
Sebelum waktu subuh, Nuri sudah berkemas. Menyiapkan keperluannya juga menyiapkan keperluan Agung selama sepekan kedepan.
Entah mengapa saat melihat Agung sedang terlelap dalam wajah damainya, Nuri merasakan getaran dalam dadanya. Apakah mungkin ia sudah benar benar jatu hati pada Agung meski, Agung kadang bersikap dingin terhadapnya.
Baru pukul enam pagi namun, Nuri sudah sangat sibuk. Takut jika akan terlambat, mengingat hari senin adalah waktunya upacara.
"Sarapan dulu, Ai?" titah Maya.
Nuri menggeleng, menolaknya.
Agung yang baru turun dengan menenteng subuah ransel hanya mengangkat bahunya, saat mendapati Nuri telah siap di depan pintu luar.
"Ayo, Pak! nanti kita bisa terlambat," ujar Nuri.
Setelah berpamitan dengan Maya, keduanya langsung berangkat, meski hari masih terlalu pagi.
"Pak, bisa cepat sedikit gak sih," gerutu Nuri.
Agung sengaja memperlambat lajunya meski jalanan masih lenggang.
"Kamu kenapa sih? kayak gak tenang gitu?" tanya Agung.
__ADS_1
Mendesah pelan. "Bapak tahukan, kalau setiap hari senin itu upacara. Kalau aku telat, bisa bisa aku kena hukuman." jawab Nuri kesal.
"Eh, tapi yang suka menghukum aku-kan Bapak. Kenapa juga aku takut ya? Kalau aku telat, berarti Bapak juga telat dong!" Nuri tertawa pelan, sementara Agung yang fokus dengan jalanan ikut tertawa.
"Memang saya segalak itukah sampai kamu takut?" Agung hanya iseng bertanya.
"Iya, Pak! Asal Bapak tahu, hanya di jam pelajaran Bapak aja yang selalu serius. Beda banget sama jam pelajaran Mas Adam dan Mas Azam. O ya, satu lagi, Bapak punya julukan di kelas, yaitu Mr galak seantero pondok plus sekolah lho." Tanpa sadar Nuri telah berkata terus terang kepada Agung. Seketika Agung mengerem mendadak, membuat Nuri terkujut. Detik itu juga Nuri segera menutup mulutnya menyadari akan keceplosannya.
Aduh, tamatlah riwayat hidup kita manteman. maafkan lidah yang kesleo ini.
"Apa kamu bilang?" Tatapan tajam sangat mengerikan.
"Bu-kan, Pak. Sa-saya sa-salah ucap," ucap Nuri terbata bata.
"Suer Pak, gak ada nyumpaihin kok. Jangan galak galak dong Pak! Cepat tua nanti."
Sulit diartikan wajah Agung, kemudian mobilpun kembali melaju.
"Kok berhenti lagi, Pak? udah siang lho," kritik Nuri.
Tak menanggapi Nuri, Agung segera turun dari mobilnya. Nuri mendesah kasar tatkala mengecek beberapa notifikasi ponselnya.
__ADS_1
Di sana tiga srikandi telah heboh menunggu kedatangan Nuri mengingat lima belas menit lagi upacara akan segera di mulai.
"Ini, makan dulu! kamu tadi belum sarapan'kan?" Agung menyerahkan kantong plastik berisi nasi bungkus.
"Kok satu? Bapak gak mau?" tanya Nuri heran.
"Sudah, makanlah! Kita hampir telat."
Nuri mematuhi ucapan Agung. Tepat di gerbang pondok, nasi Nuri pun telah habis.
"Kita turun di samping ruangan Bu Nisa. Saya kamu keluar duluan," titah Agung.
Nuri hanya mengangguk.
Mengulurkan tangan hendak mencium telapak tangan Agung, lelaki itu malah mengeluarkan benerapa lembar uang gambar proklamator.
"Bukan itu Pak," gerutu Nuri.
"Lalu." Agung masih tak mengerti maksud Nuri.
Dasar, apa harus di ajari sama bocah sih.
__ADS_1
"Saya mau masuk dulu, jadi sebagai isrti yang baik saya mau berpamitan. Assalamualaikum." Nuri mengambil telapak tangan Agung. Setelah menciumnya, ia segera bergegas turun. Berlari kecil meninggalkan Agung yang masih tak percaya atas kelakuan Nuri.