
Pagi ini dengan berat Agung harus meninggalkan Nuri di rumah. Meski Nuri telah libur namun, tidak denan Agung, suaminya harus tetap mengajar di pondok.
Nuri menemani Agung sarapan. Menatap lekat lelaki yang berada di hadapannya yang telah rapi dengan baju khas mengajarnya. Kemeja putih serta celana berwarna hitam.
"Kenapa? ada yang salah?" Merasa bahwa Nuri mengamati dirinya, Agung menghentikan kegiatan menyuap.
Sambil menggeleng dan tersenyum. "Gak ada, cuma pengen aja ngelihatin aja masa gak boleh."
Agung mengangguk. Segera menyelesaikan sarapannya.
"Kamu gak papakan di rumah sama Mbak Mar?" tanya Agung. Lelaki itu sudah berada di depan pintu hendak segera berangkat ke pondok.
"Iya, gak papa, Mas. Ini bekalnya." Nuri menyerahkan kotak bekal berukuran sedang.
"Gak usah, nanti aku usahakan setelah siap mengajar akan segera pulang." tolak Agung.
"Tapi..." Belum sempat Nuri menyelesaikan ucapannya, Agung telah mendaratkan kecupan di keningnya.
"Sudah, aku berangkat ya." Mendengar ucapan Agung, Nuri segera mengulurkan tangannya untuk menyalami sang suami.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Agung tersenyum lalu melambaikan tangannya. Nuri yang masih berdiri di teras pun membalas lambaian tangan Agung.
Sunyi, rumah sebesar ini hanya ada beberapa orang saja di dalamnya. Nuri tak meragukan lagi ke megahan rumah serta isinya namun, buat apa jika terasa hampa.
Kali ini Mbak tengah menata belanjaan di dapur namun, di sana ada dua orang wanita bersamanya. Nuri yang penasaran pun menghampirinya.
"Eh, Mbak Nuri? ada yng bisa di bantu? tanya Mbak Mar.
Nuri menggeleng. "Sini biar aku bantu," tawar Nuri.
Mbak Mar mencegah. "Tidak, Mbak. Nanti nyonya marah. Sesuai amanat, Mbak Nuri di larang memegang perkakas di dapur."
Nuri mengernyitkan dahinya. Apa maksud mertuanya, setiap kali ia di larang membantu mengerjakan sesuatu, meski hanya untuk menata sayuran.
Nuri tak mendengarkan ucapan mbak Mar. Ia memaksakan tangannya untuk tetap menata sayuran di kulkas.
"Masa iya, kayak gini aja gak boleh. Jadi aku harus apa di rumah sebesar ini? asal kalian tak mengadu, Mama gak akan tahu 'kan?" Oceh Nuri.
__ADS_1
"Siapa bilang, Mbak. Nyonya tahu semuanya, kecuali kamar atas. Sebab seluruh ruangan ini sudah di pasang cctv." kata mbak Mar pelan.
Tangan Nuri terhenti, what cctv? Jadi semua kegiatanya terekam.
"Tenang, mbak. Cctv hanya ada di lantai bawah. Lantai atas bersih tak ada cctvnya," ucap Mbak Mar sambil tersenyum.
Nuri mengambil gelas, menuangkan air kedalamnya. Dia benar benar merasa lemas, mengingat ingat, apakah ada kegiatan mesumnya dengan sang suami.Sepertinya tidak ada.
"Oh, ya mbak, ini kenalkan mbok Yanti dan Santi, mereka yang akan membersihkan rumah ini." ucap Mbak Mar. Nuri mengangguk lalu tersenyum kepada dua orang yang sudah siap untuk mengerjakan tugasnya.
Terpaksa Nuri hanya mengikuti mbak Mar. Dari cerita Mbak Mar, kedua orang yang bernama mbak Yanti dan Santi hanya bekerja setengah hari saja. Hanya membersihkan rumah namun, hanya lantai bawah yang mereka bersihkan.
Lantai atas hanya Mbak Mar yang boleh menjamahnya.
Nuri sangat yakin bahwa Mbak Mar adalah orang kepercayaan mertunya. Semenjak temannya berhenti bekerja, Maya memilih mengmbil pekerjaan paruh waktu untuk membantunya membereskan rumah.
Setelah sholat Dzuhur, Nuri memilih mengurung diri di kamarnya. Menyalakan televisi namun, tangnnya dan matanya hanya fokus terhadap benda canggih di tangannya.
Jari jarinya dengan lihai mengetik huruf di papan keyboard. Sesekali ia harus tertawa saat membaca pesan masuk, pesan siapa lagi jika bukan pesan dari ketiga Srikandi itu.
Tepat pukul satu siang, deru mesin mobil terhenti di pekarangan rumah. Nuri melihat dari jendela, memastikan siapa yang datang. Wajahnya kian berbinar saat Agung lah yang keluar dari dalam mobil.
Setelah menjawab salam, dengan segera Nuri membuka pintu, menyambut kedatangan suaminya.
"Kenapa? Sebegitu bahagiakah kamu melihat suami handsome ini pulang?"
Semenjak mendengar ada cctv, Nuri lebih menjaga dirinya. Walau sebenarnya ingin segera memeluk Agung, Nuri menahannya hingga sampai di kamar nanti.
"Mas, mau mandi atau makan dulu?" tanya Nuri.
"Mandi dulu, tadi belum sempat sholat Dzuhur," jawab Agung.
Keduanya berjalan menaiki anak tangga.
Agung berjalan sambil membuka dua kancing kemeja bagian atas.
Setelah menutup pintu kamar, Nuri segera berbalik, memutar Arah lalu menubruk tubuh Agung. Menghirup aroma maskulin lalu menenggelamkan kepalanya ke depan dada Agung.
__ADS_1
"Ada apa?" Dengan refleks, Agung menangkap tubuh Nuri dalam pelukannya. Dirinya terheran dengan sikap Nuri yang tiba tiba agresif menurutnya
"Kangen, Mas." lirihnya. Agung tertawa lalu mengecup pucuk kepala yang di balut dengan jilbab itu.
"Apakah si bulan sudah pergi?" bisik Agung.
Sejenak Nuri terdiam untuk mengartikan ucapan suaminya.
Nuri sudah pasti si bulan yang di maksud oleh suaminya adalah si bulan yang sedang datang. Nuri tertawa geli, gadis itu menggeleng lemah.
Agung mendesah kesal, melepaskan pelukannya, lalu menatap istrinya dengm lekat.
"Aku akan sabar menunggu si bulan pergi, setelah itu aku tak akan mengampunimu sampai dia datang lagi." Agung memiringkan wajahnya untuk menyentuh bibir Nuri.
Dan selanjutnya seperti biasa......
.
.
.
.
.
.
Tap Like, tinggalkan jejak.
Udah gak sabar untuk mencetak bola ke gawang.
Untuk sebelumnya uthor minta maaf jika judul tak seauai dengan isinya. Sebenarnya cerita ini tidak bercerita tentang pesantren, namun karena sistem Boarding school atau sekolah ber- asrama di sebuah pondok pesantren maka seperti itu lah judul ceritanya.
Jika ada yang keberatan dengan judul dan alur, Uthor banyak² meminta maaf, Cerita ini sudah tidak bisa di ganti judulnya, sebab sudah terlanjut terkontrak.
Terimakasih sebelumnya untuk kalian para reader setiaku. Tanpa kalian, mungkin cerita ini hanya akan haitus begitu saja.
__ADS_1
Selamat sore, selamat malam mingguan.