
Perlahan Nuri membuka pintu kamar, di sana Agung sudah bersandarkan di kepala ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Sudah pulang tamunya?" tanya Agung tanpa ekspresi.
Nuri mengangkat kedua bahunya. "Udah, baru aja pulang. Kenapa? nyesel gak nganterin keluar?"
Agung menatap Nuri. Ia pun mencium aroma sesuatu. Sudah pasti mamanya telah bercerita kepada Nuri tentang Via.
"Itu muka kayak belum di setrika, sini biar ku cek dulu," goda Agung.
Sebenarnya Nuri masih merasa kesal. Maya sudah menceritakan siapa Via. Ternyata dia adalah mantan Agung. Mungkin jika Via tak pergi keluar negri mungkin Via tak akan menjadi mantan sang suaminya.
"Sudahlah, itu hanya masa lalu. Masa depanku sekarang adalah kamu." Agung menuntun Nuri duduk di ranjang.
"Aku tahu kamu sedang berada di mod kesal dan cemburu. Percaya di hatiku hanya ada kamu seorang."
Nuri menatap wajah teduh suaminya. "Pak, apa Bapak memiliki kepribadian ganda?" Entah mendapatkan dorongan darimana mulut Nuri berani mengucapkan.
Agung mengerutkan dahinya. "Maksud kamu?"
"Maksudnya, kenapa Bapak kadang marah marah gak jelas, kadang raja gombal, kadang baik banget. Nih, contohnya kayak tadi pas di kelas. Bapak sengaja nyindir Nuri- kan?" cerocos Nuri bak rem blong.
Agung terkekeh. "Kamu ini bisa aja."
"Nah, satu lagi kadang nyebut saya, kadang nyebut aku," gerutu Nuri.
"Jadi kamu masih kesal masalah di kelas tadi? Ini semua saya lakukan demi kebaikan kalian semua, terutama kamu. Saya tahu kamu sering kasih contekan, bukan hanya saat mata pelajaran saya saja, iya kan?" tuh kan lain lagi.
Nuri tercekat tak bisa menampik, memang benar itulah apa adanya.
"Sudahlah, ayo tidur! Besok kita jalan jalan mumpung libur."
***
"Pak, bangun! Bapak bilang kita mau jalan jalan," rengek Nuri. Selepas sholat subuh Agung memilih melanjutkan mimpinya kembali.
Agung pun membuka matanya, menatap Nuri telah berpakaian rapi.
"Pak, udah di tungguin Mama loh!"
__ADS_1
"Kok bisa?" tanya Agung.
"Bisalah, aku juga ajak Mama ikut. Kita mau jalan jalan kemana?"
"Hah?" Agung terperanjat.
Ah, dasar Nuri! Kenap harus mengajak Mama, aku hanya ingin jalan berdua.
***
Terik panas tak menyurutkan semangat Nuri untuk menjelajahi Malioboro, pusat perbelanjaan terbesar di kota Yogjakarta. Meski terbilang dekat namum bisa di katakan Nuri tak pernah pergi ke sana. Pernah beberapa kali, itu pun hanya melintas sekilas. Dan hari ini, dirinya benar benar bisa menjelajahi setiap sudutnya.
Maya sudah menyerah, mertua Nuri merasa menyesal mengiyakan ajakan menantunya tanpa bertanya akan jalan kemana.
Terlihat Nuri mencoba beberapa aksesoris.
"Bagus gak, Pak?" Pertanyaan Nuri setiap kali mencoba dagangan para kaki lima.
Agung hanya mengangguk pelan.
Berjalan bergandengan menyusuri lorong, di mana kanan kirinya menyajikan dagangannya.
Langkah Nuri terhenti.
"Ambilah, jika suka," ucap Agung.
Mendapat lampu hijau, Nuri memilih empat.
"Kamu mau jualan," ejek Agung.
Nuri tertawa. "Buat apa jualan, Pak? kan bapak udah kaya. Ini buat tiga srikandi di asrama."
Belum puas, Nuri memilih milih baju. Namun, sayang baju itu tak ada yang berlengan panjang.
Karena sudah sreg dengan pilihannya, Nuri mengambil dua buah kaos bertulis I Love Malioboro.
Satu untuknya, satu lagu untuk Agung.
"Kok dua untuk siapa? Mas Adam dan azam?" tanya Agung.
__ADS_1
Nuri menggeleng. "Buat kita lah Pak. Biar bisa couplean. Bapak gimana sih," gerutu Nuri.
Agung malah tertawa. Tidak yakin jika Nuri akan memakainya.
Tak hilang akal, Nuri pun masuk ke toko. Membeli dua buah manset.
Tak lupa membeli pernak pernik aksesoris, Nuri juga membelikan baju untuk Dayu dan Maya.
***
"Pulang kita?" tanya Maya ketika Nuri menghampirinya.
"Belum dong, Ma. Kita ke Monumen Jogja Kembali, ya Pak." Nuri menoleh ke arah suaminya.
Agung menghela nafas. "Jauh dari sini, yang dekat ajalah. Em, gimana kalau ke Bonbin Gembira Loka," saran Agung.
"Oh, no! Mama tidak setuju! Gimana kalau ke Taman Pintar?" Entah mau apa mengajukan ide seperti itu.
"Ma, Taman Pintar itu untuk anak anak. Kita mau ngapain ke sana?" ucap Nuri.
"Tidak ada salahnya, kita lihat Dinosaurus."
"Mama," teriak Agun dan Nuri bersamaan.
****
Nuri masih cemberut merasa kesal. Gagal ke Monjali, ke Gembira Loka. Jika bukan karena perdebatan dengan mertuanya, Nuri bakalan ngotot dengan pendirian.
Semua gara gara Mama. Belum juga puas jalan jalan udah pulang. Coba aja tadi pagi Mama gak ku ajak, pasti aku masih jalan jalan sampai puas.
Kat itu tak mampu Nuri ucapkan. Hanya tertahan di tenggorokan saja.
Sementara Agung merasakan hal yang sama seperti Nuri namun, demi sang Mama ia memilih pulang agar tak terjadi perdebatan sepanjang masa.
.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continue