Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Kecelakaan


__ADS_3

Bocah kecil itu termenung di meja sambil menunggu sang adik dan mamanya yang belum juga keluar dari toilet. Sebenarnya ia ingin menghambur kepada sang ayah namun, ia teringat jelas pesan sang mama agar dirinya tak pergi kemana mana.


Brayan terus saja mengamati sang papa yang masih berbincang dengan wanita tersebut. Andaikan saja ia melihat ke depan, sudah jelas ia akan melihag keberadaan Brayan disana.


"Maaf ya sayang, kamu harus nunggu lama," ucap Nuri sambil menarik kursi untuk mendudukan Briyan.


"Iya Ma, gak apa apa," jawab Brayan polos.


"Tadi Riyan sakit perut, makanya lama," tukas sang adik.


"Oh ya, kalian mau pesan apa? mumpung kita ada disini?" tanya Nuri.


"Apa aja, Ma, Riyan nurut aja," ucap Riyan.


Sedangkan Brayan, bocah itu masih terdiam.


Nuri menatap sang anak. Nuri sudah hafal dengan anak sulungnya, bahwa ada yang sedang di sembunyikan darinya.


"Rayan, kamu kenapa? Mama lihat kamu..." Belum sempat Nuri menyelesaikan ucapannya, telunjuk Brayan menunjuk ke arah meja depan sana.


Nuri mempertajam penglihatan sambil menggeleng pelan. Seolah tak ingin percaya apa yang di saksikan detik itu juga.


"Ma, ayo kita pergi!" ajak Brayan. Meski dibilang balita namun, pemikiran Brayan sudah seperti orang dewasa pada umumnya. Ia bahkan peka dengan keadaan sekitar.


"Ma, ayo!" rengeknya lagi.

__ADS_1


Nuri tersadar,ia berusaha keras menahan air mata yang hendak meleleh akibat pemandangan yang ia lihat.


"Riyan, ayo sayang! katanya kita mau ke taman. Kita beli permen kapas yang banyak di sana." bujuk Nuri kepada sang bungsu.


Bocah itu hanya mengangguk pelan. Meski terlahir sebagai anak kembar namun, tak membuat keduanya memiliki persamaan dalam berpikir.


Briyan memang tak sekuat dan tak selasak Brayan.


Dengan patuh Briyan mengangguk. "Iya Ma, ayo!" Dengan wajah berbinar bocah itu segera turun dari tempat duduknya. Tak seperti sang kakak dan ibu, raut wajah keduanya tak bisa diartikan. Keduanya sama sama bisa menyembunyikan perasaan.


Sepanjang perjalanan menuju taman, Nuri hanya terdiam. Pikirannya berkelana tentang kejadian tadi.


Apakah ini alasan Agung akan pulang telat? Apakah ini urusan pekerjaan kantor? Lalu kenapa hanya berdua saja.


"Awas, Ma!" teriak Brayan.


Silau, itu yang bisa Nuri lihat sebelum mobilnya ia hantam ke sebuah kayu besar di pinggir jalan.


Sesaat kemudian sudah banyak orang berkerumunan. Dua bocah kecil yang duduk di bangku belakang saling berpelukan melawan rasa takut. Sementara itu, Nuri telah tak sadarkan diri.


Beberapa pengendara memilih menepikan kendaraannya untuk segera menolong mobil yang telah menghantam kayu besar tersebut.


"Mama..." Isak kedua bocah kecil yang melihat darah mengucur dari kening mamanya. Beruntunglah kedua bocah itu tidak terluka sama sekali, hanya mengalami shock.


"Mama... Om, tante, tolongin Mama." Isak Brayan yang telah berhasil di keluarkan dari dalam mobil begitu juga dengan Nuri.

__ADS_1


"Tenang ya, Dek, kita akan bawa Mama kamu ke rumah sakit terdekat." Seorang wanita muda menenangkan kedua bocah itu yang masih terisak dan ketakutan. Untung saja wanita tersebut bisa menenangkan Brayan dan Briyan dalam dekapannya.


"Pak, kita harus segera bawa ibu ini ke rumah sakit," ucap wanita paruh baya yang ikut serta menolong Nuri.


Tak menunggu lama, Nuri telah di masukkan kedalam sebuah mobil bersama dengan sang pemilik mobil.


"Mama mau di bawa kana?" tanya Briyan polos saat melihat mamanya dibopong kesebuah mobil.


"Mama kalian akan di bawa ke rumah sakit, kita ngikutin pakai mobil tante."


Setelah berdiskusi dan menemukan di mana rumah sakit yang akan menangani Nuri, maka kedua mobil melaju menyisahkan banyak orang berkerumun. Sementara mobil yang hampir beradu dengan mobil Nuri masih berada di sana. Tak terjadi apa apa dengan pengemudinya, namun sayang ia harus di bawa ke kantor polisi untuk memberi sebuah keterangan atas insiden tersebut.


.


.


.


.


Hallo... **maaf lama up-nya. Mohon di maklumi, uthor baru pindah kampoeng kemaren, jadi belum sempat nulis, wkwkw.


Sebelumnya uthor mau ngucapin Marhaban ya Ramadhan.


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.

__ADS_1


Selama bulan Ramadhan insha Allah uthor akan menemani kalian dengan cerita religi lainnya. Moon maaf selama bulan Ramadhan utor tidak melanjutkan nopel 21+


Eh, beri taburan bunganya dong 😂😂**


__ADS_2