Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
MR A


__ADS_3

Bersyukur masih ada orang yang berhati mulia, mau menemani orang yang sama sekali  tak di kenal.


Wanita muda yang bernama Aminah itu senantiasa menemani  Nuri yang belum siuman beserta kedua bocah kembar yang terlihat sangat lelah.


"Apa kalian hafal nomer telepon ayah kalian?"  tanya Aminah sesaat.


Brayan menatap Aminah, bocah itu mengingat  ponsel mamanya yang  berada di dalam tas.


Tidak mungkin sang mama tidak menyimpan nomer papanya.


"Kamu cari apa?" tanya Aminah bingung kala Brayan membuka tas slempang milik mamanya.


"Di ponsel Mama pasti ada nomer Papa, Tan," ujarnya.


Setelah ponsel di temukan, kedunya bingung bagaimana cara membuka kunci pola tersebut.


"Coba pakai wajah Mama, Tan." Tiba tiba Briyan berceloteh. Benar saja, Aminah segera mengarahkan ponsel pada wajah Nuri  yang masih terpejam.


"Alhamdulilah."


Wajah berbinar dan senyum merekah, Aminah segera mengotak atik ponsel mahal keluaran terbaru itu.


Namun ternyata tak mudah mencari nama suami Nuri di ponsel. Setahu Aminah, seseorang yang sudah menikah akan memberi mana spesial atau mama papa namun nyatanya tak ada.

__ADS_1


Bahkan nama sayang pun nihil.


"Papa kalian siapa namanya?" tanya Aminah.


"Papa Agung, Tan," jawab Briyan polos.


Lagi lagi Aminah mengerutkan dahinya, ia tak menemukan nama yang di sebut bocsh tersebut.


"Coba lihat di panggilan keluar, Tan. Tadi Mama sempat menelepon papa," saran Brayan.


Seperti terhipnotis, Aminah segera mengecek panggilan keluar. Ia harus menahan senyumnya. Bagaiman seorang istri menamai suaminya dengan mana seperti itu. Mr A.


Setengah jam kemudian, dengan lagkah tergesa gesa Agung menyusuri lorong koridor rumah sakit. Wajahnya terlihat sangat khawatir dan frustasi. Beberapa kali ia harus menabrak orang lalu meminta maaf.


Setelah mengumpulkan kesadarannya ia segera menghampiri anak kembarnya. Sedikit rasa lega bahwa sang putera tidak apa apa.


"Rayan, Riyan?" panggil Agung.


Seketika ketiga oarang yang beda usia itu mendongak. "Papa," seru Briyan yang langsung bangkit menuju sang papa.


"Kamu tidak apa apa sayang?" tanya Agung langsung menghujani kecupan pada pucuk kepala Briyan.


Berbeda denga Briyan, Brayan masih betah duduk menyandar di dinding tanpa membuka mulutnya untuk menyambut kedatangan sang papa

__ADS_1


"Dimana istri saya?" tanya Agung tanpa basa pun segera bangkit. "Istri anda baik baik  saja. Dia ada di dalam," ucap Aminah.


"Berhubung anda sudah  datang, saya pamit. Suami saya sudah menunggu di rumah dan masalah  adminitrasi sudah saya selesaikan."


"Terimaksih banyak sudah menjaga kedua anak saya dan menyelamatan isri saya." Agung benar benar merasa hutang budi kepada wanita di hadapanya saat ini.


"Tidak masalah, hanya sebuah kebetuln saja. Brayan, tante pulang ya." Aminah mengelus rambut Brayan yang masih membisu.


....


Di ruang rawat, trerlihat Nuri telah siuman. Agung yang duduk si sampingnya merasa lega begitu juga dengan Brayan yang serega memeluk Nuri.


Nuri tersenyum, lalu mengelus rambut Brayan yang keriting ikal penuh haru.


Tak lama pandangannya menangkap Agung yang juga menyunggingkan senyumanyan, namun ekor mata Nuri masih mencari sesuatu yang kurang.


"Riyan tidur, itu." Agung menunjuk pada ranjang samping Nuri.


"Kamu gak papa?" lanjutnya.


Nuri tersenyum getir kala mengulang penglihatannya beberapa jam yang lalu. Ia pun menggeleng pelan mengingat kondisinya masih lemah.


Membuang nafas beratnya, Nuri akan memastian segera siapa wanita yang bersamanya. Lelah bertahan jika pada akhirnya harus ada api dalam rumah tangganya.

__ADS_1


Maaf gak pernah Up. Takut aja kalau kalian udah bosan dan ceritanya membosankan.


__ADS_2