Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Kritikan Ilyas


__ADS_3

Tubuh Nuri mendadak menjadi kaku kala melihat siapa sosok tersebut. Antara percaya dan tidak. Agung telah berdiri di hadapannya saat ini.


"Mas Agung," lirihnya.


Dengan cepat Nuri menghampiri Agung yang masih berdiri di depan pintu.


"Mas Agung gak papa?" tanya Nuri sambil meneliti anggota tubuh suaminya mana tahu ada yang berkurang.


"Mas Agung selamat." Merasa tak ada yang kurang, Nuri langsung memeluk tubuh suaminya dengan perasaan bahagia.


Sementara Agung yang tak mengerti dengan sikap Nuri pun membalas pelukan hangat dari istrinya.


"Sudah. Aku sudah pulang. Kamu kenapa?" tanya Agung kala mendapati Nuri masih sesenggukan.


Tak ada jawaban, Nuri malah mengeratkan pelukan dan membenamkam kepalanya kedalam dada Agung.


"Sudah?" tanya Agung saat Nuri melepaskan pelukannya sambil mengusap air matanya.


"Ya sudah, ayo turun! Di bawah ada Ilyas," ucap Agung.


"Ilyas?" Nuri membeo.


Mau tak mau Nuri membuntuti Agung, turun ke lantai bawah untuk menemui Ilyas. Banyak tanda tanya bersarang di kepala Nuri. Namun, ia urungkan untuk menginterogasi suaminya.


Di lantai bawah, ternyata Ilyas sedang di berondong pertanyaan oleh pak Mun dan mbak Inah. Namun saat melihat sang majikan turun, kedua pekerja itu segera undur diri.


Ilyas menatap pasangan yang ada di hadapannnya dengan cengengesan, sengaja menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ilyas baru saja mendapat cerita dari mbak Inah, rasanya ia ingin tertawa kala bosnya di anggap sudah koit.


"Ada yang lucu? Apa yang sedang kau tertawakan?" sinis Agung.

__ADS_1


Ilyas kembali menelan saliva. "Tidak ada Bos, hanya saya merasa bahagia melihat Bos bahagia," kilahnya. Meski berbohong namun, ucapan Ilyas memanglah tulus.


"Ya sudah, Ayo makan. Gara gara mengejar penerbangan awal kau belum mengisi perutmu. Aku tidak mau di anggap tak bertanggung jawab dengan tak memberimu makan," ujar Agung.


"Harusnya memang begitu, Bos," ucap Ilyas girang. Kapan lagi bisa makan gratis sepuasnya.


Nuri masih mengikuti kedua lelaku itu menuju meja makan. Mengambilkan makan untuk suaminya dan Ilyas.


"Dia bisa mengambil sendiri, gak perlu diambilkan," ucapnya pada Nuri kala Nuri hendak mengambilkan nasi untuk Ilyas.


"Gak papa, dia kan tamu, memuliakan tamu itu sunah lho, Mas," ucap Nuri.


Awalnya Ilyas sudah mengerucut namun, saat Nuri berpihak kepadanya ia pun berbangga hati. Ternyata nyonya bosnya tak seperti sang bos seenak jidat memperlakukan dirinya.


"Terimakasih, Bu udah ngerepotin." Ilyas berbasa basi, dalam hati ia ingin berteriak mengejek Bosnya. Kita satu sama, Bos.


"Kamu gak makan, Ai?" tanya Agung.


Nuri menggeleng. "Aku udah makan tadi, Mas," jawab Nuri.


"Pak Bos gak romantis," kritik Ilyas di tengah tengah sarapannya.


Agung meletakkan sendoknya, menatap kearag bawahannya yang dianggap semakin lancang dan tidak sopan.


"Apa maksudmu, Ilyas?" tanya Agung.


"Harusnya bapak beri panggilan yang romantis kepada Ibu. Sayang, Mama, Mami atau ayang beb gitu," cerocos Ilyas.


Agung membung nafas kasarnya. "Terserah. Itu hak saya. Kamu mau apa?"

__ADS_1


Mendadak Ilyas merasa kenyang. "Bos, bisa saya langsung pulang?" tanya Ilyas mengalihkan pembicaraan.


"Ya sudah pulang sana!" usir Agung.


Setelah kepulangan Ilyas, Nuri segera menodongkan berbagai pertanyaan yang telah berkeliaran di pikirannya sejak tadi.


"Kamu sedang cemburu atau sedang tidak percaya padaku?" tanya Agung.


Nuri semakin melotot. Padahal ia hanya bertanya apakah Agung jadi pergi ke Makasar atau tidak.


"Tinggal jawab aja apa susahnya sih," gerutu Nuri.


Agung mendekat, duduk bersebelahan di samping Nuri.


"Iya, Maaf aku salah. Aku tidak mengangkat telepon karena ponselku tertinggal di ruang rapat di kantor."


"Aku dan Ilyas, kami memang pergi ke Makasar. Tapi karena ada masalah pada mobil, kami tertinggal pesawat dan mencari penerbangan selanjutnya. Dan hari ini kami mengambil penerbangan paling awal agar bisa segera bertemu dengan kalian. Ada lagi?"


Nuri menatap suaminya. Mata berkaca kaca.


Dalam hati ia bersyukur suaminya tak berada di dalam pesawat naas tersebut. Namun, dalam sisi lainya ia menyesal sudah tidak percaya sepenuhnya kepada suaminya.


"Sudahlah, aku tidak apa apa."


Jangan lupa tinggalin jejak. Tebar hadiah untuk uthor dong!


Nih aku kasih visualnya si kembar. Buat yang udah follow Ig ku pasti udah tahu kan?


__ADS_1


__ADS_2