Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Mati


__ADS_3

Ilyas harus mendengus kesal kala sang bos menitipkan dua bocah kembar bersama dengannya. Kepalanya sudah hampir pecah menemani anak bosnya bermain di ruangan itu.


Sebelumnya kedua bocah kembar itu merengek tak mau di tinggal oleh ayahnya. Keduanya memang sangat sulit untuk berinteraksi dengan orang baru. Apalagi keduanya tak mengenal sosok Ilyas.


Agung sudah hampir putus asa, sesaat kemudian datanglah siska yang memberi ide kepada Agung. Sontak ide Siska langsung di setujui oleh Agung mengingat anaknya suka bermain.


"Ya sudah, carikan sekarang! Sepuluh menit lagi aku harus rapat," titahnya pada Siska.


"Sip, Bos." Siska segera menelepon seseorang di lantai bawah dan tak butuh waktu lama pesanan Siska sudah datang.


Dua orang OB membawa dua kardus besar ke lantai dimana ruangan bos besarnya berada.


"Masuk," seru Agung kala mendengar suara ketukan pintu.


Ia menyunggingkan senyumnya lalu membujuk kedua anaknya untuk bermain bersama dengan Ilyas. Mungkin saat ini Ilyas bisa ia gunakan sebagai sasarannya.


"Rayan, Riyan sini! Lihat Papa punya banyak mainan," rayu Agung.


Kedua bocah itu segera berlari menghampiri ayahnya. Ia melihat dua orang OB meletakkan kardusnya di samping Agung.


"Wah... banyak sekali," seru Briyan.


"Kita seperti akan berjualan mainan, Ri," timpal Brayan girang.


Agung bernafas lega saat kedua bocah kembar itu sibuk memilih mana yang akan mereka mainkan.


"Sekarang kalian boleh main sepuasnya di sini, tapi ingat jangan sampai keluar!" perintah Agung.


"Siap, Pa," jawab keduanya girang.

__ADS_1


"Ilyas, tugas kamu sekarang adalah mengawasi mereka, jangan sampai mereka terjatuh dan lecet sedikitpun, jika itu terjadi gaji kamu saya potong.."


Belum sempat Agung menyelesaikan ucapannya, Ilyas sudah menyambar. "Siap bos! Serahkan semuanya kepada Ilyas."


"Bagus! Ingat satu hal lagi, jangan sampai mereka menyentuh barang barang yang ada di meja saya!" titah Agung lagi.


"Beres, Bos." Agung mendengus pasrah.


Setelah kepergian sang bos, Ilyas memijit pelipisnya kala Ilyas harus pura pura mati saat kedua bocah kembar itu menembaknya dengan sebuah senapan kecil.


"Om Ilyas!! terlentang! Mana ada orang mati main hape," amuk Brayan.


Ilyas pasrah ketika ponselnya di rampas oleh Briyan lalu di tarik paksa untuk terlentang.


"Merem, Om!! Nanti ambulan datang," timpal Brayan lagi.


Mau tak mau Ilyas menuruti ucapan kedua anak bosnya. Ingin sekali ia mencabut semua giginya yang terus menertawakan dirinya saat tak berdaya.


"Ah, benar juga," sahut Brayan.


Sesaat kedua bocah itu saling berpandangan, mencari sebuah ide. Dan seketika Briyan membisikan sesuatu pada Brayan. Sang kakak mengangguk tanda setuju.


"Ingat, Om Ilyas gak boleh gerak! Karena udah kena tembak." Brayan memberi peringatan.


"Aduh, Bos. Kan banyak mainan di kardus, kenapa harus mempermainkan Oom?" ucap Ilyas memelas.


"Mainan seperti itu udah banyak di rumah dan udah sering kami mainkan. Kalau mainkan om Ilyas kami belum pernah. Jadi hari ini kita mau mainkan oom sebentar, ya." Celoteh Briyan.


Ya Tuhan, dosa apa yang telah hamba perbuat sehingga mendapat karma seperti ini. Sesalnya dalam hati.

__ADS_1


"Main yang lain aja lah, kan ada mobilan," bujuk Ilyas.


"No! Om Ilyas sedang mati. Jangan berbicara ataupun bergerak!" bentak Briyan. Seketika Ilyas terdiam kaku, jika bukan anak bosnya, sudah pasti Ilyas akan menggiling hingga halus.


Sesaat sunyi tak ada suara bocah kembar, Ilyas berusaha membuka matanya. Dilirik kanan kiri tak ada bocah kembar, Ilyas mengelus dadanya merasa sedikit kelegaan.


Namun, seketika dadanya seakan ingin berhenti berdetak saat itu juga saat merasakan tubuhnya mulai di balut dengan sebuah kain.


"Hei... bocah kau apakan aku?" teriak Ilyas saat tubuh Ilyas mulai di ikat.


"Om, diam!" bentak Brayan kembali.


"Hei... bocah lepaskan!" teriak Ilyas kencang.


"Om Ilyas diam! Atau gaji om Ilyas kami potong." Seketika gelak tawa dari kedua bocah itu menggema di ruangan.


Siska yang berdiri di samping Ilyas menahan tawanya, meski ia merasa iba pada asisten bosnya tersebut.


Sebenarnya Siska heran saat kedua anak bosnya meminta tolong padanya untuk mengambilkan gorden yang berada di jendela. Tanpa ingin tahu lebih lanjut, Siska pun menuruti perintah anak bosnya, mungkin tidak sesuai dengan seleranya. batin Siska.


"Bos tolong aku!! Jika aku mati kasihan Siska susah mencari pendampingnya," Lagi lagi Ilyas berteriak.


"Hei.. apa pula kau bawa bawa aku," sentak Siska.


Maaf jika typo bertebaran dimana mana, silahkan Ingatkan Author.


Author belum sempat mengedit.


Jangan lupa tinggalkan jajak untuk menyemangati Author.

__ADS_1


Tengkiu ❤


__ADS_2