orang yang Nuri senggol adalah Juna. Kakak seniornya ternyata juga berada dalam ruangan yang sama sejak tadi.


"Kak Juna," gumam Nuri.


Juna memang tak merasa terkejut sebab, ia memang sengaja merapatkan badanya agar bisa tersenggol oleh Nuri.


Selama di dalam, Juna tak menemukan keberadaan Nuri seperti yang di katakan oleh Yuda tadi.


Sahabatnya mengatakan bahwa Nuri sedang veeada di mall yang sama dan akan menonton sebuah drama asal korea.


Demi bisa bertemu dengan Nuri, Juna terpaksa harus menonton film yang sama sekali tidak ia sukai.


"Nuri." Juna pura pura terkejut.


"Maaf Kak gak sengaja."


Tatapan Juna masih memandang Nuri dengan lekat sebelum pada akhirnya suara deheman membuat Juna tersadar. Agung yang berada di samping Nuri mengeluarkan suara batuk buatan.


"Maaf, Mas. Gak sadar kalau ada orang lain. Maklum pesona Nuri membutakan mata saya," cerocos Juna tanpa tahu siapa sosok yang berada di samping Nuri saat ini.


Agung menahan nafasnya, ingin sekali ia berteriak di dekat telinganya lalu mengatakan bahwa Nuri adalah istrinya.


Mengamati perubah Agung, Nuri segera mengajak suaminya segera pulang.


"Kak Juna, kami permisi pulang duluan ya." Nuri menuntun tangan Agung yang masih mengepalkan tangan.


"Hati hati ya! Mas jagain adeknya ya! Daaa.... Nuri." Dengan senyum lebar Juna melambaikan tangannya. Bisa bertegur sapa dengan Nuri saja sudah membuat jiwanya meronta bahagia, apalagi jika setiap hari bisa menatap wajah ayunya.


Tak ada percakapan selama perjalanan. Nuri terlalu takut untuk menegur Agung. Wajahnya sudah terlihat sangar. Bagimana Agung tak merasa kesal, secara dengan terang lelaki brnama Juna menaruh hati terhadap istrinya dan memandang dia adalah kakaknya Nuri.


"Pokoknya kamu harus menjauh dari dia!" tekan Agung.


"Mas, dia itu senior aku. Dan aku masih butuh bantunya," jawab Nuri.

__ADS_1


"Oo, jadi kamu lebih memilih dia dari pada suami kamu sendiri?" sindir Agung.


Nuri hanya bisa menahan nafasnya. Agung terlihat sangat menyeramkan saat sedang marah.


"Bukan gitu, Mas-," ucapan Nuri tertahan.


"Di kampusmu banyak senior selain dia. Kamu bisa minta tolong kepada senior perempuan!"


Nuri hanya terdiam. Melawan Agung hanya akan memperkeruh masalah saja.


Agung mempercepat langkagnya, meninggalkan Nuri yang masih membisu. Saat ini Agung sedang tersulut api cemburu. Bukan tanpa sebab, jika saat pertama kali ia menepis jauh jauh prasangkanya namun, kali ini dirinya telah yakin, bahwa Juna memang menginginkan istrinya.


Tak ada percakapan sepanjang perjalanan, Agung mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Terlihat Nuri hanya memegangi seatbelt-nya dengan kuat. Melirik Agung, lelaki itu terlihat sangat seram.


Meski ia merasakan takut namun, bibir Nuri kelu untuk mengegurnya.


Agung membanting pintu mobil dengan kasar, membuat Nuri sangat terkejut. Langkah Agung terlalu cepat hingga Nuri tak bisa mengimbanginya karena high heels setinggi 2 cm yang ia kenakan.


Benar saja sekitar 15 menit, Agung keluar dari kamar mandi. Wajahnya kini terlihat lebih segar dibanding tadi. Agung hanya sekilas menatap Nuri. Di depannya, Nuri sudah menyanggulkan rambut panjangnya, jenjang leher yang tak pernah terekspos kini terlihat sangat jelas di hadapan Agung.


Keadaan saling mendiami berlangsung hingga malam hari. Saat makan malam, Agung lebih dahulu mengambil nasinya sebelum Nuri mengambilkannya.


Saat Nuri hendak meletakkan lauk di piring Agung, ternyata Agung lebih dahulu mengambilnya.


Kini Nuri hanya bernafas pasrah.


Suasana tersebut tak luput dari pandangan Maya dan Dayu, keduanya hanya mampu menggeleng.


"Ai, lusa Mama akan adakan syukura kelulusanmu yng tertunda, sekalian syukuran untuk rumah baru kalian," ucap Maya di sela sela makannya.


Mendengar ucapan sang Mama Agung pun tersedak. "Jadi, Mama ngusir kami?"


Nuri segera memberikan air minum untuk Agung namun sayang, tanganya segera di tepis oleh Agung.

__ADS_1


Sabar. ucap Nuri dalam hati.


Meski matanya berkaca kaca ingin menangis namun, ia harus tetap kuat. Sejak kapan seorang Nuri menangis. Nuri memberi kekuatan untuk dirinya sendiri.


"Siapa yang bilang mengusir kalian? Jarak kampus Nuri itu agak jauh dari sini, Papa sudah membelikan rumah yang jaraknya tidak jauh dari kampus. Setidaknya saat kau tak bisa menjemput, Nuri bisa jalan kaki untuk pulang." Dayu angkat bicara.


Agung pun mengangguk sambil melirik Nuri. Dilihatnya sang istri dengan santai menikmati makan malamnya. Haruskah ia bahagia atau kecewa saat akan segera berumah sendiri dan meninggalkan istana milik orang tuanya.


.


.


.


.


.


Haiii maaf baru bisa datang hari ini, meski terasa berat namun aku berusaha untuk Up cerita ini.


Sebenarnya lagi malas untuk nulis.


Namum jika kalian masih berharap cerita ini berlanjut beri dukungan kepada Uthor ini.


Tekan like, tinggalkan jejak, Syukur² ada yang ngasih bunga.


Kalo kalian mau liat Visual Mas Agung, Nuri dan Bang juna,


silahkan follow ig author : green_teaa07


Kok tiba² Uthor pengenya Nuri sama Bang Juna ya???


Jangan lupa tinggalin jejak!

__ADS_1


__ADS_2