Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Tamu bulanan


__ADS_3

Agung sengaja akan menginap di salah satu hotel terdekat di dekat pantai.


Hotel Queen of the south menjadi tujuannya malam ini. Setelah cek in, Agung dan Nuri segera masuk Ke dalam kamar, jujur hari ini keduanya sangat lelah.


Nuri memilih segera membersihkan tubuhnya yng sudah lengket daru tadi, sementara Agung masih sibuk dengan ponselnya. Jari jemarinya mengetik panduan pemula eeaa eaa di mbah google. Meski ia tidak bodoh, dan mengerti sedikit tentang eeaa eeaa namun, ia ingin memberi kesan yang tak terlupakan untuk keduanya.


Nuri keluar kamar mandi dengan memakai daster selulut, daster batik yang baru saja mereka beli tadi siang di pedagang kaki lima saat menuju ke pantai.


Meski dulu sudah terbiasa memakai pakaian pendek namun, inilah kali pertama ia memakai pakaian bernama daster.


Agung tak berkedip melihat Nuri dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Nuri membungkus rambutnya dengan sebuah handuk kecil, nampak jelas terlihat jenjang leher Nuri yang putih mulus tak pernah terekspos selama ini. Kini Agung hanya bisa menelan saliva melihat Nuri dengan pakaian seperti ini. Membuat yang di bawah sana perlahan mulai bangun.


"Mas," tegur Nuri, saat Agung tak berkedip melihatnya.


"Ah, iya. Apa?" Agung gelagapan.


"Sana mandi!" titah Nuri sambil memberikan handuk berwarna putih.


Agung berjalan pelan mengambil handuk dari tangan Nuri. "Kamu cantik malam ini, tunggu aku ya," bisik Agung di telinga Nuri kemudian berlalu menuju kamar mandi.


Nuri masih terdiam, wajahnya mulai memanas kembali, detak jantungnya kian berdetak lebih cepat.


Duduk di ranjang sambil memegangi dadanya, Nuri tersenyum bahagia. Mungkin inilah yang dinamakan cinta. Gadis itu menyadari bahwa ia telah benar benar jatuh cinta kepada suaminya sendiri.


Sementara itu, di kamar mandi, Agung menggosok tubuhnya dengan sabun cair hingga tanpa ada celah yang terlewatkan.


Bersiaplah malam ini kau akan keluar di rawa berlembah.


Dengan sangat pelan dan meresapi, Agung menyabuni adik kecilnya dengan gerakan naik turun secara lembut dan lambat.


Sesekali ia memejamkan mata lalu mendesah pelan.


Bayang bayang tubuh Nuri yang seksi menghantui pikirannya, hingga tak terasa adik kecilnya samakin lama semakin menegang.


Ah, sial, umpatnya.


Agung keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan berbinar. Telihat Nuri duduk menghadap ke luar jendela. Andaikan saja pakaian yang ia gunakan menutup anggota tubuh lainnya, ia pasti akan keluar melihat pemandangan malam. Sangat jelas terlihat deburan ombak di depan sana.

__ADS_1


Hotel tempat mereka menginap memang menghadap tepat kearah pantai.


Nuri merasakan tangan Agung memeluk pinggannya dari belakang. Deru nafasnya membuat bulu kudu terangkat saat di tambah lagi Agung telah bibir Agung telah memcumbu jenjang leher Nuri.


"Mas," desahnya. Agung tak memperdulikan lalu merebahkan Nuri dengan amat pelan.


Kini posisi Nuri berada di bawah Agung. Mata mereka kembali bersitatap.


Agung melepaskan lilitan handuk yang membungkus mahkota istrinya. Rambut hitam yang basah membuat Agung semakin tergoda.


Agung mendekatkan wajahnya, memiringkan bibirnya untuk menyatukan benda kenyal tak bertulang itu.


Agung mengecup pelan, lalu memasukan lidahnya untuk menjelajahi setiap rongga mulut Nuri.


Nuri terhanyut, ia pun membalas cumbuan suaminya.


Dengan satu tangan memegang tengku Nuri dan satu lagi mencoba meremas bukit kenyal, Agung semakin memperdalam ciumannya.


Sementara tangan Nuri memeluk leher Agung.


Desahan Nuri membuat Agung semakin memperdalam cumbuan dan remasan di dada Nuri.


Mereka melepaskan cumbuan hanya untuk mengambil pasokan oksigen, setelah itu mereka mengulangi hingga beberap kali.


Agung merasakan di bawah san sudah sangat tegang. Menggesekan adiknya yang masih terbungkus celana pelan pada paha Nuri, membuatnya benar benar sudah bisa memahan gejolak dalam dirinya.


Agung melepaskan cumbuanya, lalu membuka baju. Dada Nuri naik turun. Munafik jika ia menolak cumbuan suaminya.


Jari Agung mengarah untuk membuka kncing daster yang di kenakan oleh Nuri namun, tangannya di tahan oleh Nuri.


"Mas," lirihnya.


"Kenapa? kamu sudah janji bukan tadi sore? siap untuk menjadi ibu dari calon anak kita?" Jemari Agung membelai lembut pipi Nuri.


"Bukan itu, Mas," ucap Nuri.


"Lalu apa? kamu belum siap? aku akan melakukannya dengan sangat pelan agar tak menyakitimu," bisik Agung.

__ADS_1


Nuri hanya menggeleng. "Maaf, Mas bukan mau menolak tapi aku datang tamu," lirih Nuri.


Agung menarik nafas panjang dan merebahkan tubuhnya di samping Nuri. Menjambak rambutnya dengan frustsi. Bagaiman tamu itu tak tahu malu, bertamu disaat yang tidak tepat.


Dasar tamu sialan! Umpatnya dalam hati.


Nuri melihat kekecewaan sang suami namun harus bagaimana lagi, ia tak bisa menolak kapan saja tamu itu akan datang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ah... Belum gol..


Tinggalkan jejak!


Tap Like biar emak bisa mikir yang Uwwuu uwwuu...

__ADS_1


__ADS_2