Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Menunggang Kuda


__ADS_3

Agung menepikan mobilnya di depan warung makan. Nuri mengikuti langkah suaminya yang sudah mulai berjalan masuk kedalam.


"Mas, kita mau ngapain kesini?" Nuri telah menyamakan langkahnya deng Agung.


Lelaki itu menata Nuri lalu menggandeng tangannya untuk segera masuk.


"Kita makan dulu, udah puku dua kita belum makan siang." Agung membawa Nuri ke sebuah meja. "Kamu tunggu disini," titahnya sesaat.


Agung berdiri lalu menghampiri pemilik warung tersebut. Wanita paruh baya itu tersenyum dan mengangguk mendengarkan Agung berbicara.


Tak lama satu persatu hidangan disajikan di meja Nuri.


Nasi satu wakul, ikan panggang berserta lalapannya lengkap.


"Kamu mau makan pakai apa?" tanya Agung.


"Samakan aja lah, Mas," jawab Nuri.


Meski hanya di sebuah warung kecil, tak membuat Nuri merasa kecewa. Agung melihat Nuri kesulitan untuk menyingkirkan duri duri ikan.


"Sini," Agung menarik piring yang berisi ikan panggang. Dengan penuh telaten, Agung mengambil duri duri ikan lalu meletakkan di piring Nuri. Gadis itu tersenyum melihat perlakuan manis suaminya.


"Terimakasih," ucap Nuri yang detik kemudian.


"Hem. Apa kamu gak pernah makan ikan panggang?"


"Pernah sih, Mas. Kenapa?" tanya Nuri kembali.


"Gak ada, cuma nanya aja soalnya ngambil duri gitu aja gak bisa." Agung sedikit mengejek.


Nuri mendengus kesal. Sebenarnya gadis itu suka makan, tak memilih makanan yang penting bisa membuatnya kenyang.


Sebenarnya Nuri bukan tak bisa mengambil duri ikan, hanya saja geraknya lambat.


Tanpa menunggu lama, hidangan di atas meja ludes, bahkan Nuri menambah dua kali. Ia tak merasa malu meski di hadapan Agung. Malu tak akan membuat perut kenyang.


Nuri melihat nasi yang menempel di pinggir bibir Agung. Mengambil tisu, tangan Nuri terarah untuk mengelapnya.


Saat tangan Nuri sudah mampu menjangkau bibir Agung, lelaki itu malah mencekal tangan Nuri. Mata mereka bersitatap. Entah apa yang di pikirkan oleh sepasang pasutri muda itu hingga seorang pelayan datang untuk membereskan meja.

__ADS_1


Sadar akan kehadiran pelayan, keduanya segera melepaskan tangan masing masing.


"Sudah, ayo berangkat!" Agung berjalan menuju kasir, sementara Nuri masih merasa malu dengan pelayanan yang sedari tadi senyam senyum sendiri sambil membereskan piring bekas sepasang suami istri itu.


Setelah membayar pemilik warung makan berterimakasih untuk kunjungan mereka.


"Matur suwun, Mas. Saya doakan Mas dan Mbak di paringi rejeki melimpah. Jangan lama lama Mas, nanti ditikung mantan," seloroh sang pemilik warung dengan logat khas jogja.


Agung mengangguk lalu tersenyum. "Sampun kulo halalkan, Bu." ( Sudah saya halalkan, Bu )


...


Meski mata Nuri berat, ia menahan sebisa mungkin tak memejamkan mata sebab sebentar lagi mereka akan sampai.


"Masih panas, Mas," ucap Nuri saat mereka telah sampai di sebuah parkiran.


"Ayo!" Agung meraih tangan Nuri, lalu menggenggamnya mesra.


Walaupun terik menyengat, ternyata banyak para pengunjung yang rela berpanas panasan untuk bermain pasir di pinggir pantai. Ada juga dari mereka menunggang kuda, hingga naik delman.


Agung mendekat ke seorang penjual kacamata keliling. Setelah memilih kacamata yang sesuai keinginannya, Agung segera mengambil dua lalu membayar dengan uang limapuluhan.


"Buat Bapak saja, mudah mudahan laris ya, Pak."


Penjual itu merasa bersyukur, ia mendoakan Agung murah rejekinya.


Agung memasangkan kacamata kepada Nuri. Gadis itu merasa sedikit terkejut.


"Biar gak silau," ucap Agung.


"Kamu pernah menunggang kuda?" tanya Agung kembali. Nuri hanya menggeleng.


"Baiklah, mari kita menunggang kuda bersama!"


Keduanya berjalan beriringan, berpapasan dengan berbagi pengunjung berbagai usia, dari anak anak hingga orang tua.


Keduanya melewati sekelompok pemuda yang duduk di pasiran. Saat Nuri berjalan di depan pemuda tersebut, Nuri mendapat sian.


"Suittt suuitt."

__ADS_1


"Cewek."


Agung menoleh kearah tiga pemuda yang sedang menggoda istrinya. Membuka kacamata, Agung segera menatap ketiga pemuda tersebut.


Seketika membuat nyali mereka menciut.


"Maksud kalian apa godain istri orang?"


Nuri ingin tertawa melihat Agung telah bertolak pinggang.


"Anu, Mas. Kami minta maaf." ucap salah satu pemuda yang menyiul Nuri.


Nuri tersenyum dengan kelakuan Agung saat ini.


Ia terlihat sangat marah hanya masalah seperti itu.


"Awas kalian ulangi lagi!" ancam Agung kemuduan berlalu. Kini Agung menggelayutkan di lengan Nuri dengan posesif. Memberi isyarat kepada para mata yang memandang, bahwa Nuri adalah miliknya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan Lupa jejaknya, biar semangat Nulis.

__ADS_1


Kasih hadiah juga boleh, biar bisa beli coklat palentin besok hehehehe.


__ADS_2