Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Happy Ending


__ADS_3

Kehidupan Nuri berubah total semenjak 4 tahun lalu, tak perlu diragukan lagi cinta dan kasih sayang yang Agung curahkan untuknya serta untuk kedua buah hatinya. Nuri tak hentinya bersyukur meski kadang sifat Agung lebih kekanak kanakan itu semata hanya untuk mendapat perhatiannya.


Malam ini Nuri harus dibuat kelabakan saat keduah bocah keriting itu tak mau makan malam. Ia dan mbak Inah sudah membujuknya dengan berbagi cara namun, hasilnya tetap saja nihil.


Hingga derap langkah terdengar nyaring.


Dengan segera, kedua bocah kecil itu berlari menghambur dalam pemilik langkah. Siapa lagi jika bukan Agung.


"Kenapa?" Agung mengernyitkan keningnya saat wajah sang istri terlihat lesu saat menyambut kedatangannya.


"Mama jahat, Pa!" adu si bungsu.


"Kami gak mau makan sama Mama. Mama gak sayang lagi sama kami. Mama lebih sayang sama Memei." Si sulung pun berunjuk rasa.


Agung menghela nafasnya. Ia sudah mengerti titik permasalahan. Sudah tak heran lagi, pasti mama dan adiknya telah singgah ke rumahnya siang ini.


Nuri dan Memei mungkin tak mempunyai ikatan darah namun, ikatan hati mereka mungkin terlalu kuat mengingat Nuri-lah yang merawat Memei dari bayi merah hingga bocah itu berusia satu tahun.


Saat itu kondisi Maya yang memang sudah tidak bisa melahirkan secara normal karena faktor usia, mau tidak mau harus melakukan SC di tambah lagi riwayat penyakitnya yang mengakibatkan kondidinya kritis di hari ke dua pasca melahirkan dan koma selama enam bulan.


Hingga tanggung jawab Memei berpindah ke tangan Nuri sepenuhnya. Nuri tidak keberatan, ia menganggap memiliki anak kembar tiga.


"Yasudah, Papa suap ya," bujuk Agung. Meski lelah namun, rasa itu hilang seketika saat melihat senyum dari dua jagoan kecilnya.


Kedua bocah itu mengangguk tanda setuju.


"Sudah jangan cemberut! Sudah siap untuk layanan servis malam ini?" bisik Agung saat melewati Nuri.


Nuri bergidik ngeri kala membayangkan apa yang akan terjadi pada malam nanti. Sudah pasti Agung akan menggunakan tissue galon lagi.


Dengan telaten Agung menyuap anaknya bergantian.


"Dengarkan Papa, habis makan kalian langsung ke kamar bersama mbak Inah ya! Biar Mama, Papa yang kasih hukuman karena sudah jahat kepada jagoan Papa," perintah Agung namun, matanya melirik Nuri yang masih melotot di tempat duduknya.


"Baik, Pa," ucap keduanya patuh.

__ADS_1


Setelah membereskan dua bocah kecil, Agung segera menuju ke kamar di ikuti dengan langkah Nuri.


"Mas gak makan?" tanya Nuri.


Setelah memastikan Nuri mengunci pintu Agung menatapnya tajam.


"Iya, aku mau makan tapi, makan kamu." Agung terkekeh saat melihat wajah Nuri telah memerah.


Nuri masih ters3iam di depan cermin setelah mengoleskan cream pada wajahnya, menunggu Agung keluar dari kamar mandi. Sebagai istri yang berbakti ia akan menepati janji memberikan servis malam ini.


Agung keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk di pinggang. Toh percuma ia mengenakan pakaian jika pada akhirnya akn di buka kembali.


Jarang jarang Agung bisa mendapatkan waktu berdua lebih awal bersama dengan Nuri. Biasanya jam segini Nuri akan sibuk membaca dongeng di kamar sang anak hingga mereka tertidur.


Maka dari itu, ia akan menggunakan waktu sebaik mungkin mendapat servis langka.


Entah darimana berawal, kini keduanya sudah berguling diatas ranjang. Sesuai janjinya, Nuri memberikan servis yang membuat Agung klejotan hingga tak sabar untuk menuju ke tempat surga dunianya.


"Mas udah pakai tissue galon?" bisik Nuri.


Agung kembalieraup bibir Nuri hingga tak kuat lagi Agung menahan gelayaran yang menjalar di tubuhnya dengan sekejap Agung membalikkan tubuh Nuri dan sekali sentak tubuh Nuri menggeliat.


....


Berhubung hari minggu, setelah kegiatan sarapan Nuri dan Agung membawa kedua jagoan mereka untuk jalan jalan. Meski hanya ke taman bermain, itu telah membuat kedua bocah kecil itu merasa sangat bahagia.


"Ma, maafin kami ya." Tiba tiba kedua bocah kecil itu mencium pipi Nuri bergantian. Agung yang menyetir lebih mengurangi kecepatannya.


"Iya. Mama maafin, kok. Kalian gak salah," balas Nuri.


"Papa jahat." Kini giliran Agung kena sembur kedunya. Ia mengernyitkan dahinya tak mengerti kenapa ia di bilang jahat.


"Papa salah apa lagi sayang? Kan Papa udah ajak kalian jalan jalan," protes Agung.


"Papa tadi malam hukum Mama kan? Sampai Mama bilang udah gak kuat lagi minta di keluarkan mama sampai merintih kesakitan."

__ADS_1


Jlebb.


Bagai di sambar petir di pagi hari, Agung mendadak mengerem mendadak lalu menatap Nuri dengan rasa punuh khawatir.


"Trus Rayan juga mendengar Papa minta Mama untuk nerusin. Sebenarnya kalian main apa sih, Pa? Pas aku mau buka pintu di larang sama mbak Ina."


Nuri dan Agung kini sama sama lemas mendengar penuturan bocah polos tersebut. Indra pendengar bocah itu harus ternodai oleh ucapan sialan tadi malam.


"Terus Rayan denger apa lagi sayang," pancing Nuri.


"Gak ada, Ma, soalnya mbak Inah langsung ngajak Rayan ke kamar. Kata mbak Inah Mama lagi di hukum sama Papa. Hutf... Papa ternyata jahat," gerutu Brayan.


Nuri dan Agung hanya memperhatikan keduanya anaknya bermain prosotan di area taman bermain. Keduanya terlihat sangat bahagia bisa memberikan sebagian waktunya untuk sang buah hati meski keduanya memiliki waktu yang sibuk setiap harinya.


"Denger tuh, Mas! Jangan ngasal mulai sekarang! anak kita udah besar, gak malu apa di dengerin sama anak?" protes Nuri.


"Didengerin apa, Ai?" tanya Agung pura pura.


"Ih, nyebelin banget sih kamu, Mas." Nuri memilih menggelitiki perut Agung, membuatnya tertawa dan meminta ampun namun siapa sangka kedua bocah kecil itu malah ikut mengelitiki sang papa hingga pada akhirnya ketiga lelaki yang sangat berarti dalam hidup Nuri terjatuh rumput jepang yang ada di taman sambil tertawa lepas.


Nuri mengulum senyumnya. "Makasih, Mas. Hadirmu membawa dua lelaki yang sangat berarti dalam hidup ini."


Author. "Makasih, kalian semua udah mau mampir di cerita receh ini, mau baca, like komen bahkan tebar hadiah untuk Author. Author sangat berterima kasih meski endingnya kurang memuaskan untuk kalian."


Reader. "Ih, gak seru endingnya, harusnya bla...bla...bla."


Author. "Makasih komenya, kamu udah tebar hadih untuk Author belum?"


Reader. "Ih, gak jelas banget sih, Author ini! Ujung²nya minta di tampol hadiah."


Author. "Ya, gimana lagi, kalian bacanya gratis gak pake koin, cuma pake kuota aja, lha uthor nulis butuh mengkhayal berjam jam. Kadang pas kerja pun masih menghalu demi cerita ini. Butuh waktu hampir dua jam untuk menulis namun, hanya butuh 3 menit kalian baca. 'Kan gak ada salahnya kalian bagi koin kalian untuk uthor, hehehehe."


...SEKIAN...


...Alias...

__ADS_1


...E N D...


__ADS_2