
Tiga hari telah berlalu, suasana masih sama. Nuri masih terlihat cuek terhadap Agung tapi, ia masih menyiapkan keperluan suaminya.
Pagi ini berhubung hari minggu, Nuri sengaja menunggu tukang sayur terlebih dahulu baru akan memasak, sementara Agung selepas sholat subuh ia langsung sibuk menatap laptopnya.
Pekerjaan baru membuatnya kehilangan banyak waktu untuk istirahat. Apalagi mengingat seminggu lagi adalah hari peresmian jabatan barunya sebagai pengganti sang ayah.
Sementara di jalan depan, riuh buibu menggelegar saat Mbak Mariyam mulai melontarkan canda kepada para pelanggannya.
"Mbak Nuri jangan banyak makan sayur kangkung, nanti lemas lho," seloroh Mbak Mariyam.
Nuri hanya tersenyum malu malu. Dasar buibu batin Nuri. Sejak kapan sayur kesukaan bisa membuat orang lemas. Buktinya hingga sampai saat ini dirinya masih kuat dan sehat.
"Jangan dengarkan dia Nur! anggap aja dia angin!" sahut Elsa.
"Jangan samakan pikiranmu sama mbak Nuri!" ucap Bu Endah.
"Tumben si JanMud kita ini bersih otaknya?" sindir mbak Mariyam.
Yang ditanya siapa, yang ribut siapa.
Begitulah jika sudah ngumpul bersama buibu kompleks. Harus tebal telinga.
Setelah selesai memasak, Nuri berencana untuk mandi terlebih dahulu.
Sebenarnya ia enggan masuk ke kamar sebab sang suami mengeram disana bersama laptopnya.
Nuri merasa kesal kala Agung lebih memilih fokus pada laptopnya dari pada dirinya. Namun, saat mengingat kembali bahwa dirinyalah yang sengaja mengacuhkan suaminya terlebih dahulu ia menghela nafas kasarnya.
Keluar dari kamar mandi, Nuri telah rapi dengan setelan baju blouse tanpa memperdulikan keberadaan Agung yang telah menatapnya.
"Ai, mau kemana?" tanya Agung.
"Aku mau jalan sebentar dengan Zahra." Nuri mengoles tipis pipi mulusnya dengan sentuhan make up.
Agung mengernyitkan keningnya menatap sang istri yang berubah dingin semenjak kejujurannya.
Agung hanya membuang nafas kasarnya.
"Dengan siapa?" tanya Agung kembali.
Nuri mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, Mas, mungkin sendiri. Tiba tiba Zahra membatalkan janji," ucap Nuri.
Di ruang makan, seperti biasa hanya dentingan piring dan sendok yang beradu. Sesekali Agung melirik Nuri. Sejujurnya inilah yang ia takutkn selama ini jika Nuri tahu kenyataan yng sebenarnya.
"Mau pergi kemana?" tanya Agung.
"Belum tahu, Mas."
Ingin rasanya Agung mencubit hidung Nuri. Jika biasanya ia akan lelusa menyentuh tubuh suaminya maka, untuk kali ini ia benar benar tidak berani.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita ke panti lagi?" saran Agung.
Suaminya tahu jika pantai adalah salah satu tempat kesukaan sang istri.
Berpikir sejenak, Nuri meletakan sendoknya.
"Kita?" Nuri mengerutkan dahinya.
Agung tersenyum. "Iya kita! Bagaimana mau 'kan?" tanya Agung berharap.
Memang tak seharusnya Nuri menyalahkan sepenuhnya atas masa lalu sang suami.
Jika masa lalu adalah bagian dari jalan hidup seseorang mengapa kita harus menyalahkan, sementara sang pelaku sudah bertaubat dan tak akan terjun lagi ke kubangan dosa seperti dahulu, mengapa ia tak mencoba menerima kenyataan yang tak bisa di rubah.
"Boleh." Nuri mengangguk. Memcoba memperbaiki kecacatan masa lalu meski itu sangat menyakitkan.
Tak dapat terbendung lagi rasa kebahagiaan pada Agung, lelaki itu dengn refleks menggenggam kedua tangan Nuri. "Terimakasih. Tunggu, aku akan mandi sebentar.
Setelah kepergian Agung, Nuri merasa menyesal telah mengacuhkan suaminya. Namun, ia melakukn itu demi untuk membuktikan apakah Agung masih ingin bertahan pada masa lalu atau bertahan untuk masa depannya saat ini.
Dan, sudah sangat terlihat bahwa Agung bersungguh sungguh mempertahankan masa depannya. Nuri menyunggingkan senyumnya.
Saat membuka pintu kamar, Nuri dibuat syok oleh keadaan kamar yang seperti pasar obral.
"Astagfirullah, Mas!" pekik Nuri.
Agung langsung menoleh pada asal suara. Di ambang pintu sang istri ternganga, Agung yang sadar akan perbuatan segera memungut pakaian yang terserah di ranjang.
Agung melempar senyumnya sambil menyisir kebelakang rambutnya yang memang sudah hampir panjang dengan jari jemarinya.
"Bingung Ai, mau pakai baju mana," adunya.
Nuri mendekat lalu tangan lincahnya mengambil kaos sweater berwarna hitam.
"Kok hitam sih, Ai?" gerutu Agung.
"Lebih keren tahu Mas," ucap Nuri.
Agung pun memakai pakaian yang telah dipilihkan oleh sang istri. Setelah mengamati pantulan di kaca Agung tersenyum puas. Ternyata tak seburuk yang ia bayangkan, terlihat seperti anak belasan tahun.
Ternyata perempuan bermana istri juga jeli terhadap pakaian untuk suami.
"Kan lebih muda." Nuri yang sedari tadi hanya memperhatikan Agung memberi pujian.
"Kita itu mau ke pantai, bukan mau dinner," sambungnya lagi. Agung hanya mampu tersenyum.
"Mas Agung duluan aja kebawah! Mesin mobil 'kan belum di panaskan," saran Nuri.
Tanpa menunggu lama, Agung segera mengambil dompet lalu keluar dengan suka ria.
__ADS_1
"Dasar!" gerutu Nuri.
Agung hampir jamuran, menunggu Nuri yang tak kunjung menghampirinya. Atau, Nuri sengaja mengerjai dirinya. Namun, saat itu juga ia menepis pikiran buruknya. Ia melihat Nuri telah mengunci pintu. Bukan itu yang membuatnya terpana namun, baju yang di kenakan Nuri ternyata sama seperi yang ia kenalan. Sejak kapan mereka mempunyai baju couple? batin Agung.
"Mas!" seru Nuri. Agung tersadar dari lamunnya.
"Eh, anu.. itu... sejak kapan kita punya baju sama kayak gini?" tanya Agung kaku.
Nuri menahan tawanya melihat wajah Agung yang sok polos. Nuri memang sengaja membeli baju yang sama dengan Agung disalah satu toko online. Sengaja ingin memakainya saat ia jalan berdua, dan inilah waktunya Nuri memakainya.
"Udah lama kok, Mas Agung aja yang gak pernah lihat di lemari." jawab Nuri santai.
perjalanan yang meakan waktu satu jam itu, membuat Agung merasa bahwa Nuri telah memaafkan dirinya.
Sepanjang perjalanan Nuri bertanya tentang pekerjaan barunya dan menanyakan makan siangnya.
Nuri hampir tak pecaya bahwa suaminya kerap melupakan waktu makan siangnya. Terenyuh saat Agung menceritakan kesehariannya di kantor barunya.
Pantas saja Agung terlihat agak kurusan setelah mendapat amanat dari mertuanya. Ditambah lagi ia telah mengabaikan. Haruanya sebagai seorang istri ia memberi support untuk sang suami, bukan malah menambah bebanya.
"Maaf, Mas. Harusnya aku tak bersikap seperti ini.
Aku tahu semua orang mempunyai masa lalu yang berbeda dan tak sesuai dengan harapan kita," ucap Nuri berkaca kaca.
"Ai, aku benar benar minta maaf. Aku berjanji, hanya kamulah satu satunya wanita yang akan mendampingiku sampai maut memisahkan kita. Aku telah menyesali semenjak bekerja menjadi guru di pondok. Perlahan aku mulai mengubur dosa dosa yang telah ku perbuat." Tangan Agung terulur, menghapus jejak genangan air mata di pipi Nuri.
"Ai, apa aku masih berada di dalam hatimu saat ini setelah kamu tahu aku seorang bajingan?" tanya Agung.
Nuri menahan tangan Agung. Saling bersitatap, Nuri tak sanggup lagi membendung air matanya.
"Mas Agung gak boleh bilang seperti itu! Selamanya Mas Agung akan tetap ada di hatiku, apa pun yang terjadi. Terlambat jika aku menyesal sekarang, karena hatiku hanya akan menjadi milik mas Agung selamanya."
Agung meraih tubuh mungil istrinya. Mendekap dalam dadanya, memberikan rasa senyaman mungkin untuk sang istri.
Mengelus pucuk jilbab serta mengecupi berkali kali, Agung merasa bersyukur, istrinya mampu menerimanya kembali meski harus memperjuangkan beberapa hari terakhir ini.
.
.
.
.
.
Like
Komen
__ADS_1
Tip Hadiah