
Sungguh berat hati Nuri, setelah siang tadi merayakan perpisahan dengan para teman dan sahabatnya, kini ia harus berpisah dengan orang tuanya.
Memang jarak tempuh rumah Nuri tidaklah memakan waktu lama. Hanya butuh satu setengah jam saja dah sampai. Tapi karena jadwal suaminya mengajar masih sangat padat, Nuri belum bisa berkunjung ke rumah orangtuanya.
"Sudahlah nduk, besok kalau ada waktu main kerumah, sekalian jalan jalan ke pantai." Bu Aisyah menghibur putrinya yang belum mengijinkan mereka untuk pulang.
Bu Aisyah sangat tahu jika Nuri sangat menyukai pantai. Sepanjang pesisir selatan memang terbatasan dengan pantai yang tak kalah jauh dari pantai terkenal yng ada di Indonesia, sebut saja panti Indrayanti yang berada di kabupaten Gunungkidul.
Di pntai sana, kita bisa menjumpai para turis maca negara, sebab Indrayanti adalah Bali-nya ke dua.
( Cusss... kapan² kalian main kesana ya! Deket rumah uthor disana 😀😀 )
"Ibu sama Bapak ndak bisa ninggalin ruko lama lama. Kan kasian mereka yang kecelek, nduk," sahut Pak Ali.
Nuri memasang wajah memelas bak seperti anak TK yang hendak ditinggal oleh Ayah ibunya merantau.
Maya dan Dayu tak hanya diam. Mereka tak bisa menahan besannya untuk tetap menginap lagi ataupun menyuruhnya segera pulang. Semua keputusan ada di tangan mereka.
Suara pintu berderit, Agung muncul dari balik pintu. Agung mengernyitkn dahinya setelah ucapan salamnya di jawab dengan suara pelan.
Apa yang terjadi?
"Ada apa Ma?" Agung menghampiri mamanya terlebih dahulu lalu menyalami kedua mertuanya yang sudah siap dengan kopernya.
"Ini, istrimu, ndak mau di tinggal pulang." Bukan Maya namun, Bu Aisyah-lah yang menjawabnya.
Agung memandang Nuri yang masih memasang wajah memelasnya. Sedikit rasa kasihan, Agun pun punya cara lain untuk membuat Nuri melepaskan orang tuanya pulang.
"Kalau begitu kita ikut saja pulang, bagaimana, Dek?" Agung menatap Nuri.
Wajah Nuri langsung berbinar saat mendengar ucapan suaminya.
"Serius, Mas?" tanya Nuri antusias.
Agung hanya mengangguk, lalu tersenyum.
Begitu juga keempat para orang tua, ternyata Agung sudah bisa memahami sifat Nuri.
__ADS_1
"Terimakasih ya, Le." Seulas senyum merkah Bu Aisyah seolah jika wanita itu juga merasakan hal yang sama seperti yang Nuri rasakan.
Perjalanan Jogja-Wonosari kali ini memakan waktu hampir dua jam sebab ada sebuah kecelakaan di sekitar jalan Pathuk.
Tanjakan jalan yng sedikit berliku, membuat kendaraan macet panjang.
Beberapa kali juga Nuri menguap menahan kantuknya.
"Sudah, kamu tidur aja dulu, nanti kalau sudah sampai di banguni," ucap Agung.
Seperti terhipnotis, Nuri memejamkan matanya. Benar saja gadis itu mulai terlelap.
Sementara di bangku belakang, mertua Agung sudah merasa lelah.
"Sabar, Bu, sebentar lagi juga sampai," tutur Pak Ali kepada sang istri.
"Gimana mau sabar to, Pak. Pantat ibu ini sudah pegal. Kemarin waktu pak Ucup yang njemput gak selama ini lho," keluh Bu Aisyah.
Agung hanya bisa mengamati kemesraan mertuanya dari kaca spion. Berharap kelak ia bisa menua bersama dengan Nuri. Diliatnya wajah Nuri yang sedang tertidur dengan nafas teratur. Angung membuang pikiran itu jauh jauh sebab isi dalam mobil bukan hanya dia dan istrinya saja.
Mobil telah berhenti di halaman rumah sederhana milik keluarga Nuri namum, belum ada tanda tanda Nuri terbangun.
Bu Aisyah mengangguk, lalu masuk beriringan bersama suaminya.
Agung menatal lekat wajah Nuri, sedikit menyunggingkan senyumnya.
Kejahilan pun meronta ingin keluar.
Hembusan nafas Nuri bisa Agung rasakan. Lelaki itu memejamkam matanya. Mendekat hingga...
Sebuah tamparan melayang di pipinya.
"Auu" pekiknya.
Nuri pun langsung membuka lebar matanya melihat Agung mengusap pelan pipinya yang sedikit kemerahan.
"Mas Agung kenapa?" tanya Nuri polos.
__ADS_1
"Sakit lho, Dek. Lihat ini!" Agung masih mengelus pipinya. Nuri tak mengerti, ia hanya mengerutkan dahinya. "Eh, itu kenapa pipinya, Mas?"
"Pakai nanya lagi, kan kamu yang nampar, kenapa di tampar pipiku?" Agung mencubit hidung Nuri.
"Jangan bilang itu bukan mimpi," gumam Nuri.
"Berarti tadi Mas mau cium aku ya? Maaf, kupikir itu bukan Mas Agung. Tadi aku mimpi mau dicium preman pasar, jadi aku gamparlah." Nuri mengelus pipi yang sudah merah.
Agung tak habis pikir, bagaimana bisa istrinya bisa bermimpi seperti itu.
"Tanggung jawab." Agung menahan tanga Nuri.
Keduanya saling bersitatap, mendekat pelan, hingga saling menutup mata, Agung telah memiringkan wajahnya, tinggal setengah senti lagi bibir mereka menyatu namun, ketukan pintu lagi lagi mengacaukan kegiatannya.
"Ibu," gumam Nuri.
"Kalian ini lama sekali! Bapak sama ibu sudah menunggu hampir setengah jam, ibu kira kamu jug ikut tertidur di sana," Bu Aisyah terus berjalan sambil mengoceh.
Sementara itu anak dan menantunya hanya senyum senyum tak menentu. Bukannya minta maaf, Nuri malah langsung mengajak Agung menuju kamarnya.
"Dasar Nuri!" gerutu ibunya.
.
.
.
.
.
.
Nungguin hadiah dari kalian kagak nyampe² kagak jadia ah post yang hareudang.
Belom gol, sekali sekali sepak lagi, sabar!
__ADS_1
mana nih hadiah untuk uthor? Katanya palentin itu hari kasih sayang, buktiin dong kalau kalian sayang sama uthor. Aku tungguin dari tadi lho hadiah kalian,