Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Candu


__ADS_3

Tak ada perlawanan dari Nuri. Gadis itu hanya pasrah. Entah mengapa ia merasa nyaman saat berada lebih dekat dengan Agung.


"Gila, ternyata kamu berat juga ya," ucap Agung yang telah meletakkan Nuri di ranjang tidur.


"Siapa yang nyuruh Bap-, eh Mas Agung ngangkat aku coba?" tanya Nuri pura pura polos, meski kenyataan ia sangat menikmatinya.


"Tapi kamu suka kan?" goda Agung.


Nuri terdiam tak bisa menjawab ucapan Agung yang benar adanya.


Nuri memilih menarik selimutnya saat Agung berjalan ke kamar mandi. Kini pikiran Nuri telah terkontaminasi oleh drama korea yang beberapa hari ini ia baca.


Awalnya ia hanya penasaran saat beberapa teman satu kamar sampai nangis dan rela begadang hingga larut malam.


Nuri yakin ketika Agung keluar dari kamar mandi ia akan segera meminta haknya, mengingat ia sudah mulai menunjukkan sifat agresifnya. Jujur Nuri belum siap. Dan, pura pura tidur saat ini adalah cara terbaiknya.


Benar saja, setelah Agung keluar, lelaki itu segera menyusul dimana Nuri terbaring.


"Tumben udah tidur." Agung menatap wajah Nuri. Bibirnya tersenyum saat melihat Nuri masih mengenakan hijabnya.


Dasar! gadis bodoh. Kamu kira aku percaya, lihat saja.


Hembusan nafas semakin dekat, Agung memiringkan kepalanya untuk menjangkau bibir mungil milik Nuri.

__ADS_1


Nuri terbelalak, membuka lebar matanya saat merasakan Agung telah ******* bibir kenyalnya.


Mencoba meronta, mendorong wajah Agung segera mungkin.


"Sebentar saja ya." Agung menangkup bibir Nuri kembali. Namun, bibir Nuri masih mengatup. Nuri menggeleng namun Agung kali ini Agung melakukannya dengan lembut. Tak kunjung ada respon dari Nuri, Agung melepaskan ciumannya.


"Kenapa?" tanya Agung. Lelaki itu membelai pipi Nuri yang terlihat memerah.


"Kita lanjutkan ya," bisik Agung.


Telinga Nuri merasa geli saat hembusan nafas Agung tepat di depan telinganya.


Seakan tubuh Nuri di penuhi kupu kupu yang sedang beterbangan.


"Saya, eh aku mau tidur, Mas," bohong Nuri.


Nuri menatap wajah Agung yang penuh harapan. Apakah berdosa jika menolak? Nuri mengambil nafas panjang lalu mengangguk.


Dengan wajah berbinar, Agung mulai melanjutkan kegiatan yang sudah terasa candu. Memang bukan ciuman pertamanya, namun bibir Nuri benar benar membuatnya candu.


Nuri mulai membuka mulutnya, Agung pun segera menjelajahi rongga mulut Nuri. Tanpa sadar, Agung telah melepaskan hijab Nuri. Agung memegang tengkuk Nuri lalu memperdalam kegiatannya. Suara aneh pun terdengar sangat jelas.


Hampir lima belas menit kegiatan berlangsung, Agung benar benar menikmati hingga ada sesuatu yang telah menegang di bawah sana.

__ADS_1


Sekuat tenaga Agung menahan agar tidak terpancing.


Agung tersenyum, setelah melepaskan bibinya.


"Terimakasih." Sebuah kecupan diarahkan ke kening Nuri. Sang empu hanya bisa tersipu malu.


"Sudah tidurlah, aku akan ke kamar mandi sebentar," ucap Agung. Nuri hanya mengangguk lalu merapikan selimutnya.


"Ah, sialan!" umpat Agung setelah berada di kamar mandi. Menjambak rambutnya dengan gusar.


Sebisa mungkin Agung menahan sesuatu yang membuatnya sesak. Lelaki itu harus menidurkan kembali sesuatu yang telah bangun dengan mengguyur tubuhnya agar terasa lebih dingin.


Di luar sana, Nuri belum benar benar tidur. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat Agung telah habis mandi kembali. Apakah kegiatan tadi membuatnya panas dan harus mandi lagi?


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Tap like kalian biar tambah uuwwwuu 😀


__ADS_2