Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Bukan Plagiator


__ADS_3

Semua peserta ujin mengucap syukur tatkala bel nyaring di telinga.


Bel tersebut menandakan berakhirnya UAS yang mereka lalui. Hanya tinggal ujian praktet, setelah itu hanya menunggu pengumuman kelulusan.


Siang ini Haris Haris dan Bayu sengaja keluar dari asrama laki laki, niatnya ingin bertemu ustadz Hanaf tapi langkahnya terhenti di depan pendopo tempat di laksanakan beberapa kegiatan.


Ternyata Ratna dan Galih beserta yang lainnya sedang berada disana, mereka sibuk merangkai kerajinan tangan.


Kak Zakiah dengan telaten memberi arahan dan cara cara merangkai kerajinan tersebut.


"Eh, ada Galih. Kesana yuk, Ris!" Bayu segera melangkah menuju atas pendopo.


Mengamati dengan seksama, Bayu ternaya juga tertarik dengan kegitan tersebut. Namun, tidak dengan Haris, laki laki itu sama sekali tak tertarik.


"Kak, saya boleh bergabung?" tanya Bayu.


Tentu saja tak ada yang melarang, kak Zakiah mengiyakan saja. Sesekali Bayu mencuri pandangan kearah Galih, keduanya tersenyum ketika pandangan mereka bertemu. Nuri menyadari Bayu hanya modus, iapun segera menggeser duduknya agar Bayu tak bisa melihat Galih dengan jelas.


"Rasain." Nuri tertawa dalam hati.


Nuri melihat kearah Bayu lalu menjulurkan lidahnya.


Bayu memalingkn wajahnya. "Ah, dasar Nuri keterlaluan," gerutunya.


Sontak Haris pun ikut tertawa pelan.


"Tolong yang di belakang jngan berisik!" tegur kak Zakiah.


Kegiatan yang di lakukan Zakiah mengundang perhatian beberapa guru lainnya, termasuk pasukan triple A. Adam, Azam dan Agung..


Ketiganya pun ikut berbaur bersama para murid dalam merangkai kerajinan tersebut.


Sebuah kesempatan emas bagi Agung, sumi dari Nuri segera menghampiri Nuri yang terlihat sangat fokus.

__ADS_1


"Salah! Bukan begitu caranya." Agung mengagetkan Nuri.


"Ba... Bapak, sejak kapan disini?" tanya Nuri gagap.


Agung hanya tersenyum lalu mengambil alih kerajinan itu dari tangan Nuri.


"Begini." Agung meneruskan anyaman Nuri.


Tentu saja Agung lebih tahu sebab, ia juga pernah membuatnya pada saal MOS dahulu. Ingatannya masih begitu tajam hingga saar ini.


"Bapak bisa?" Nuri berbunga saat melihat karya Agung sudah hampir selesai.


Agung hanya mengangguk. "Nih, teruskan!" Agung menyerahkn ayaman yang sebentar lagi siap ke tangn Nuri. "Kamu harus bisa!" lanjutnya lagi.


"Yaelah, Pak. Kirain mau dibantu sampai siap," decak Nuri.


"Kalau saya yang buat semuanya, berarti itu bukan karya asli kamu dong! Sama aja kayak plagiator," ucap Agung.


"Ini bukan sebuah cerita ataupun Novel, Pak! Masa iya, disamain sama plagiator." Nuri tak terima jika dirinya disamakan epert2 plagiator yang suka mencuri karya orang lain lalu di tambal sulam menjadi miliknya.


Zakiah tersenyum manis kepada Agung. Entah Agung sadar atau tidak bahwa tatapan dari kal Zakiah mengartikan sesuatu yng berbeda.


"Eh, coba lihat! Cocokan kalau pka Agung bersanding dengan kk Zakiah?" celetuk salah seorang temannya.


"Iya, seras malah. Aku berdoa semoga mereka segera menuju kepelaminan." Salah seorang mengompori.


"Jangan gitu dong! nanti ada yang patah hati," sindir Tika. Sontak keduanya teman tadi menatap Tika dengan jiwa kepo.


"Eh, siapa nih, yang patah hati?"


"Jangan sembarang kamu, Tik. Mereka sama sama single," sahut Syifa. Gadis yang selama ini jarang berinteraksi dengannha, tibaa tiba ikut nimbrung. Ada apa dengannya, bati Tika.


......

__ADS_1


Andaikan saja Nuri tak tinggal di lingkungan pondok, ia akan segera menegur Agung dan kak Zakiah. Begitu juga ia ingin menyumpal mulut Syifa dengan sendal jepitnya.


"Sabar," keluhnya.


Kini Nuri berada di kamar. Melipat baju yang dua hari lalu ia cuci. Saat memasukkan baju kedalam koper, matanya tertuju pada bungkusan plastik hitam yang betada di dalam kopernya.


"Apa ini ya?" Nuri mengambil kantong tersebut.


"Astaga, aku sampai lupa."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mana nih suara kalian.


Tap, tap, tap, seperti biasa.


Oh ya, uthor punya Ig, tapi jarang di buka. Mana tahu kalian mau follow.

__ADS_1


ig : 👉🏻 green_teaa07


__ADS_2