
Nuri pun terbangun, sebenarnya ia belum benar benar tertidur. Kejadian beberapa menit yang lalu masih membuatnya lemas lunglai.
Niat hati hanya ingin mengambil air minum, nyatanya pendengarannya harus ternoda oleh suara yang membuat bulu kudunya sangat merinding.
"Lho, mas Agung udah pulang? kok gak tidur?" tanya Nuri saat melihat Agung masih terduduk disisi ranjang.
"Itu anu... baru nyampe?" Agung grogi sambil menggaruk kepalanya.
Nuri hanya menatap suaminya yang terlihat salah tingkah. Setelah Agung mengganti dengan tidurnya, lelaki itu segera merebahkan tubuh di ranjang.
Sama sama belum bisa menutup matanya, Nuri menggeser tubuhnya hingga merapat ada tubuh Agung.
"Kok belum tidur? Mas Agung lagi mikirin apa?" tanya Nuri polos.
Entah mengapa terasa sulit untuk mengajak Nuri nganu, Agung hanya menelan saliva, mengingat istrinya tengah hamil muda, ia takut akan menyakiti kecebong yang baru saja akan tumbuh.
"Mas!" Nuri mengoyangkan tubuh Agung.
"Ah.. iya.. apa?" Agung tersadar dari lamunanya.
"Mas kenapa sih?" gerutu Nuri.
"Ai...?" Agung mengusap perut Nuri yang masih datar.
"Boleh menjenguknya sebentar? udah lama lho puasanya." Tangan Agung masih mengusap usap perut Nuri. Semenjak mengetahui bahwa istrinya sedang mengandung, Agung mengurungkan niatnya untuk nganu, dan terakhir kali mereka nganu di kota malang.
Nuri terkekeh. "Jangan bilang Mas Agung denger cicak merayap di bawah ya?"
Agung menatap Nuri lalu tertawa. "Gak sengaja, tapi sempet liat dikit."
Nuri segera terlonjak sambil memukul pelan dada Agung. "Ih, Mas Agung keterlaluan, dosa tahu! Awas aja kalau bintitan!"
Entah siapa yang memulai duluan, kini bibir mereka telah menyatu. Setelah mendapat persetujuan, kain penutup tubuh pun sudah terlepas dari tempatnya.
Seperti biasa sebelum menyatukan miliknya, Agung selalu meniupkan doa di pucuk kepala Nuri.
"Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna."
"Ai, aku punya gaya baru, coba ya," bisik Agung manja.
__ADS_1
Nuri pasrah menuruti gaya gila dari suaminya.
"Apa ini gaya cicak di bawah sana, Mas?" tanya Nuri yang menikmati setiap sentakan dari milik Agung.
"Tidak. Cicak di bawah hanya menikmati es cream coklat," ujar Agung sambil memainkan tangan nakalnya di benda mengkal.
.....
Maya tersenyum lebar saat melihat anak dan menantunya menuruni anak tangga. Beberapa hidangan telah tersaji rapi diatas meja. Terlihat juga Mbak Mar berada di dapur Nuri.
"Sudah jangan bengong, ayo makan! Mama punya kabar gembira untuk kalian," ujar Maya.
"O, itu tadi Mama yang menyuruh Mbak Mar kesini dan masak," ucap Maya lagi.
Nuri tak habis pikir dengan kelakuan mertuanya yang seakan tak punya rasa malu, sudah menginap dan menodai pendengarannya, kini pagi pagi buta memboyong Mbak Mar dan dua orang lainnya untuk mengacak dapurnya demi hidangan sempurna di atas meja.
"Mama punya kabar bagus untuk kalian. Kalian mau dengar yang sangat bagus dulu atau yang
lumayan bagus?" Maya menatap Nuri dan Agung bergantian sebelum menatap suaminya yang hanya diam, enggan menyahuti.
"Terserah Mama saja, yang penting Mama bahagia," ucap Agung.
"Ma?!" Agung tersentak.
Nuri hanya bisa melenan kasar ludahnya. Mertua macam apa ini, padahal rumahnya sendiri bak istana. Untung saja kaya, Ma. Kata kata itu hanya terlontar dalam hatinya.
"Jangan durhaka kamu ya! Tenang semua kebutuhan Mama selama tinggal disini Mama tanggung. Kamu pikir Papa tidak sanggup." Oceh Maya.
Agung memilih diam saat mendapat kedipan mata dari papanya. Entah rencana apa yng akan mereka buat.
"Baiklah, berita yang kedua..." Bola mata Maya berputar putar sambil menyunggingkan senyumnya kearah Agung dan Nuri.
"Selamat, kalian akan punya adik."
"Apa?! Mama hamil?!" Teriak Agung dan Nuri bersamaan.
Bagaimana bisa bisa terjadi, saat menantunya tengah hamil, sang Mama pun mengikuti jejaknya.
....
__ADS_1
Agung masih kesal dengan berita bahagia sang Mama yang menyatakan ia mengandung. Bukan tanpa alasan mengingat usia sang mama yang hampir di kepala lima. Harusnya ia hanya menimang cucu saja, bukan anak lagi.
"Sudahlah, Mas." ucap Nuri.
Kini keduanya memilih menjauh sejenak dari keramaian kota. Agung memaksa Nuri untuk libur dan membawanya kesuatu tempat untuk bisa mendinginkan panasnya pikiran Agung.
"Ai, mama keterlaluan! Bisa bisanya kecebong pak tua itu masih aktif," umpat Agung.
Nuri ingin sekali tertawa namun, takut dosa. Tidak baik menertawakan suami yang sedang emosi.
"Mereka udah tua, Ai! Dan, sekarang mau tinggal di rumah kita, memang orang tua tak berakhal." Agung terus mengeluarkan isi hatinya.
Dengan kehadiran Maya di rumahnya itu mastikan bahwa ia tak bisa menyuruh Nuri mengenakan pakain daster, kecuali hanya di dalm kamar saja.
"Mama nyebelin," umpatnya lagi.
Sementara itu, di rumah Agung, Maya sibuk menata barang yang ia bawa dari rumahnya.
Meski Dayu telah pensiun dari perusahaannya namun, lelaki tua itu masih aktif di bidang kuliner.
Diam diam ia akan meresmikan sebuah restoran siap saji tanpa sepengetahuan anak dan istrinya.
Menurutnya berdiam diri di rumah itu membosankan.
"Mah, jangan berlebihan!" Dayu mengingatkan Maya agar tak merubah isi ruangan.
"Papa ini cerewet deh,"
Dayu hanya bisa menarik nafasnya. Apakah ini efek seorang yang tengah hamil atau memang sudah bawaan istrinya dari sana.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tebar hadiahnya dong! Detik² menuju End